“Zaman sekarang orang yang jualan barang yang sama kayak Lu tuh udah banyak! Lu yakin mau jual barang gituan juga??”

Kata-kata ini yang pertama kali didapat oleh klien saya ketika sedang ingin memulai usaha barunya. Dari yang tadinya adalah seorang karyawan, seketika banting stir menjadi seorang pengusaha dengan modal seadanya dan mental seadanya.

Mendapat ejekan pemikiran yang sedemikian meruntuhkan mental, klien saya pun bilang saat itu dia hanya bisa tersenyum. Tersenyum ingin meng-iya-kan pernyataan tersebut atau hanya menganggapnya sebagai angin lalu.

“Pemikiran semacam ini kalau diturutin maka saya tidak akan pernah melangkah. Lebih baik saya abaikan dulu, sambil berjalan.” Kata klien saya saat itu yang sedang menggebu-gebu menceritakan pengalaman pertama kali merintis usaha distribusi bahan bangunan yang saat ini dia miliki.

Menurut klien saya ini, mau jualan apapun juga, sudah pasti ada pesaing yang sejenis. Kalau stuck dengan pendapat yang seperti itu secara terus-menerus, yang ada semuanya hanya akan jalan di tempat atau tidak melangkah sama sekali. Pikiran-pikiran seperti ini lebih dapat dibilang merumitkan diri sendiri. 

Dia pun menasehati saya, “Jika kamu nanti jadi pengusaha, jangan pernah terhasut hal beginian! Lakukan saja dulu. Jangan tunggu hasil dulu, jalani saja prosesnya. Orang yang berpikir rumit cenderung hanya menghabiskan waktu dengan khayalannya masing-masing.”

Pemikiran klien saya ini sebenarnya benar. Masuk logika saya dan mudah untuk dicerna. Orang lebih takut dan “percaya” dengan khayalan buruknya, daripada melangkah, dan menceburkan diri pada suatu pengalaman. Salah satunya sih, takut bertemu dengan yang namanya gagal dan sulit. Padahal hidup tidak berbuat apa-apa saja, tetap tidak bisa lepas dari yang namanya kesulitan.

***

Seringnya orang-orang yang merasa memiliki pendapat paling benar jika menggurui sebuah kesuksesan, kebanyakan memang sebatas khayalan saja. Mereka tidak pernah melakukannya, namun hanya berasumsi belaka. Orang yang berperan langsung pada jalan hidup suksesnya sangatlah berbeda. Mereka menjalaninya, menyelaminya dan memang merasakannya. Bukan sebatas pikiran, namun memang ada dan nyata dialami.

Mudahnya orang yang saya sebut sebagai tukang khayal dalam memberikan suatu pendapat tanpa pengalaman, ini semua hanya sebatas omong kosong. Oknum-oknum seperti ini hanya tidak suka melihat orang lain lebih sukses dari dia, atau bisa juga dia ingin orang sependeritaan seperti dia. Ya, seperti ingin diakui senasiblah.

Banyak sekali pengusaha sukses dan terkenal, tidak usah saya katakan orang-orang berpengaruh tersebut disini. Karena bisa dicari di-google. Cerita pengalaman mereka dari yang awal sekali hingga menjadi orang ternama, mindset-nya sangatlah kuat. Selain mindset, mereka semua pandai melihat peluang. 

Sekalipun banyak sekali usaha yang sejenis menjadi lawan mereka, namun mereka tetap saja lebih unggul. Ini Kenapa? Kalau bisa dilihat dengan baik-baik, itu semua dikarenakan mereka tidak jualan produk. Ya! Tidak jualan produk sama sekali. Kok bisa tidak jualan produk tapi tetap kaya, dan produknya memang benar-benar laku kok. 

Jika ditelaah dengan jeli, orang-orang sukses yang memiliki kompetitor yang sejenis namun tetap sukses, itu semua dikarenakan mereka menjual sebuah value, bukan produk. Orang akan membayar lebih tentang sebuah value. Tidak percaya?

Saya pernah dengar sebuah cerita, mungkin kita semua pernah membacanya. Tentang seorang anak yang disuruh menjual sebuah arloji tua oleh ayahnya. Ayahnya pertama kali menyuruhnya menawarkan arloji tersebut kepada tukang arloji. Menurut tukang arloji, arloji ini sudah sangat tua dan hanya pantas dibayar dengan harga murah. Bahkan menurutnya sudah tidak ada harganya lagi karena ketinggalan zaman dan sudah kuno. 

Namun ayahnya kembali menyuruh sang anak menawarkan arloji tersebut ke toko barang antik. Dan ditempat tersebut, arloji itu ditawar dengan harga yang sangat mahal. Kok bisa arloji tua dihargai dengan sangat mahal?? Bahkan orang berpikiran untuk memakainya saja sudah tidak ada. Hal ini semua dikarenakan value dari barang tersebut dengan didukung target market yang sesuai.

Jika kita menjual barang berdasarkan value-nya dan target market sesuai, maka barang tersebut akan terjual dengan mudah. Tanpa takut adanya persaingan dari usaha sejenis. Kenapa? Hal ini dikarenakan, orang sangat sulit untuk menolak sebuah value dari suatu barang. Value itu sesuatu hal yang memberikan “rasa” pada suatu barang yang telah kita beli. 

Ketika seseorang merasa nyaman dan senang terhadap value tersebut, walaupun memiliki harga yang tinggi, orang-orang yang mengincarnya, tidak akan terlalu pikir panjang untuk mempertimbangkannya. Karena sekarang, ranah yang bermain secara psikologis adalah nafsunya untuk memilki value dari barang tersebut, bukan logika.

Oleh karena itu, para calon pengusaha muda yang mungkin saat ini telah resign dari pekerjaannya dan ingin menjadi pengusaha, tidak ada kata-kata bahwa kita tidak bisa menjual sesuatu yang “telah dijual oleh orang lain”. Tonjolkan value barang yang dijual, perlihatkan service yang menarik, menjadilah unik. 

Orang-orang akan senang menghampiri produk kita. Bahkan mungkin saja dia tidak melihat produknya lagi, tapi lebih melihat kita sebagai seorang yang ahli menghasilkan value bagi kepuasaan mereka (pelanggan).

Jadi, jika para calon pengusaha muda sekalian sedang mengalami dilema dihadapkan pada pemikiran yang terlalu pesimistis dan rumit seperti “Mau jualan apa dizaman sekarang ini?”, lebih baik diabaikan saja. Karena berjalan tiga langkah walau salah tetap lebih baik, kita dapat pengalaman. 

Dibandingkan kita tidak melangkah dan jalan ditempat, maka kita hanya terjebak dalam khayalan ilusi yang mendominasi pikiran dan diri kita sendiri.