Agama adalah suatu sistem kepercayaan. Menurut Cak Nur, kepercayaan sangat penting bagi perkembangan peradaban. Sebab, kepercayaan akan melahirkan tata nilai yang akan menopang hidup dan budaya peradaban itu sendiri.

Oleh karena itu, sumber kepercayaan haruslah merujuk pada kebenaran. Sebab, apabila kepercayaan itu keliru, maka pondasi peradaban akan rapuh bahkan akan menghasilkan peradaban yang rusak.

Aqidah adalah prinsip dasar kepercayaan. Aqidah adalah esensi sekaligus identitas bagi kepercayaan tersebut. Sehingga, apabila aqidah menyimpang, maka agama yang dianut menjadi keliru. Bila agama yang dianut adalah keliru, maka peradaban yang dihasilkan akan menjadi keliru.

Hal inilah (mungkin) yang menjadi alasan filosofis mengapa kaum agamawan akan reaktif apabila menemui adanya suatu penyimpangan aqidah dari umatnya. Penyimpangan tersebut bahkan harus ditegaskan dalam terma aliran atau ajaran sesat agar masyarakat dapat segera meninggalkan dan menjauhi penyimpangan tersebut.

Jika aqidah yang sesat dianggap mengancam peradaban, lantas bagaimana dengan pengetahuan (bukan agama) yang sesat yang nyata-nyata membahayakan peradaban? Apakah tidak seharusnya kita juga mengecam dan menuntut agar pengetahuan yang sesat itu agar segera ditinggalkan dan dijauhi?

Apakah pengetahuan tersebut tidak bisa kita kategorikan sebagai ajaran sesat? Apalagi jika ternyata pengetahuan sesat tersebut dibumbui dengan hal-hal yang berbau agama sehingga mengundang percaya bagi orang-orang yang menerima informasi tersebut.

Bukan apanya, guys. Saat ini berkembang begitu banyak informasi dan teori sesat yang mencoba melawan kebenaran ilmiah berdasarkan asumsi-logika dangkal dan persangkaan belaka, bahkan mencari pembenaran dari dalil-dalil agama.

Ada yang mengistilahkan mereka dengan pseudoscience karena berusaha menjelaskan teori dengan cara yang seolah-olah ilmiah, namun sama sekali tidak ilmiah. Kebanyakan mereka yang melemparkan informasi dan teori tersebut bukan berasal dari kalangan ilmuan atau yang memiliki keahlian di bidang informasi atau teori yang disampaikan.

Namun celakanya, karena mereka memiliki kemampuan persuasif yang baik dan memanfaatkan sentimen tertentu sehingga informasi dan teori mereka dapat tersebar dan diyakini oleh sebagian orang. Dan biasanya yang menjadi penyebar dan penganut teori sesat tersebut pada umumnya adalah mereka yang cenderung menyukai teori konspirasi dan selalu menjadi korban hoax. Ya, sebangsa umat Jonru-lah.

Teori bumi datar adalah teori antiscience yang mungkin paling bikin gemes. Kenyataan bahwa masih ada yang mempercayai bahwa bumi itu datar di tengah kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi tentu cukup membuat kita geleng-geleng kepala, beristigfar, bahkan mengucapkan “innalillah” dalam hati.

Apa mereka tidak kenal dengan aplikasi rekaman pencitraan satelit yang bernama Google Earth, ya? Kalo mereka masih ragu dengan aplikasi itu karena sarat animasi, kan bisa nonton NASA Live di YouTube yang memperlihatkan tayangan video bumi secara live dari satelit luar angkasa selama 24 jam non-stop.

Tapi, jika memang dasarnya skeptis dan bebal, ya tidak akan ada gunanya. Yang wow-nyamereka punya komunitas internasional unyu-unyu bernama International Flat Earth Society. Gokil, ya?

Bersamaan dengan teori bumi datar, mereka yang meyakini teori ini pada umumnya juga tidak mempercayai pendaratan bulan pertama kali oleh Apollo. Mereka meyakini bahwa teori bumi bulat dan pendaratan bulan adalah hanyalah suatu rekayasa dari NASA. Ada pula suatu kaum yang mempercayai bahwa dinosaurus itu tidak pernah ada.

Terkait dengan teori ini, mereka juga tidak mempercayai bahwa minyak bumi berasal dari fosil. Dasar teori mereka pun hanyalah suatu penyangkalan atas temuan arkeologis yang ada. Menurut mereka, susunan fosil lengkap yang ada di suatu tayangan atau gambar hanyalah hasil penyuntingan menggunakan komputer. Sementara fosil fisik yang ditemukan hanyalah benda buatan.

Begitulah modal amunisi debat mereka. Apa-apa dituduh rekayasa.

Juga yang cukup rame akhir-akhir ini adalah gerakan anti vaksin. Gerakan ini sebenarnya sudah lahir bahkan sejak awal penemuan vaksin tersebut. Edward Jenner dan Louis Pasteur masing-masing menghadapi perlawanan sengit dari penolakan vaksin cacar dan rabies temuan mereka.

Di Inggris, pada tahun 1850-an, sebuah liga anti-vaksinasi telah dibentuk untuk melawan kebijakan vaksinasi wajib cacar air, dan dalam dekade-dekade berikutnya, upaya-upaya terorganisasi serupa muncul di seluruh Eropa dan Amerika Serikat.

Hari ini gerakan tersebut tidak lagi secara gamblang menggunakan istilah “anti-vaksinasi” pada komunitas atau organisasi mereka seperti pada abad ke-19 lalu, melainkan menggunakan nama yang lebih umum dan mengundang simpatik seperti Generation Rescue, Riset Global, Moms Against Mercury, Safe Minds, The Informed Parent, The National Vaccine Information Center, Vaccination Liberation, atau Child Health Safety.

Di Indonesia, mereka pada umumnya menolak vaksin atas dasar status hukum agama yang masih kontroversial, di mana sebenarnya sangat banyak pendapat ulama yang membolehkan vaksin, bahkan Majelis Ulama Indonesia (MUI) mewajibkan vaksin kepada jemaah haji dan umroh mengingat urgensinya.

Yang disayangkan adalah ketika yang menjadi alasan menolak vaksin adalah informasi keliru tentang bahaya vaksin. Yang paling menjengkelkan adalah adanya keyakinan terhadap teori konspirasi di balik vaksin ini.

Meskipun menyetujui atau menolak vaksin adalah hak setiap orang tua, namun harus disadari bahwa resiko dan bahaya yang ditimbulkan akibat menolak vaksin tidak hanya menimpa anak mereka, melainkan juga membahayakan jiwa banyak orang. Ketika orang tua menolak vaksinasi kepada anaknya, maka ketika itu orang tua tersebut tidak memberikan perlindungan imunitas kepada anaknya dari penyakit-penyakit menular yang berbahaya.

Saat anak telah menderita penyakit menular, maka saat itu anak tersebut akan menjadi sumber penularan penyakit infeksi dan akan berpeluang besar menularkan penyakit tersebut pada warga sekitar.

Masalah penyakit menular bukan hanya masalah bangsa Indonesia melainkan juga menjadi masalah dunia mengingat kemampuannya untuk menyebar, sehingga pemberantasan penyakit menular menjadi salah satu tujuan dari komitmen dunia dalam Millennium Development Goals (MDGs).

Adanya contoh-contoh di atas memperlihatkan bahwa penyimpangan atau penyesatan sebenarnya tidak hanya terjadi pada wilayah aqidah namun juga terjadi pada ranah ilmiah. Penyesatan ilmiah dapat menghambat kemajuan sekaligus memundurkan peradaban melalui penyebaran pola pikir yang keliru, bahkan membahayakan peradaban melalui dampaknya.

Maka, semestinya kita tidak hanya waspada terhadap penyesatan aqidah, melainkan juga harus gelisah terhadap maraknya penyesatan ilmiah.

Saatnya kita melawan kesesatan secara filosofis. Andaikan saja kata kafir bisa diperuntukkan bagi mereka yang kufur (menutupi diri) terhadap ilmu pengetahuan, maka sudah tentu harus ada yang juga membuat aksi bela ilmu pengetahuan.