Jadi tulisan ini saya buat berdasarkan pengalaman yang berisikan keluh kesah dan curhatan hati, tujuannya hanya untuk sharing atau berbagi cerita, barangkali ada yang merasakan hal serupa, sehingga dari tulisan ini kita dapat belajar bersama-sama menghadapi realita kehidupan.

Tahun ini saya genap berusia 24 tahun, tepatnya pada tanggal 10 Juni 2022. Di Indonesia usia tersebut cukup ideal untuk bekerja, tidak sedikit bagi laki-laki sudah menjadi tulang punggung keluarganya.

Namun ternyata perjalanan pendidikan saya di jenjang perkuliahan belum selesai, saat ini saya masih berada di semester 8 dan berlanjut ke semester 9 di bulan Agustus. Hal ini terjadi bukan tanpa sebab, saya sudah menjelaskan secara detail di tulisan sebelumnya yang berjudul “Pendidikan yang Membingungkan.”

Terlambat dua tahun masuk perkuliahan membuat usia saya dua tahun lebih tua daripada yang lain, di jenjang SMA saya masuk pesantren selama 4 tahun, setelah lulus saya diberikan amanah oleh sekolah untuk mengabdi sebagai pengajar di sekolah tingkat dasar (SD) selama 1 tahun.

Menginjak usia yang ke 24 ini membuat saya merasa tertekan oleh keadaan. Sulit rasanya untuk tidak overthinking dan insecure, apalagi melihat beberapa teman yang sudah mampu bekerja ataupun mapan.

Sejujurnya saya belum puas bergiat di dunia perkuliahan, hati kecil berkata ingin rasanya lanjut kuliah S2, namun hal tersebut terhalang karena faktor keluarga. Melihat orang tua yang sudah menua membuat saya tidak tegak berlama-lama kuliah dan tidak mungkin juga saya terus menerus bergantung kepada orang tua.

Di sisa masa perkuliahan ini, saya coba habiskan waktu untuk terus produktif, tidak mudah tentunya untuk konsisten melakukan aktivitas tersebut. Sempat beberapa kali coba daftar magang di perusahaan ternama namun gagal. Ternyata benar mencari pekerjaan itu sulit, sesulit mencari keadilan di Negeri tercinta ini.

Minimnya pengalaman kerja atau magang menjadi faktor utama, selain itu persaingan nama kampus yang mentereng juga menjadi faktor yang membuat saya kalah bersaing, intinya adalah saat ini kebanyakan dari perusahaan melihat dua faktor, yaitu pengalaman atau nama kampus.

Hal tersebut membuat saya terus merenung dan kebingungan, rasa putus asa sempat hadir berkali-kali. Namun dukungan orang tua dan teman terdekat membuat saya perlahan bangkit kembali dan tidak mau berlarut dalam kesedihan, saya coba untuk berpikir positif dan meyakini bahwa Tuhan pasti memiliki rencana yang paling terbaik selagi kita terus berusaha dan berdoa.

Agar mengurangi overthinking, saya coba habiskan aktivitas dengan hal positif dan produktif, mulai mencoba untuk rutin menulis, membaca, dan berolahraga. Terkadang ada rasa penyesalan yang mendalam, kenapa dulu semasa SMP dan SMA saya tidak ada minat sama sekali untuk membaca dan menulis.

Masa SMP dan SMA saya terlalu asik menghabiskan waktu dengan aktivitas yang praktisi atau terjun kelapangan seperti aktif berorganisasi dan menjadi panitia, hal tersebut tidaklah buruk, dari situ saya banyak belajar khususnya tentang leadership dan berani berbicara di depan publik.

Namun keaktifan saya dalam berorganisasi ini tidak diiringi dengan aktivitas yang bersifat akademis, sejak SMP dan SMA saya memang terkenal kurang suka membaca, menulis, dan berdiskusi.

Hingga pada akhirnya, masa perkuliahan yang membuat saya sadar bahwa literasi juga sangat penting dalam berkomunikasi dan bermasyarakat. Perasaan tersebut muncul ketika saya sering terdiam ketika berdiskusi.

Di masa perkuliahan keterbukaan dalam berpikir mulai tumbuh, menghargai sebuah perbedaan, dan toleransi. Meskipun terlambat namun hal ini perlu saya syukuri, karena saya masih dapat belajar dan berubah ke arah yang benar.

Belajar dari Perasaan Tidak Percaya Diri

Ada yang belum bisa diselesaikan atau dihilangkan sepenuhnya saat ini yaitu rasa tidak percaya diri. Klasifikasi rasa tidak percaya diri ini beragam, namun saya hanya menyebutkan tiga yang paling rumit:

Pertama, Perasaan Tidak Percaya Diri Terhadap Kemampuan Diri

Hal ini terjadi akibat semasa SMA saya terkenal memiliki literasi yang pas-pasan dan jarang berdiskusi. Sehingga muncul perasaan tidak percaya diri atau minder untuk tampil di depan publik karena merasa memiliki otak yang pas-pasan.

Di awal perkuliahan saya coba tampil lebih percaya diri dan aktif dalam berkomunikasi, karena akan bertemu dengan orang-orang baru. Tapi itu tidak bertahan lama, mungkin hanya sekitar dua atau tiga bulan, setelah itu saya kembali ke setelan pabrik, banyak diam dan malu-malu.

Namun seiring berjalannya waktu saya terus memberanikan diri untuk berbicara dan tampil di depan publik, dengan aktif mengikuti kegiatan sosial, berdiskusi, dan menjadi pembicara. Rasa tidak percaya diri itu tetap ada namun perlahan saya mulai terbiasa tampil dan memberanikan diri.

Kedua, Tidak Percaya Diri Untuk Bercerita

Tidak percaya diri untuk bercerita dengan teman-teman sehingga cenderung menutupi masalah sendiri. Bisa dibilang saya ini pendengar yang baik untuk mendengarkan cerita atau keluh kesah orang lain, hal tersebut tentu hal yang baik, karena dengan bercerita biasanya hati akan lebih tenang meskipun tidak sepenuhnya menghilangkan masalah.

Namun anehnya saya merasa kesulitan dan tidak percaya diri untuk bercerita, bahkan sempat beberapa kali ketika saya bercerita atau berkeluh kesah justru malah dijadikan lelucon. Mungkin karena hal tersebut yang membuat saya trauma untuk bercerita.

Tidak semua teman saya seperti itu namun yang pasti ada saja teman yang tentunya mau mendengar. Alhasil sekarang saya lebih selektif ketika mau bercerita, tujuannya agar terhindar dari rasa kecewa atau sakit hati.

Ketiga, Tidak Percaya Diri Berbicara dengan Perempuan.

Tidak percaya di sini bukan berati sepenuhnya saya tidak pernah berbicara dengan perempuan, yang saya maksud adalah ketika saya bertemu dengan orang baru terutama perempuan, kalau bertemu dengan sesama jenis tidak terlalu menjadi masalah, namun ketika berhadapan dengan perempuan serasa ada tantangan.

Apalagi kalau membahas soal percintaan, mungkin saya terkenal sadbay. Sempat beberapa kali memiliki hubungan percintaan atau kalau kata anak zaman sekarang pacaran, namun itu tidak pernah berlangsung lama, saya pernah ditinggal karena fisik yang tidak good loking dan pernah diselingkuhi, sungguh amat menyedihkan.

Namun rasa tidak percaya diri ini juga perlu diselesaikan, karena saya sadar bahwa perasaan ini tidaklah wajar kalau terlalu berlebihan, alhasil saya coba untuk memberanikan diri untuk tetap komunikatif dengan mencoba berbaur dan berkumpul dengan perempuan, saat ini tidak sepenuhnya hilang rasa malu-malu itu namun perlahan saya mulai berani dan terbiasa.

Menghabiskan Waktu Sendiri

Sendiri dan kesepian sudah menjadi konsumsi bagi saya saat ini, memang benar kata orang-orang, semakin menuanya usia maka semakin sedikit juga pertemanan. Hal ini wajar, karena semakin bertambah usia seseorang maka bertambah juga kesibukan dan prioritasnya.

Saya coba untuk selalu berpikir seperti itu, berpikir bahwa setiap orang punya kesibukannya masing-masing. Namun terkadang saya iri melihat sebagian orang masih bisa sering berkumpul, ditambah lagi dengan maraknya fenomena pamer “Ayang” atau pacaran.

Hal tersebut sungguh terlihat asik, memotivasi, dan tidak kesepian. Lalu membuat saya bertanya-tanya, kenapa orang lain bisa seperti itu, kenapa saya tidak berani mencobanya, kenapa di masa muda saya sering menghabiskan waktu sendiri, dan masih menjadi misteri bagi saya, apakah kebahagiaan (pacaran) tersebut benar-benar abadi atau hanya kebahagiaan sementara.

Namun yang pasti terlalu banyak berkeluh kesah juga tidak baik dan kufur nikmat, saya coba untuk terus berpikir positif dan mensyukuri kehidupan yang saya jalani sekarang, karena tentunya masih banyak orang-orang yang lebih rumit dan sulit menghadapi kehidupannya. Intinya adalah jalani kehidupan dan terus berproses ke arah yang baik.