28589_84346.jpg
Agama · 4 menit baca

Melawan Stigma

Status FB Ahmad Faiz belakangan menjadi viral. Banyak respons yang diterimanya; ada yang positif meski lebih banyak yang negatif. Respons negatif inilah yang menurut saya memberi tekanan secara psikis pada Ahmad Faiz. 

Sehingga, ketika menjadi narasumber di ILC, terlihat jelas dia sangat gugup dan berhati-hati dalam berkata. Respons negatif paling banyak diterima (sesuai yang saya baca). Tulisan Ahmad Faiz seolah mendiskreditkan Rohis atau perkumpulan siswa/i islam di SMA.

Stigma negatif juga saat ini juga sedang dialami oleh teman-teman beragama muslim yang kesehariannya memakai busana muslim, seperti baju koko, celana di atas mata kaki, berpeci dan dahi hitam, serta wanita berbusana muslimah seperti berkerudung panjang dan bercadar. Saat ini juga beredar video di mana seorang santri membawa kardus dan ransel disuruh membongkar isi kardus dan ranselnya oleh pihak polisi. 

Di tempat lain, juga ada video yang merekam seorang muslimah bercadar yang dipaksa turun dari bis (tidak tahu oleh siapa yang memaksa) karena rasa takut dan curiga yang muncul pada wanita bercadar.

Saat SMA saya cukup aktif dalam berorganisasi, bahkan saya pernah menjadi ketua organisasi di bawah OSIS bidang keagamaan Kristen, Persekutuan Siswa Kristen (disingkat PSK, sangat tidak enak didengar) setingkat dengan Prisma, sebutan organisasi Rohis di SMA saya dulu. 

Saya cukup banyak mengenal dan berteman sama anggota Prisma. Bahkan saat saya jadi ketua Persekutuan Siswa Kristen, ketua Prisma adalah teman sekelas saya saat masa SMP, dan kami cukup dekat. Saat itu saya berpikir hidup ini cukup aneh dimengerti. Saya dan teman saya yang saat SMP cukup "bandel", ternyata saat SMA malah menjadi ketua organisasi keagamaan. 

Jika saat saya menjadi ketua organisasi Kristen tidak ada yang berubah pada saya, bahkan saat itu saya juga sedang berpacaran dengan siswi beragama muslim, berbeda dengan teman saya. Perubahan sangat terlihat jelas. Seperti anak SMP yang baru mengalami masa puber, kami pun dulu begitu, suka mengganggu teman cewe dan berpenampilan "sok" parlente. 

Namun setelah jadi ketua Prisma teman saya terlihat berbeda, sikapnya pada teman perempuan berbeda, mereka tifak mau bersentuhan seperti bersalaman karena bukan murimnya. Pakaiannya pun terlihat berbeda dengan celana di atas mata kaki serta dahi yang terlihat mulai menghitam. Jujur saya sedikit segan, namun teman saya tidak menghindar dari saya, meski kami tidak seakrab dulu karena beda kelas namun komunikasi masih cukup baik dan dia mau berbaur sama siapa saja. 

Dia dan teman-teman lainnya pun masih mau mengikuti upacara bendera. Tidak ada kekawatiran radikalisme yang tumbuh saat itu, saya hanya berpendapat mereka sedang memahami agama mereka berbeda dari orang lain dan itu sah saja menurut saya selama mereka juga masih berbaur dan tidak mengganggu.

Saya juga banyak berteman sama teman cewe yang berhijab bahkan ada yang sangat akrab. Semua berjalan seperti biasa tanpa ada perbedaan dan saling menghormati.

Namun stigma negatif ini muncul bukan salah pemerintah atau tindakan intoleran masyarakat, semua ada alasan sehingga stigma negatif ini membuat orang-orang baik seperti teman-teman saya bisa terlihat jahat. Karena siapa? karena tindakan tak beradab para teroris tersebut! Melawan stigma tersebut tidak gampang. 

Saya mengerti jika ada teman muslim yang sibuk mengomentari dan menjawab stigma negatif ini. Namun inilah kenyataannya saat ini. Seperti kita sering membuat stigma negatif pada ras atau suku tertentu karena satu atau lebih orang dari ras atau suku tersebut yang bersikap negatif. Apalagi saat ini stigma tersebut muncul karena serangan teroris yang membahayakan nyawa orang lain.

Merubah sudut pandang tidaklah gampang, baik mereka yang curiga pada kelompok tertentu ataupun mereka yang berusaha menjaga nama baik agamanya. Saya selalu berpendapat bahwa teroris itu beragama dan menjalankan agamanya dengan sangat baik, namun mereka salah dalam memahami ayat-ayat tertentu dalam kitab suci agamanya. Saya rasa kesadaran inilah yang perlu ada saat ini. Kita tidak perlu lagi berusaha melindungi tindakan mereka atau berusaha mencari pihak lain untuk disalahkan.

Tidak ada agama teroris, tetapi teroris yang beragama itu ada dan nyata. Karena itu untuk melawan stigma negatif itu kita pun harus dengan pendekatan agama.

Hati saya terasa disayat saat melihat keluarga korban bom Surabaya menerima kematian keluargannya dan memaafkan para teroris tersebut. Dan itu merupakan ajaran agama mereka dan juga saya, untuk memaafkan orang yang bersalah pada mereka seperti Tuhan yang memaafkan kesalahan kita. Lalu untuk teman-teman beragama muslim yang saat ini menanggung stigma negatif akibat ulah para teroris, marilah bersama melawan ideologi mereka. 

Saya tidak menuduh ideologi itu ditanam di Rohis karena saya pun tidak memiliki pengalaman demikian, tapi pengalaman Ahmad Faiz bisa menjadi alarm bagi para orang tua kepada anaknya, jika memang ada ajaran radikalisme mari laporkan ke guru atau jika ada ulama yang mengajarkan radikalisme mari laporkan ke pihak berwajib atau mari kita tolak bersama. Saya yakin saat ini masih banyak teman beragama muslim yang menolak paham radikalisme namun hanya diam dan menghindar.

Seperti kata Buya Syafii Maarif," Pelaku sudah tidak waras, maka tindakan mereka punya juga demikian. Kalau yang waras cuma diam saja, para pelaku malah bisa jadi pemimpin" Sudah saatnya kita yang waras angkat bicara, apapun suku, ras, agama dan pilihan politikmu. Serangan teroris ini bukan skenario politik, coba sedikit saja dengar apa kata hati kecilmu, kau pun pasti mengutuk perbuatan mereka.

Mari melawan, tidak hanya dengan memberi rasa simpati dan empati, menyalakan lilin bersama, memviralkan tagar kami tidak takut dan lain sebagainya, tetapi dengan sikap dan tindakan yang nyata untuk melawan radikalisme, sehingga kita semua tidak perlu curiga berlebihan pada mereka yang memakai atribut yang sama seperti para teroris.

Teroris itu lawan kita, mari kita berkawan untuk melawan mereka.