Peneliti
1 tahun lalu · 41 view · 4 menit baca · Politik 18296.jpg

Melekatkan Pancasila dalam Pillkada Kota Serang 2018

Sebanyak 17 provinsi, 39 kota dan 15 kapubaten di Indonesia sebentar lagi, tepatnya 27 Juni 2018,  akan melangsungkan pesta demokrasi akbar yakni pilkada serentak 2018. Segala persiapan dan tahapannya sudah dimulai Bulan Agustus 2017, kini. Namun, persaingan antarcalon kepala daerah baik tingkat provinsi, kabupaten atau kota jauh sebelumnya sudah memanas. Perang lewat baliho atau spanduk sudah dimulai dan terus akan memanas hingga tahapan pencoblosan nanti.

Salah satu kota yang akan mengikuti pesta demokrasi akbar tersebut adalah Kota Serang. Masyarakat Banten, khususnya Kota Serang, tentunya harus menjadi pelopor melaksanakan pemilihan walikota secara baik dan konsekuen sesuai dengan Pancasila. Artinya, nilai Pancasila yang terdapat dalam sila keempat, “Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat dan kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan” diimplementasikan dengan baik dan benar dalam pelaksanaan pesta demokrasi di atas.

Sistem perwakilan dalam pemilihan kepala daerah memang sudah diubah menjadi sistem langsung, namun spirit musyawarah tetap menjadi nafas dari sila keempat Pancasila tersebut. Hal ini mengindikasikan bahwa pemilihan walikota Serang tidak akan membawa kegaduhan dan konflik baik vertikal maupun horisontal. Sejatinya, pemilihan walikota tersebut menjadi media saling mengenal, memahami, mencintai dan menyayangi antarsesama warga Kota Serang, Banten, melalui musyawarah untuk mencapai kemufakatan.

Secara faktual, pemilihan kepala daerah baik di tingkat pusat maupun daerah di Nusantara cenderung bertolak belakang dengan yang diharapkan di atas. Jauh dari cita-cita yang ingin dicapai, pula jauh dari nilai-nilai Pancasila. Pemilihan kepala daerah cenderung didominasi oleh saling mencurigai, menghasut, mencaci maki, bully, hingga kekerasan fisik antar pendukung calon kepala daerah pun tak terhindarkan. Sebuah potret pesta demokrasi yang kebablasan. Jauh panggang dari api.

Kota Serang, sekali lagi, seharusnya menjadi pelopor pelaksanaan pemilihan walikota yang jauh dari tindakan-tindakan tercela. Utamakan nilai dan spirit sila keempat Pancasila dalam berpesta. Kota Serang Madani sebagai peserta pesta demokrasi pilkada serentak menunjukkan masyarakat dan kepala daerahnya sudah “madani” (baca: beradab), jauh dari perilaku barbar dalam berdemokrasi; korupsi, kolusi dan nepotisme.

Menakar Kandidat Pilihan

Masa pencoblosan pemilihan Walikota Serang memang masih dalam sepuluh bulan ke depan. Namun, para calon yang sudah beredar di masyarakat terhitung cukup banyak. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa iklim demokrasi di tanah jawara ini terlihat sehat.

Siapapun yang punya niat dan kepentingan untuk memajukan dan menyejahterakan warganya boleh mendaftar untuk menjadi orang nomor wahid. Dan KPUD sebagai penyelenggara pemilihan umum daerah pasti akan mengakomodasinya, tentu setelah melewati beberapa persyaratan dan tahapan.

Sebut saja misalnya nama Wahyudin Djahidi, seorang pengusaha muda Banten yang berani maju dalam Pilwalkot Serang 2018-2023. Ia menawarkan visi Kota Serang KEREN, yakni; kreatif, energik, religius, edukatif dan nyaman. Tentu, dengan sejumlah program yang menguatkan visi tersebut.

Nama lainnya adalah Yhannu Setyawan, seorang aktivis muda dengan segudang prestasi yang membanggakan. Visinya membawa Kota Serang Bermartabat. Ia pernah menjadi dosen, disamping juga menjadi dekan fakultas hukum UNMA Pandeglang. Aktivitasnya tidak jauh dari kajian dan riset. Salah satunya ia mendirikan Yuwana Skripta (YS) Institute  di awal tahun 2017, sebuah organisasi anak muda Banten yang konsen menghasilkan riset, pemberdayaan dan menebar ilmu pengetahuan.

Selain itu ia juga dikenal aktif dalam forum yang mendorong keterbukaan informasi publik. Maka wajar di tahun 2011 ia menjadi Ketua Komisi Informasi Provinsi Banten dan di tahun 2013 menjadi Komisioner di Komisi Informasi Pusat RI sebagai representasi unsur masyarakat sipil Provinsi Banten.  

Atau kita sebut nama berikutnya, yakni Ranta Soeharta, seorang birokrat dan ASN yang berpengalaman. Ia sudah malang melintang di pemerintahan daerah provinsi Banten. Jabatan terakhirnya kini adalah sebagai Sekretaris Daerah Provinsi Banten, setelah menggantikan Kurdi Matin yang menduduki jabatan tersebut sebelumnya. Sebelum menjadi Sekda Provinsi Banten, Ranta menjabat Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu (BKPMPT) Provinsi Banten.

Ranta mempunyai visi untuk Kota Serang sebagai pusat perdagangan dan jasa yang maju serta berakhlakul karimah. Selain itu, ia juga ingin mewujudkan kota serang sejahtera melalui pendidikan, kesehatan dan pembangunan infrastruktur. Visi misi tersebut ia paparkan pada tahapan penjaringan bakal calon dan wakil walikota Serang Partai Demokrat Kota Serang (1/8/2017)

Dan sejumlah nama lain bakal sebagai calon walikota dan wakil walikota Serang yang tentu memiliki elektabilitas serta popularitas masing-masing. Mereka tak kalah pentingnya dari tiga kandidat yang telah penulis sebutkan di atas; ada Najib Hamas, Vera Nurlaela  Jaman (istri Tb Haerul Jaman), Subadri Ushuludin, Hj. Nuraeni dll., dengan visi misi beragam yang membawa arah perubahan menuju iklim Kota Serang yang sejahtera dan beradab (madani).

Perlu penulis utarakan di sini, agar pembaca tidak salah tafsir. Bahwa penulis tidak mempunyai preferensi siapa nanti walikota dan wakil yang akan masyarakat (publik) kota serang pilih. Yang jelas, pilwalkot Serang harus berjalan dengan lancar, aman, tertib, melekatkan spirit dan nilai-nilai Pancasila, terutama sila keempat.

Alangkah bijak dan demokratisnya jika walikota terpilih juga merangkul rival politiknya yang kalah dalam rangka memperkuat bagian, atau komponen dimana ia sangat kompeten dalam bidang tersebut. Jika demikian, saya kira Kota Serang akan menjadi lebih kuat, kokoh dan solid. Masyarakat Kota Serang lah yang kemudian akan menikmati imbas dari jurus jitu tersebut.

Jurus jitu diatas adalah representasi dari nilai tertinggi dalam sila keempat Pancasila. Semua pihak menang. Rival politik adalah kawan baik untuk bersinergi membangun kota. Tidak ada kata kalah, semua pihak mempunyai kontribusi positif untuk membangun dan memajukan kota tercinta bersama-sama. Bekerja sama, bahu membahu serta bergotong royong adalah nilai-nilai luhur dan mulia dari Pancasila.

Kota Serang harus menjadi model pilwalkot bagi kota-kota lainnya di Nusantara, yang menyelenggarakan pemilihan walikota tanpa kekerasan dan konflik. Regulasi yang telah ditetapkan penyelenggara pemilihan menjadi pedoman teknis di lapangan harus selalu ditaati dan dilaksanakan sebaik-baiknya, karena demokrasi dimulainya dari sana.

Hormatilah hak-hak masyarakat sebagai pemilih yang cerdas dan independen. Ajari masyarakat berdemokrasi secara sehat tanpa iming-iming uang atau paket sembako dalam serangan fajar ; beras, minyak, mie dll,. Lekatkan Pancasila sebagai basis nilai dalam berpesta demokrasi. Wujudkan Kota Serang Baru, Kota Serang yang maju dan beradab, bebas dari korupsi, kolusi dan nepotisme.

Artikel Terkait