Media sosial merupakan arena yang memungkinkan beragam lintasan pikiran disuarakan dengan bebas. Namun, karena begitu bebasnya, kita saksikan dengan mudah sebagian individu atau kelompok dengan mudah menyuarakan pandangan penuh kebencian di kanal-kanal media sosial mereka.

Kita sering juga mendapat broadcast di media sosial dengan beragam rayuan agar ikut serta menyebarluskan informasi tersebut. Kita tentu tak asing dengan tagline “jangan lupa sebar dan like”, “jangan berhenti di anda”, “copas grup sebelah”, maupun “info grup tetangga”. Banyak yang kemudian terjerat dan percaya berita-berita yang belum tentu benar tersebut. Tak perduli berita hoax, yang penting ikut berbagi informasi.

Padahal media sosial sesungguhnya merupakan ruang pertemuan yang harus dioptimalkan. Medium untuk tetap menyambung silaturahmi ketika kita tak dapat saling bertemu secara langsung. Namun, yang terjadi saat ini ruang pertemuan tersebut justru dijadikan ruang pertempuran.

Akibatnya, perdebatan-perdebatan yang gaduh dan tak sehat mewarnai media sosial kita. Utamanya di momen kampanye Pilkada ini. Saling menyerang karena mempertahankan apa yang diyakininya sebagai kebenaran menjadi pemandangan keseharian di media sosial.   

Kita tentu tak bisa berharap banyak pada masyarakat yang sudah kadung senang bertengkar di kanal media sosialnya, utamanya mereka yang sudah terframe pada pilihan politik maupun pilihan keagaman tertentu. Mengubah pandangan dan perilaku mereka di media sosial bukanlah perkara mudah.

Yang paling memungkinkan untuk diupayakan adalah menguatkan kemampuan literasi digital pada generasi muda. Berusaha melawan beragam hoax dari ruang-ruang kelas, melalui proses pembelajaran.

Dalam konteks ini, guru punya peranan besar. Ruang-ruang kelas harus menjadi corong bagi perlawanan terhadap hoax. Caranya adalah dengan menjadikan pembelajaran di kelas sebagai arena pembiasaan dialog yang konstruktif. Membiasakan agar setiap perbedaan pendapat tak diiringi dengan caci maki dan fitnah.

Tak perlu bertengkar berlebihan meskipun berbeda pemahaman dalam menyikapi isu tertentu. Karena berbeda pendapat merupakan hal yang sangat lumrah.

Meningkatkan Minat Baca

Mudahnya masyarakat menyebar hoax bisa jadi sangat berkorelasi dengan minat baca masyarakat yang rendah. Kondisi minat baca masyarakat Indonesia memang sangat memprihatinkan. Berdasarkan data World’s Most Literate Ranked, minat baca Indonesia berada pada posisi 60 dari 61 negara yang disurvei. Untuk kawasan ASEAN, posisi tersebut berada di bawah Singapura (36), Malaysia (53), dan Thailand (59).

Mentradisikan budaya baca memang tak mudah. Banyak kondisi yang menyebabkan hal tersebut. Kondisi perpustakaan yang tak baik, tak adanya pembiasaan sejak dini, harga buku yang mahal, juga teladan yang kurang dari para pendidik.

Bagi masyarakat miskin, kebutuhan untuk membeli buku bukanlah hal yang utama. Apalagi harga buku di Indonesia masih sangat mahal. Dengan segala keterbatasan yang dimiliki maka membeli buku tak menjadi prioritas utama. Datang ke toko buku adalah suatu kemewahan bagi masyarakat miskin.

Berbeda dengan masyarakat yang sudah memiliki kecukupan finansial. Mereka lebih banyak memiliki pilihan untuk membeli buku yang mereka inginkan. Sejak kecil anak-anak yang berasal dari kalangan menengah atas bahkan sudah dibiasakan dengan tradisi membaca. Berlangganan beragam bacaan seperti koran dan majalah juga rutin datang ke toko buku bukan hal yang sulit dilakukan.

Program Gerakan Literasi Sekolah (GLS) harus terus diupayakan agar minat baca masyarakat semakin meningkat. GLS yang harus dilakukan secara massif dan mesti didukung oleh beragam kalangan. Kerjasama dengan komunitas baca yang ada di beragam daerah harus dijalin erat. GLS tidak boleh hanya menjadi gerakan seremonial.

Komunitas-komunitas baca di berbagai tempat yang selama ini masih bergerak secara individual harus dijahit dan dihubungkan oleh pemerintah hingga menjadi gerakan yang cakupannya lebih besar dan luas. Beragam komunitas baca di beragam tempat tersebut perlu didukung penuh. Gerakan sukarela mereka berkontribusi terhadap penguatan minat baca generasi muda.

Perpustakaan daerah harus semakin aktif mempromosikan program-program yang menarik minat masyarakat untuk datang berkunjung dan membaca. Pesta buku murah harus rutin diselenggarakan, tak hanya di kota-kota besar tetapi mesti menjangkau lebih banyak wilayah di Indonesia. Buku-buku murah harus mampu diakses dan dibeli oleh beragam kalangan. Agar buku menjadi sebaik-baiknya sahabat keseharian masyarakat untuk menghabiskan waktu luangnya. 

Menghadirkan Inspirasi

Minat baca yang rendah juga diperburuk dengan kurang optimalnya sekolah untuk menggerakan semangat baca para siswanya. Membudayakan siswa untuk banyak membaca buku sering luput dalam metode pendidikan di Indonesia. Sering kali guru tak memberikan keteladanan yang cukup bagi siswa untuk bersemangat membaca. Tak banyak guru yang memberikan teladan agar anak mencintai buku.

Padahal guru wajib menjadi sosok yang memberi inspirasi. Agar siswa senang membaca, maka guru harus menjadi sosok yang kuat membaca. Memberikan penguatan-penguatan kepada siswa akan pentingnya membaca. Guru yang malas membaca bukanlah panutan yang baik.

Tentu akan sangat berbahaya apabila guru hanya mewajibkan siswa untuk mempelajari satu buku pada setiap pelajaran yang diberikan. Itupun hanya buku wajib yang disediakan pemerintah. Akhirnya siswa tak mendapatkan perspektif keilmuan yang kaya dari proses pembelajaran di kelas.

Banyak membaca adalah kewajiban bagi guru agar informasi yang disampaikan kepada siswa terus diperbahrui. Kekayaan referensi yang dimiliki guru, akan membuat aktivitas belajar di ruang kelas menjadi lebih menggugah dan memberikan kegairahan-kegairahan intelektual bagi siswa.

Siswa semakin bersemangat mengkaji dan mengkritisi setiap bahan bacaan yang dipelajarinya. Setiap proses pembelajaran berusaha mengelaborasi setiap kemungkinan-kemungkinan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang dimunculkan dari beragam diskusi di kelas. Jawaban yang dihadirkan tak hanya tunggal merujuk pada pilihan-pilihan yang sudah disediakan guru.

Membaca merupakan fundamen dasar yang sangat penting. Dengan membaca para siswa mendapatkan kesempatan untuk menggali inspirasi dari beragam sudut keilmuan. Membaca merupakan kunci untuk mendapatkan pengetahuan dan upaya untuk menjelajahi beragam ruang pemikiran serta menerobos berbagai kemungkinan.

Kita patut belajar pada semangat para founding fathers dalam membaca beragam buku. Misalnya saja Bung Hatta. Selain pembaca yang luar biasa ia juga penulis yang hebat. Tulisannya dalam bentuk buku, kumpulan karangan, artikel masih dapat kita nikmati hingga hari ini. Bung Hatta adalah pemimpin pergerakan yang masih bisa menyempatkan diri untuk menulis buku. Kajian-kajiannya berkaitan dengan Filsafat Yunani, Sosiologi Ekonomi, dan ilmu-ilmu sosial lainnya (Abdullah, 2011).

The Grand Old Man, Agus Salim, seperti dikutip Bung Hatta, menyatakan bahwa membaca merupakan jalan yang baik untuk menambah pengetahuan dan mengasah kecerdasan, dan hasil bacaan tersebut kemudian menjadi dasar dan pelajaran dalam masalah hidup (Hatta, 2011).

Maka, sudah sepatutnya guru memberikan banyak referensi kepada siswa mengenai konten pembelajaran. Dengan banyak membaca siswa memiliki perspektif beragam. Mereka tak mudah alergi terhadap pihak yang berbeda pandangan dan keyakinan. Siswa tak gagap dan gugup berhadapan dengan realitas kehidupan yang terus berubah. Melalui proses ini siswa diajak untuk terus menerus membaca zaman yang terus bergerak.

Kita masih punya tugas besar untuk membuat masyarakat lebih gemar membaca. Karena meningkatkan minat baca adalah ikhtiar awal untuk memajukan bangsa. Saya membayangkan di masa mendatang, anak-anak muda yang ditempa dengan pembiasan diskusi dan dialog akan menjadi orang-orang yang bijak dalam setiap kata dan perbuatannya. Mampu memberikan kedamaian bagi orang-orang disekitarnya. Tak mudah menghakimi orang lain yang berbeda pandangan.