2 bulan lalu · 64 view · 4 min baca menit baca · Lingkungan 84503_14254.jpg
Instagram: savelakardowo

Melawan Limbah B3 PT PRIA

PT. PRIA (PT. Putra Restu Ibu Abadi) yang terletkak di Jetis, Mojokerto, Jawa Timur, merupakan industri yang bergerak di bidang pengolahan dan pemanfaatan limbah B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun) maupun non B3. Industri yang sudah berdiri selama 9 tahun ini hadir untuk mengolah limbah B3 kurang lebih dari 1500 industri di Jawa dan Bali. 

Beberapa tahun pertama perusahaan berdiri, masyarakat sekitar tidak mengetahui dampak adanya pengelolaan limbah yang dilakukan oleh PT. PRIA. Masyarakat sekitar baru mengetahui di tahun ketiga tentang adanya dampak lingkungan oleh aktifitas perusahaan setelah adanya penelitian yang dilakukan ECOTON (Ecological Observation and Wetland Conservation)

Dampak yang terlihat secara langsung yaitu air tanah yang digunakan mandi menyebabkan kulit gatal. Selain itu, lahan pertanian menjadi tidak lagi produktif. Bau menyengat dari aktifitas pengolahan limbah kerap juga tercium saat angin menghembus ke pemukiman warga.

Ratusan ton limbah B3 didatangkan perharinya ke PT. PRIA untuk diolah. Pengelolaan limbah B3 oleh PT. PRIA ternyata tidak semuanya berdasarkan SOP. Menurut keterangan masyarakat sekitar, PT. PRIA melakukan penimbunan limbah B3 ini di area perusahaan tempat berdirinya PT. PRIA. Limbah yang ditimbun membuat air tanah di 5 dusun sekitar menjadi tidak layak digunakan.


Berdasarkan SK Permenkes No. 492 Tahun 2010 tentang Persyaratan Kualitas Air Minum, batas maksimal TDS (Total Dissolve Solid) yang diatur yaitu 500 mg/l. Lebih dari 500 mg/l berarti air tersebut tidak layak minum. Sedangkan kadar TDS yang diukur di area sekitar berdirinya PT. PRIA maupun dibeberapa titik sumber air, menunjukkan hasil tes TDS diatas 500 mg/l. 

Uji kadar TDS dilakukan didalam serangkaian Kegiatan Kunjungan Kerja Spesifik Komisi VII DPR RI yang dilaksanakan pada tanggal 21-22 Oktober 2016. Dikutip dari Laporan Kunjungan Kerja Spesifik Komisi VII DPR RI, berikut merupakan hasil uji yang telah dilakukan:

Dari hasil uji tes TDS diatas menunjukkan nilai TDS di berbagai tempat melebihi angka 500 mg/l. Hasil ini melebihi standar yang ditetapkan oleh Kemenkes, bahkan juga melebihi aturan yang ditetapkan oleh BLH Jatim di angka 1000 mg/l. Tentu kadar zat padat terlarut ini tidak layak untuk digunakan minum ataupun digunakan untuk memasak. 

Mengatasi hal tersebut, pemprov Jatim melalui Wakil Gubernur Jawa Timur periode 2013-2018 Drs. H. Saifullah Yusuf yang kemudian akrab disapa Gus Ipul memberikan bantuan senilai 125 juta, dengan rincian 75 juta untuk bantuan air bersih dan 50 juta untuk penelitian yang bekerja sama dengan tim independen dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS). 

Sebelum datangnya bantuan dari pemprov Jatim, masyarakat Lakardowo beberapa kali melakukan aksi demo ke Pemkab Mojokerto, lanjut hingga ke provinsi dan akhirnya didengar oleh Wagub Jatim saat itu. Tidak berhenti sampai disitu, aksi demo sampai dilakukan ke Pemerintah Pusat. 

Hasilnya selalu tidak sesuai tuntutan yang diadukan dengan dalih bukti tidak nyata tentang aduan adanya penimbunan limbah B3 di area perusahaan. Dilain sisi, masyarakat lakardowo mengklaim pernah mengambil video amatir tentang aktifitas penimbunan limbah yang dilakukan oleh PT. PRIA. 

Untuk menyadarkan masyarakat umum dan masyarakat Lakardowo pada khususnya akan bahayanya limbah B3, kelompok Pendowo Bangkit (Penduduk Lakardowo Bangkit) membuat wisata limbah. Ya, wisata limbah hasil olahan PT. PRIA. 

Wisata ini bukan untuk hiburan seperti tempat wisatapada umumnya, wisata limbah ini bertujuan sebagai wisata edukasi dan memberikan informasi ke publik bahwa tanah mereka tercemar oleh aktifitas industri yang dilakukan PT. PRIA.


Peserta wisata limbah akan didampingi oleh anggota Pendowo untuk mengunjungi titik-titik lokasi dimana PT. PRIA menimbun limbah mereka beberapa tahun silam, bahkan ada rumah warga yang pondasinya dari sebagian limbah dari PT. PRIA dijuluki sebagai Museum Limbah Nasional. 

Bukan tanpa alasan, karena semua instansi terkait seperti BLH (Badan Lingkungan Hidup) Mojokerto, BLH Jatim, KLHK (Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan), LSM Ecoton, DPRD Jawa Timur, tim independen dari ITS, sampai Komisi VII DPR RI pernah mengunjungi rumah tersebut. 

Selain mengunjungi lokasi yang menjadi saksi bisu tercemarnya lingkungan Desa Lakardowo, peserta wisata limbah juga diajak secara langsung menguji kadar TDS di beberapa titik sumber air.

Sistem edukasi ini dikemas dalam bentuk wisata edukasi agar membuka kesadaran akan bahayanya limbah B3. “Cukup warga Desa Lakardowo yang menjadi korban. Biar peristiwa di Desa Lakardowo sebagai pelajaran berharga,” ucap Sarpan, anggota Presidium Penduduk Lakardowo Bangkit. 

Berharap kepada instansi pemerintahan dirasa tidak ada jalan keluar hingga saat ini, dimana masyarakat Lakardowo sedang memperjuangkan lingkungannya, diduga masyarakat Lakardowo bahwa instansi terkait disuap oleh PT. PRIA. Karena dari izin yang dikantongi perusahaan ini tidak ada yang terkait penimbunan limbah apapun. 

Hal ini bertentangan dengan video yang tersebar bahwasanya PT. PRIA diduga melakukan penimbunan. Tidak hanya itu, dengan kejadian Lakardowo. Perjuangan panjang selama beberapa tahun terakhir menjadi mimpi hingga kini.

Pernah juga ditemukan bahwa PT. PRIA membuang dan menimbun hasil olahan limbah di kota tetangga dan ditempatkan berbagai instalasi atau sarana militer di Bumi Marinir Karang Pilang, Satuan Radar 222 Ploso Jombang, Pusdiklat AURI Kenjeran dan beberapa lokasi kawasan militer di Sidoarjo dan Surabaya. 

Imbasnya, pernah didapatkan laporan bahwa ada kecelakaan di lokasi timbunan limbah di AURI Raci Pasuruan yang menyebabkan kaki melepuh terkena limbah B3 yang masih panas.

Setelah adanya temuan kejadian di AURI Raci, Ecoton melaporkan informasi ini ke KLHK, Kantor Staf Kepresidenan RI, Gubernur Jatim, DLH (Dinas Lingkungan Hidup) Jatim dan DPR RI Komisi VII. “Namun, hasil pengaduan ini tidak ditanggapi serius karena hingga minggu pertama Februari 2019, tidak ada gelagat penindakan dan adanya rencana pemulihan,”kata Azis, Team Leader Advokasi Jatim Tolak Racun, Ecoton.


Sudah lama masyarakat Desa Lakardowo tidak hidup dengan kondisi lingkungan seperti sebelum berdirinya PT. PRIA di tanah mereka. Lingkungan yang diharapkan menjadi saksi bisu pertumbuhan anak-anak mereka yang akan menjadi generasi penerus mereka dan bangsa, kini dikhawatirkan akan kondisinya setiap saat. 

Merasa lingkungan yang mereka perjuangkan tidak ada artinya lagi. Lingkungan bukan limbah yang dapat diolah. Lingkungan dapat menunjukkan kuasanya kapanpun dia mau. Jangan sampai mengikis harapan menjadi jeritan nyawa.

Alam punya hak
Alam bukan alat
Udara berhak besih
Air berhak jernih
Tanah berhak subur
Kami berhak makmur

Artikel Terkait