Aksi Bom Sarinah tanggal 14 Januari 2015 di Jakarta menyedot begitu banyak perhatian dari seluruh lapisan masyarakat Indonesia. Beberapa saat setelahnya berbagai spekulasi dan analisis-pun mulai bermunculan terkait aksi teror tersebut. Semua seolah berlomba ikut ambil bagian dalam menanggapi aksi teror tersebut.

Namun ada satu orang yang saya beri perhatian khusus dalam menanggapi teror Bom Sarinah ini. Beliau adalah Menteri Pertahanan, Ryamizard Ryacudu.

*****

Beberapa hari sebelum peristiwa tersebut menteri Rymizard menyampaikan pentingnya penanggulangan terorisme di Indonesia. Ryamizard menganggap bahwa mobilisasi rakyat lewat program Bela Negara dan Pengembangan Alutsista menjadi kunci bagi Indonesia untuk melawan aksi teror. Ambisi Menhan untuk menggunakan pertahanan fisik guna mencegah aksi teror perlu ditelisik lebih jauh lagi.

Di era digital seperti saat ini tentu mengherankan jika Menhan masih menggunakan cara berpikir konvensional untuk menanggulangi teror. Apakah pertahanan fisik mampu menggagalkan tujuan dari berbagai macam aksi teror yang mungkin terjadi lagi? Saya rasa ada beberapa hal yang dilupakan oleh  Menhan.

Sebelumnya kita perlu membahas soal tujuan aksi teror itu sendiri. Tujuan aksi teror pada umumnya ialah menciptakan guncangan dan histeria massa dari target yang dituju. Aksi teror tidak hanya berorientasi fisik melainkan bertujuan untuk mengganggu stabilitas sosial, politik, serta ekonomi suatu masyarakat.

Dengan demikian Indikator keberhasilan suatu teror tentu bukan dari jumlah korban atau kerusakan infrastruktur dari sasaran teror tersebut. Aksi teror dapat dikatakan berhasil tatkala ketakutan berhasil diciptakan dari masyarakat yang jadi sasaran target tersebut. Singkatnya bukanlah kerusakan fisik yang menjadi indikator keberhasilan melainkan terciptanya histeria massa.

Bagaimana histeria massa tersebut diekspresikan? Di era digital seperti saat ini histeria massa banyak diekspresikan melalui berbagai media sosial seperti Facebook, Twitter, Path, dan lain-lain. Apabila rasa takut, panik, dan cemas berhasil menjadi trending topic di dunia maya, maka aksi teror bisa dikatakan berhasil.

Maka jangan heran ketika tagar #PrayForJakarta serta #JakartaBerduka bermunculan di media sosial kemudian pada waktu yang bersamaan nilai tukar rupiah melemah. Secara tidak langsung aksi teror Bom Sarinah telah mencapai dua tujuannya sekaligus yaitu terciptanya histeria massa sekaligus terganggunya laju perekonomian Indonesia.

Barangkali hal tersebut kurang diperhatikan oleh bapak menteri pertahanan.

*****

Adakah cara alternatif untuk melawan aksi teror? Cara yang saya tawarkan adalah melakukan perlawanan dari ruang kelas.

Patut diketahui jika ada sekitar 30 juta remaja di Indonesia merupakan pengguna layanan internet. Mayoritas dari mereka aktif dalam berbagai sosial media dari dunia maya. Jumlah tersebut tentu lebih dari cukup untuk menciptakan histeria massa di dunia maya.

Mencegah terciptanya histeria massa dari kalangan remaja di dunia maya ini penting dilakukan. Sekolah harus mampu melakukan pencegahan tersebut. Guru-guru juga harus mampu memberikan penyadaran bagi siswa sejak dalam ruang kelas. Ada dua hal yang harus dilakukan.

Pertama dengan mengarahkan siswa untuk bersikap lebih bijak di media sosial. Hal ini mutlak diperlukan untuk mencegah siswa asal memposting sesuatu yang justru dapat menciptakan histeria massa. Siswa harus diarahkan agar mampu menyaring informasi yang dapat dipercaya dan yang tidak.

Kemampuan menyaring informasi ini penting agar siswa tidak mudah percaya informasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. Siswa juga wajib diingatkan agar tidak sembarang menyebar pesan broadcast, memasang tagar, ataupun upload foto yang dapat memancing histeria massa.

Cara kedua yang dapat dilakukan adalah dengan mengajak siswa menganalisis dan memahami pokok persoalan sebelum memberi reaksi terhadap suatu peristiwa. Hal ini mutlak diperlukan karena segala persoalan harus dianalisis secara mendalam sebelum mencapai kesimpulan.

Barangkali hal ini bertentangan dengan semangat zaman di era digital yang serba aktual dan dangkal, tetapi menemukan yang faktual dalam suatu permasalahan merupakan hal yang wajib dilakukan.

Kedua cara tersebut merupakan bentuk nyata perlawanan terhadap terorisme dari ruang kelas. Menyadarkan siswa agar tidak mudah terpancing berbagai isu dan terjebak dalam histeria massa adalah hal yang harus dilakukan sejak dini. Perlawanan non-fisik semacam ini menurut saya jauh lebih masuk akal bila dibandingkan dengan cara-cara konvensional yang ditawarkan oleh menteri pertahanan.

*****

Aksi teror, apapun itu bentuknya harus dilawan dengan berbagai cara. Namun demikian aksi teror juga menyimpan bahaya laten yang harus diwaspadai. Aksi teror dapat menjadi dalih bagi negara untuk bersikap lebih represif terhadap rakyat. Isu pemulihan dan stabilitas keamanan dapat menjadi pembenaran dari sikap represif tersebut.

Pada akhirnya, jangan sampai isu Bom Sarinah ini menjadi dalih bagi rezim berkuasa untuk melanggengkan kepentingannya. Kita harus ingat bahwa Menhan juga memiliki ambisi agar program Bela Negara yang kental dengan semangat militeristik diterima oleh masyarakat luas. Jangan sampai semangat melawan aksi teror ini dimanipulasi oleh kepentingan penguasa untuk menjalankan sistem represifnya.

Padahal cara-cara tersebut sudah tidak relevan untuk melawan ancaman teror. Aksi penyadaran terhadap masyarakat, terutama kalangan remaja, jauh lebih penting untuk mencegah aksi teror daripada sekedar latihan baris-berbaris ala Bela Negara. Untuk itu perlawanan teror dari ruang kelas mendesak untuk dilakukan sedini mungkin.

 

Gunungkidul, 15 Januari 2015