Menjelang peringatan hari 30 September 1965. Saya baru saja membaca sebuah buku jejak sejarah rakyat melawan PKI berjudul "Geger, Gerakan 30 September 1965, Rakyat NTB Melawan Bahaya Merah" yang cetakan pertama  pada 1 Maret Tahun 1997, diterbitkan oleh penerbit Sumur Mas-Mataram, Buku ini ditulis oleh Fathurrahman Zakaria adalah seorang wartawan Harian Duta Masyarakat Jakarta, juga Pemimpin Redaksi Harian Gelora Mataram tahun 1960-1975. Dia lahir di pagutan Kota Mataram pada 12 februari 1934. Dan dicetak kembali atas keinginan anak penulis pada 2 Oktober Tahun 2001 .

Selain menjadi seorang wartawan penulis juga seorang aktivis Gerakan Pemuda Ansor Nusa Tenggara Barat dan Partai Nahdlatul Ulama (partai NU) sejak 1952.  Selain itu penulis juga berprofesi sebagai Anggota DPRD Daswati II Kabupaten Lombok Barat Tahun 1960. Kemudian menjabat sebagai Wakil Ketua DPRD-GR Kabupaten Lombok Barat serta Anggota Badan Pemerintah Harian (ABPH) Lombok Barat sampai tahun 1971. 

Buku ini merupakan perluasan makalah penulis yang berjudul "Memori Perjuangan Eksponen 66 Nusa Tenggara Barat dalam menegakkan Order Baru" yang di sampaikan dalam sarasehan Eksponen 66 Nusa Tenggara Barat yang di gelar pada 16 Oktober Tahun 1996 bertempat di Mataram. Yang dihadiri oleh Drs. Cosmas Batubara (Eksponen 66 di Jakarta), Mayjen. Pol. (Purn) Drs. Soemiarso Poedjowardoyo (mantan Kastaf Pepelrada Nusa Tenggara Barat - 1964-1966 dan di hadiri juga Kapolda Nusa Tenggara Barat, dan H.M. Alwan Wijaya (mantan Dandim 1613 Lombok), mereka semua menyampaikan makalahnya masing-masing.

Setelah membaca buku ini, ada satu hal  yang perlu diketahui  yaitu bahwa negara kita tidak terbentuk semudah membalikkan telapak tangan ataupun tidak hanya dengan sekedar tulisan di selembar kertas. Namun, negara kita terbentuk dengan pertumpahan darah, pengorbanan yang besar tidak cukup dengan harta tapi korban jiwa raga.

Setelah membaca buku ini saya tahu bahwa walaupun  proklamasi kemerdekaan telah dibacakan dan diumumkan oleh Soekarno Hatta  bukan berarti negara kita sudah aman atau tidak ada ancaman dari pihak asing malah ancaman pihak luar dan orang negri sendiri yang memiliki kepentingan sendiri silih berganti merongrong kedaulatan negara Indonesia.

Belanda datang kembali ke Indonesia dan mencoba kembali menguasai negeri yang sudah memproklamasikan kemerdekaannnya ini. Tentu saja rakyat Indonesia enggan bila harus kembali tunduk kepada para penjajah dari Barat ini. Untuk itu, dengan segenap jiwa dan raga, rakyat Indonesia memutuskan untuk berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Upaya perjuangan mempertahankan kemerdekaan inilah yang memicu terjadinya berbagai pemberontakan di mana -mana, hingga akhirnya, disepakati perjanjian yang menyatakan bahwa pada akhirnya Belanda mengakui kemerdekaan Indonesia.

Beberapa pemberontak yang terjadi setelah kemerdekaan.


1. Peristiwa Madiun pada 18 September 1948, Peristiwa Madiun merupakan suatu pemeberontakan yang terjadi di bawah pimpinan Moeso. Moeso yang baru kembali dari Moskow rupanya membawa aliran kiri dan berusaha untuk merebut kendali kota Madiun.

Pemberontakan yang dilakukannya dalam rangka untuk memproklamasikan “Sovyet Republik Indonesia”. Beruntung, pemberontakan ini dapat ditumpas oleh pasukan Tentara Nasional Indonesia.

2. Pemberontakan Kartosuwiryo pada 19 Desember 1948, Pemberontakan yang terjadi di Jawa Barat ini dilakukan oleh pasukan Darul Islam. Pemberontakan ini terjadi di bawah pimpinan Kartosuwiryo. Pemberontakan ini berhasil ditakhlukkan olh pasukan Divisi Siliwangi.

3. Peristiwa APRA di Bandung pada 23 Januari 1950, APRA adalah singkatan dari Angkatan Perang Ratu Adil. Pemberontakan APRA dipimpin oleh Westerling dengan tujuan untuk memberontak terhadap Republik Indonesia Serikat. Namun, pada 24 Januari 1950, pemberontakan APRA berhasil diatasi.

4. Peristiwa Andi Aziz di Ujungpandan pda 5 April 1950. Andi Aziz merupakan seorang bekas anggota KNIL. Ia memberontak kepada RIS. Meski sempat memberontak, ia akhirnya menyerah pada tanggal 26 April 1950.

5. Peristiwa RMS di Maluku pada 1 November 1950, Peristiwa RMS atau Republik Maluku Selatan ini berlangsung di bawah panji pimpinan Soumokul yang berupaya memberontak terhadap RIS. Pemberontakan ini berhasil ditumpas oleh TNI yang dipimpin oleh Slamet Riyadi. Sayang, Slamet Riyadi harus gugur dalam peristiwa RMS tersebut.

6. Pemberontakan Ibnu Hajar di Kalimantan Selatan, Pemberontakan Ibnu Hajar yang terjadi di Kalimantan Selatan ini dipimpin oleh Ibnu Hajar. Ibnu Hajar berhasil ditangkap pada bulan Desember 1949.

7.  Pemberontakan DI/TII di Jawa Tengah pada 1949 - 1962, Pemberontakan yang dilakukan oleh DI/TII atau Darul Islam/ Tentara Islam Indonesia ini berada di bawah pimpinan Kartosuwiryo. Pemberontakan dilakukan dalam kurun waktu yang cukup lama. Dalam pemberontakan ini, Kartosuwiryo berkeinginan untuk membentuk negara Islam di Indonesia.

8. Pemberontakan DI/TII di Sulawesi Selatan pada 1957, Selain di jawa Tengah, pemberontakan DI/TII juga terjadi di tempat lain, termasuk di Sulawesi Selatan. Pemberontakan DI/TII di Sulawesi Selatan dipimpin oleh Kahar Muzakar dan bertujuan untuk memberontak kepada Republik Indonesia. Kahar Muzakar sendiri akhirnya menyerah pada tanggal 17 Agustus 1957.

9. Pemberontakan DI/TII di Brebes Jawa Tengah Pemberontakan DI/TII yang terjadi di Brebes Jawa Tengah ini dilakukan di bawah pimpinan Amir Fatah.

10. Pemberontakan Permesta di Sulawesi pada 1958  - 1961, Permesta merupakan singkatan dari Perjuangan Rakyat Semesta. Pemberontakan Permesta dilakukan di Sulawesi.

11. Pemberontakan G 30 S/PKI pada 30 September 1965, Pemberontakan G 30 S PKI ini dianggap sebagai suatu bentuk pengkhianatan yang dilakukan oleh kelompok Dewan Revolusi Indonesia yang dipimpin oleh Letkol Untung, komandan Batalyon I Kawal Kehormatan Resimen Cakrabirawa.

Atas peristiwa ini, kemudian PKI berserta ormas -ormasnya dibekukan. Yang termasuk dalam Ormas PKI meliputi Revolusi Rakyat (PR), Gerakan Wanita Indonesia (Gerwani), Barisan Tani Indonesia (BTI), COnsentrasi Gerakan Mahasiswa Indonesia (CGMI). Perhimpunan Mahasiswa Indonesia (Perhim), Ikatan Pemuda Pelajar Indonesia (IPPI), serta Himpunan Sarjana Indonesia (HSI).

Namun pada akhirnya negara kita tetap berdiri tegak dengan Pancasila sebagai dasar ideologinya, golongan-golongan yang mencoba memberontak mengubah dasar negara lenyap dengan sendirinya, karena memang para arwah pendiri bangsa kita tetap menjaganya.