Jumat (24/4) lalu di awal Ramadan, ungkapan belasungkawa mengiringi kepergian Ibrahim Amini untuk selamanya. Amini, panggilannya, mengembuskan napas terakhirnya di Rumah Sakit Behesti Qom, Iran. Setelah beberapa hari menjalani serangkaian perawatan medis, akhirnya nyawanya tak dapat ditolong. Dan, di usia 95 tahun, dia mangkat menuju kehidupan selanjutnya, sebagaimana keyakinannya.

Sepeninggalnya, masih banyak yang tak menyangka bahwa dia kini telah tiada. Usianya yang senja hampir seabad mestinya dapat memaklumi kepergiannya. Akan tetapi, perpisahan tidak pernah mudah direlakan oleh semua orang. Kapan pun dia datang, dan manusia tak pernah menyiapkannya.

Mengenang Amini bagi generasi yang sekarang menginjak usia 20-an akan membuatnya terpental ke masa 17 tahun silam. Pada waktu itu, bukunya yang berjudul “Belajar Sambil Bermain” baru saja dialihbahasakan oleh Sulistyowati pada 2003. Buku yang terdiri dalam empat seri itu adalah karyanya yang didedikasikan untuk anak-anak dari karya-karyanya yang lain.

Meski namanya tak sementereng A.A. Milne yang menuliskan “The Winnie The Pooh ataupun Enid Blyton dengan kisah “Lima Sekawan”, namun karya Amini juga banyak dikenal di dunia. Dalam laman ibrahimamini.com, bukunya yang berbahasa Persia ini telah dialihbahasakan ke delapan bahasa. Bahkan, di Indonesia, bukunya telah dicetak hingga dua kali.

Sebagai penulis berlatar belakang muslim, melalui bukunya itu, Amini banyak menyampaikan pelajaran agama Islam, akhlak, dan pengetahuan umum. Unsur-unsur itu ia rangkum dalam ulasan yang sederhana untuk anak-anak. 

Padahal, pelajaran agama, seperti ketuhanan, kenabian, apalagi akhlak, tidaklah mudah untuk dipahami anak-anak. Tetapi, disertai gambar-gambar kartun yang menarik dan bahasa tulisan yang interaktif, dia mampu membuatnya ringan dicerna oleh anak-anak.

Amini dan Kisah Anak-Anak

Ada satu kisah menarik dalam bukunya tentang “menjaga kebersihan lingkungan”. Bercerita tentang pohon, Amini menguraikan manfaatnya. “Pepohonan membersihkan udara dan memberikan buah-buahan serta sebagai tempat berteduh dan banyak memiliki manfaat lainnya,” terangnya.

Lalu, “apabila seseorang menanam sebatang pohon yang memberikan buah terus-menerus, dia akan diberi pahala untuk masing-masing buah tersebut,” ajaknya untuk menanam pohon. Sebagaimana dalam keyakinannya, pahala adalah ganjaran atas perbuatan baik.

Dalam kisah itu, kemudian digambarkan bahwa ajakan penanaman pohon mampu memberi manfaat yang besar bagi sebuah desa. “Sebagai hasilnya, seperti yang kamu lihat, desa kami dipenuhi dengan pohon-pohon yang hijau dan subur serta buah-buahan,” ungkap seorang anak kecil, salah satu tokoh dalam kisah ini.

Masih banyak lagi kisah-kisah dalam bukunya yang Amini sampaikan dengan perumpamaan benda-benda di sekitar kita. Kemampuannya dalam mengurai permasalahan hingga menerjemahkannya dalam tindakan memang menjadi kelebihannya. Termasuk, caranya menjelaskan manfaat dan ajakan menanam pohon untuk menjaga kebersihan lingkungan.

Padahal, jika ditelisik masa kecilnya, Amini tidaklah seberuntung anak-anak lain pada umumnya. Di umur enam tahun, ayahnya meninggal dunia sehingga Amini kecil sudah menjadi yatim. 

Namun demikian, keinginannya untuk terus menimba ilmu tidaklah surut. Malah, setelah menyelesaikan pendidikan di bangku SD, ia langsung bertolak dari tempat tinggalnya, Najaf Abad, sebuah daerah pinggiran di Iran, menuju Qom untuk melanjutkan sekolah.

Kemudian, dari waktu ke waktu, Amini menamatkan pendidikannya hingga jenjang perguruan tinggi. Bahkan, setelah itu, dia menjadi pengajar disana di kajian agama Islam. Tak dinyana, ternyata dia sebenarnya adalah seorang ulama terkenal di negara asalnya.

Melansir dari parstoday.com, media berita Iran berbahasa Indonesia, saking karismatiknya sosok Amini, dia kemudian diamanahi menjadi Imam Salat Jumat di kota Qom, juga anggota Dewan Ahli Kepemimpinan Iran. Bahkan, di kalangan sesama ulama, sosoknya juga cukup disegani.

Dibeberkan oleh Darush Ghanbari, analis politik dan mantan anggota parlemen Iran, dia mengatakan, “Amini sangat dihormati di antara semua ulama di majelis (Dewan Ahli Kepemimpinan Iran),” katanya, dikutip dari al-monitor.com, media Timur Tengah.

Meski demikian, Amini justru menaruh perhatian besar pada pendidikan anak dan parenting. Bukunya tadi yang ia tulis dalam empat seri menjadi cerminan produktivitasnya dalam mengkaji bidang itu. 

Ismail Amin, Ketua Ikatan Pelajar Indonesia (IPI) Iran, dalam tulisannya “Bahagia dan Celakanya Anak-Anak di Tangan Orang Tua“, mengatakan bahwa ketimbang menjadi ahli suluk, Amini lebih fokus pada permasalahan parenting dan anak, dari laman ipiiran.org.

Hingga sekarang, keilmuan Amini masyhur di berbagai belahan dunia. Buku-bukunya bahkan ditelaah di kampus-kampus Eropa, misalnya “Islam and Western”. Oleh karenanya, dia lebih dikenal sebagai ilmuwan Iran terkemuka. Kata Ismail, tak seperti ulama lainnya, Amini tidak pernah mencantumkan gelar keulamaannya di setiap bukunya.

Tak ayal jika keteladanan sosok Amini banyak dikagumi orang-orang. Tidak hanya dikenal sebagai pakar, tetapi dia juga tidak segan turun tangan langsung mengatasi permasalahan di bidang anak dan parenting di negaranya. Dalam ibrahimamini.com, dia mengutarakan keseriusannya sebagai peneliti sekaligus konsultan di bidang itu.

Padahal, jauh sebelum itu, Amini sudah menjadi ahli tasawuf tersohor. Bahkan, sudah banyak tawaran yang datang kepadanya untuk menjadi pengajar tasawuf di kampus-kampus di Iran. Akan tetapi, sedikitnya pakar dalam bidang anak dan parenting di negaranya membuatnya lebih memilih berkecimpung di bidang itu.

Bahkan, hingga akhir hayatnya, tidak ada yang menyangkal betapa besar perhatiannya terhadap perkembangan dunia anak dan parenting. Sampai akhirnya, ajal menghentikan kiprah Amini. Tetapi tidak dengan kisah-kisahnya yang tidak lekang oleh zaman untuk terus dikenang. Selamat jalan, Amini.