Langkat merupakan sebuah wilayah pemerintahan kabupaten pesisir timur Sumatera Utara yang sangat identik dengan kebudayaan Melayu dan panganan manisan berbahan buah dan sayuran yang dinamakan Halua. Manisan halua merupakan kuliner ciri khas masyarakat melayu terkhususnya di Kabupaten Langkat sebagai daerah pusat panganan manisan tersebut. 

Budaya Melayu yang bercorak agama Islam menjadikan disetiap budaya, adat istiadat serta kaidah bahasa yang digunakan dipengaruhi dari budaya Islam. Penamaan halua dikaitkan berdasarkan kosakata dasar bahasa arab Halwa yang memiliki arti “manisan” sehingga kata tersebut diserap menjadi halua sebagai penyebutan kuliner manisan khas melayu tersebut.

Secara geografis, penyebaran kultur budaya manisan halua tersebar di wilayah Sumatera Timur baik Langkat yang terpusat di Kota Stabat, Hamparan Perak, Paya Geli, Tanjung Selamat, Labuhan Deli, Kota Medan, Serdang Bedagai, Tebingtinggi, Batubara, Asahan, Tanjung Balai, Labuhan Batu, Kota Pinang hingga ke Kepulauan Riau. 

Hal tersebut dikarenakan kedekatan antara kesultanan melayu dari Langkat hingga ke Kepulauan Riau menjadikan manisan halua ciri khas budaya melayu.

Manisan halua merupakan manisan yang berbahan dasar buah-buahan dan sayuran yang banyak tumbuh dipesisir timur Sumatera seperti pepaya, cabai, labu, wortel, terong, kolang-kaling, buah gundur, buah gelugur dan lain sebagainya. 

Pengolahan manisan halua dilakukan dengan memotong buah-buahan dan sayuran yang sesuai. Selanjutnya, dicampur gula putih yang telah dipanaskan dan diendapkan langsung untuk beberapa hari. Kemudian siap untuk dikonsumsi dihidangkan kepada tamu.

Manisan halua sering disajikan saat perayaan lebaran, pernikahan dan adat istiadat. Keberadaan manisan halua kini mulai sulit ditemukan bahkan untuk di perayaan hari-hari besar juga sudah jarang ditemui.

Hal tersebut menjadi kekhawatiran sendiri mengingat bahwa manisan halua merupakan kuliner budaya melayu yang diwariskan secara turun-temurun. Selain itu, ahli waris atau para terampil yang menguasai pengolahan manisan halua berada pada usia lanjut sehingga rentan tidak ada generasi penerus oleh kalangan muda.

Banyaknya kalangan muda yang tidak mengetahui dan terkesan tidak peduli pada manisan halua mengakibatkan keberadaan manisan halua memudar diakibatkan oleh panganan manisan modern. Selain itu, para terampil manisan halua juga memiliki kesulitan untuk memasarkan produk manisan tersebut sehingga banyaknya yang pengusaha dan para terampil gulung tikar karena sulit mendapatkan untung. 

Meskipun demikian, masih ada beberapa para terampil manisan halua yang masih bertahan dari generasi ke generasi yang telah membuktikan bahwa eksistensi manisan halua belum punah tetapi sangat memprihatinkan dan khawatir akan hilang dari tradisi budaya melayu.

Dinamika perubahan zaman meggantikan panganan tradisional menjadi panganan modern dalam kegiatan perayaan adat memberikan dampak selera masyarakat berubah dan manisan halua pun rentan menghilang.

Melestarikan manisan halua dengan mengembalikan eksistensi panganan tradisional tersebut ke masyarakat terutama kalangan muda sangatlah penting agar tetap terjaga turun-temurun. Selain itu, hal tersebut berpotensi menghidupkan perekonomian masyarakat sehingga taraf hidup masyarakat lebih baik.

Potensi lain yang menguntungkan adalah menjadikan Langkat sebagai pusat wisata kuliner manisan halua sehingga menjadi daya tarik tersendiri para wisatawan untuk berkunjung menikmati manisan halua selain menjelajahi keindahan alam Langkat yang akan berdampak pada peningkatan pendapatan asli daerah.

Begitu besarnya potensi dari panganan tradisional tersebut akan menjadi sia-sia jika tidak ada kesadaran untuk melestarikan kuliner khas melayu tersebut tanpa didukung oleh masyarakat dan pemerintah terkhususnya. Adanya pendampingan dari pemerintah kepada masyarakat untuk melestarikan kuliner tersebut sangatlah diharapkan.

Perencanaan program diharapkan muncul dalam kebijakan pemerintah Kabupaten Langkat. Langkah yang menarik sebagai sebuah usulan dalam melestarikan manisan halua dengan meningkatkan konsumsi dan kesadaran panganan tradisional di masyarakat. Selain itu, mengupayakan agar ketersediaan manisan halua mecukupi dan mudah dijumpai serta memiliki target agar pemasaran manisan halua bisa menembus pasar nasional dan internasional.

Langkah pendampingan oleh pemerintah kepada masyarakat dapat memberikan sosialisasi akan pentingnya panganan lokal sehingga menimbulkan kesadaran untuk berpartisipasi melestarikan kuliner khas tersebut. Selain itu, mengadakan sebuah workshop atau pelatihan dalam mengolah manisan halua sehingga memunculkan pengusaha baru dan pengrajin yang terampil. 

Keberlanjutan peran pemerintah diharapkan tetap berlangsung dengan memberikan edukasi dan strategi pemasaran yang baik bagi para pengusaha manisan halua. Pemasaran yang baik melalui kegiatan kirab budaya daerah dan sebagainya dengan sekaligus melakukan promosi merupakan salah satu media yang sederhana. 

Perkembangan teknologi saat ini telah memberikan dampak yang sangat signifikan bagi masyarakat dalam mengakses internet. Hal ini tentu menjadi strategi tersendiri untuk memasarkan produk manisan halua melalui media internet yang dinamakan e-commerce

Berbagai situs yang menawarkan fasilitas untuk mempromosikan produk-produk yang memudahkan masyarakat daerah lain dan masyarakat Internasional untuk mengenal kuliner khas melayu dan membeli produk manisan tersebut. 

Alhasil, melestarikan manisan halua memberikan keuntungan yang sangat banyak. Tentu atas dasar kesadaran masyarakat melestarikan kuliner khas Langkat juga mendukung kemandirian perekonomian masyarakat itu sendiri.