Mahasiswa
2 tahun lalu · 47 view · 4 menit baca · Lingkungan 99838.jpg
https://doi.org

Melawan Tuhan dengan Merampas Hak Orangutan

Despite the endangered status of the orangutans, very little research has sought to understand what people know about this species or the conservation challenges they face (Pearson, Dorrian, & Litchfield, 2013).

Kutipan diatas mengisyaratkan sebuah masalah penting terkait orang utan yang secara tidak langsung mempertanyakan esensi kemanusiaan kita semua. Dalam hal ini, saya menggaris bawahi baris “conservation challenges they face”. Baris tersebut mengisyaratkan sebuah masalah urgen yang penting untuk kita pikirkan bersama. Apakah kita sudah sedemikian jahatnya hingga orang utan tak lagi pantas menghuni bumi ini, bahkan di hutan sekalipun yang notabene merupakan rumah mereka? Jikapun ini kehendak alam, lantas apa saja upaya kita untuk menyelamatkan mereka sebagai sesama makhluk hidup? Dua pertanyaan tersebut tersebut terus menari-nari mengitari pikiran penulis beberapa saat sebelum artikel ini ditulis.

Kedua pertanyaan tersebut mungkin terdengar sepele dan tak berbobot. Namun, dibalik itu semua, ada pesan penting yang ingin ditekankan oleh penulis dalam artikel ini. Pertama, kita bukanlah satu-satunya makhluk yang dicipta untuk menghuni bumi yang indah ini; kedua, manusia seyogianya adalah makhluk kreatif yang esensinya ditentukan oleh seberapa mampu ia berbuat untuk alam dan kepada makhluk lainnya.

Selain faktor alam (bencana), saat ini setidaknya ada satu faktor lagi yang membutakan mata hati kita hingga kita berani ‘melawan tuhan’ dengan merampas hak orang utan. Faktor yang penulis maksud adalah faktor yang menjadi orientasi kebanyakan manusia yang katanya modern; yakni ekonomi. Bukan ekonominya yang salah, melainkan persepsi kita terhadap ekonomi dan cara kita dalam menggapainyalah yang terkadang jauh dari kata manusiawi.

Jika orientasi ekonomi mendominasi pikiran kita, maka kemungkinan pertama, keberadaan orang utan di bumi ini bisa jadi dianggap tidak penting karena dianggap tidak dapat mendatangkan keuntungan finansial secara simbiosis mutualisme; kemungkinan kedua, orang utan bisa jadi dilihat sebagai aset dan komoditi untuk diperdagangkan. Penulis berani berargumen bahwa kedua orientasi tersebut sesat dan tidak manusiawi. Anak yang menghuni tingkat sekolah dasar-pun paham akan hal ini. Telahkah mereka jauh lebih manusiawi dibandingkan kita para dewasa?!

Sering kita jumpai artikel baik dimedia cetak maupun eletronik yang memberitakan aksi pembabatan hutan dengan alasan pembukaan lahan baru; kebun sawit misalnya. Masih jelas dalam ingatan penulis tentang kesimpulan hasil penelitian yang dirilis dimedia eletronik belum lama ini yang menjelaskan bahwa  terdapat tak kurang dari 20 aktor yang terlibat dan mendapat keuntungan ekonomi dari pembakaran hutan dan lahan. 

Statement tersebut dimuat dalam penelitian berjudul “Ekonomi Politik Kebakaran Hutan dan Lahan”. Ironisnya, oknum-oknum perusak tersebut ditengarai memiliki jaringan dan koneksi langsung hingga ke tingkat ASEAN. Sangat jelas bahwa tujuan inti mereka tentunya bukanlah pembukaan lahan baru atau hanya sekadar perluasan lahan. Inti dari aksi tidak manusiawi ini, tidak lain dan tidak bukan, berujung-pangkal pada faktor ekonomi.

Selain kerusakan alam yang mengakibatkan bumi semakin panas karena berkurangnya pohon sebagai penghasil oksigen, dampak lainnya tentu saja mengarah pada satwa-satwa yang menghuni hutan yang karena ulah manusia mereka tidak lagi memiliki tempat untuk berdiam dan menjalankan perannya sebagai makhluk Tuhan; orang utan salah satunya. Pendapat penulis tersebut berdasar dan dapat dibuktikan secara akademis melalui penelitian yang dengan sangat gamblang menjelaskan bahwa konservasi orang utan terhambat karena penebangan pohon hutan dengan alasan perluasan lahan (Szantoi, Smith, Strona, Koh, & Wich, 2017). Berkaitan dengan hal ini, penulis berproposisi bahwa sinergitas antara pemerintah sebagai penentu kebijakan dengan seluruh elemen masyarakat sangatlah esensial; baik itu secara preventif, kuratif maupun rehabilitatif.

Conservation of the Sumatran orangutans’ (Pongo abelii) habitat is threatened by change in land use/land cover (LULCC), due to the logging of its native primary forest habitat, and the primary forest conversion to oil palm, rubber tree, and coffee plantations. Frequent LULCC monitoring is vital to rapid conservation interventions (Szantoi et al., 2017).

Selain hasil studi diatas, dalam studi lainnya beberapa kalangan akademisi menyarankan untuk memperbanyak kebun binatang dalam upaya konservasi dan yang terpenting adalah untuk menumbuhkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya alam, flora dan fauna (Pearson et al., 2013; Perdue, Stoinski, & Maple, 2012). Saran yang brilian juga disumbangkan oleh kawanan peneliti dari Australia yang menekankan pentingnya mengedukasi masyarakat sebagai langkah awal dalam melakukan konservasi orang utan (Taylor, Miller, & McBurnie, 2016). Penulis sendiri menyodorkan aksi sadar mental secara utuh akan pembalakan liar dan pembabatan hutan yang notabene menjadi rumah bagi orang utan dan ribuan satwa lainnya. Alasan bisnis dan ekonomi adalah lagu lama yang menyesatkan. Stop berpikiran instan nan merusak.  

Miris rasanya membaca beberapa latar-belakang penelitian tentang orang utan yang dijadikan topik diskusi karena eksistensi mereka yang hampir punah dianggap sebagai sesuatu yang unik. Ironisnya, peluang konservasinya dianggap sulit (bahkan nyaris mustahil) seperti yang disuratkan dalam kutipan yang membuka artikel ini. Disisi lain, penulis sangat ingin berterima kasih kepada mereka yang telah menginvestasikan waktu, dana, dan pikiran untuk hal yang bagi sebagian besar orang dianggap sepele. 

Beruntunglah dunia karena memiliki WWF (World Wildlife Fund), Greenpeace dan WCMC (World Conservation Monitoring Centre); beruntunglah Indonesia karena memiliki Profauna Indonesia (Protection of Forest & Fauna) dan WALHI (Wahana Lingkungan Hidup Indonesia). Beruntunglah kita karena dunia ini masih dihuni oleh segelintir pemerhati alam, flora dan fauna dari kalangan akademisi dan relawan masyarakat. Bersinergi dalam penyelamatan alam, flora dan fauna dalam upaya meraih predikat manusia yang seutuhnya manusia adalah harga mati.

REFERENSI

Catalano, R. (2004). A Novel Solution for the Survival of the Orangutan. Biodiversity, 5(4), 40–43. https://doi.org/10.1080/14888386.2004.9712748

Pearson, E., Dorrian, J., & Litchfield, C. (2013). Measuring zoo visitor learning and understanding about orangutans: evaluation to enhance learning outcomes and to foster conservation action. Environmental Education Research, 19(6), 823–843. https://doi.org/10.1080/13504622.2012.763112

Perdue, B. M., Stoinski, T. S., & Maple, T. L. (2012). Using Technology to Educate Zoo Visitors About Conservation. Visitor Studies, 15(1), 16–27. https://doi.org/10.1080/10645578.2012.660839

Szantoi, Z., Smith, S. E., Strona, G., Koh, L. P., & Wich, S. A. (2017). Mapping orangutan habitat and agricultural areas using Landsat OLI imagery augmented with unmanned aircraft system aerial photography. International Journal of Remote Sensing, 38(8–10), 1–15. https://doi.org/10.1080/01431161.2017.1280638

Taylor, S., Miller, K. K., & McBurnie, J. (2016). Community perceptions of orangutan conservation and palm oil in Melbourne, Australia. International Journal of Environmental Studies, 73(2), 255–267. https://doi.org/10.1080/00207233.2016.1144332

Artikel Terkait