Dulu, beberapa orang mungkin masih mengalami metode klipping yang sering digunakan ketika mengumpulkan informasi. Jika kita ingin mendapat informasi untuk tugas sekolah misalnya, kita harus berusaha mencari informasi atau berita dari berbagai sumber. Kebanyakan sumber itu adalah sumber tertulis, seperti majalah, buku, dan koran.

Metode itu mungkin saja masih digunakan sampai sekarang. Tetapi, tidak sepopuler dulu lagi. Saat ini ada metode yang lain mudah dan efisien untuk mencari informasi.  Kini, metode itu digeser dengan keberadaan internet. Dengan bantuan Internet, siapa pun yang membutuhkan informasi bisa mendapatkannya secepat kilat cukup dengan searching dengan bantuan search engine.

Ada banyak mesin pencari yang siap membantu anda. Sebut saja mesin pencari yang sudah terkenal, seperti Google, Yahoo, DuckDuck Go, Ask.com, dan masih banyak lagi. Cukup ketik beberapa kata yang menjadi kata kunci pencarian pada bagian yang disediakan, lalu sisanya biarkan search engine yang bekerja.

Di sisi lain, internet juga digunakan untuk media komunikasi secara privat atau umum. Beberapa aplikasi menyediakan fitur bagi para pangguna untuk ngobrol secara privat dengan pengguna lain, misalnya aplikasi gratis WhatsApp. Aplikasi itu sudah banyak digunakan masyarakat dan bukan barang asing lagi, bahkan menjadi semacam aplikasi wajib bagi pengguna smartphone karena pengguna yang begitu banyak.

Aplikasi pesan instan memberi kemudahan dan efektifitas waktu bagi siapapun yang menggunakannya. Siapa yang tidak tergiur dengan mudahnya berkomunikasi dalam hitungan sepersekian detik. Pengguna tidak perlu mengirim surat atau mengatakan pesan secara langsung, ia hanya perlu menuliskannya dengan jari diatas smartphone atau komputer.

Tak hanya aplikasi chatting, aplikasi media sosial pun juga memiliki banyak peminat. Survei 2 tahun lalu yang dilakukan APJII (Asosiasi Pengguna Jasa Internet Indonesia) menunjukkan bahwa ada tiga media sosial yang sering dikunjungi. Ketiga media sosial itu adalah Facebook, Youtube dan Instagram.

Internet tidak hanya memberi efek positif terhadap pengguna. Beberapa aplikasi yang disebutkan diatas ternyata tidak hanya memberi efek positif, tetapi juga memberi efek negatif. Apalagi kalau aplikasi itu dipakai untuk kepentingan yang merugikan orang banyak. Contohnya saja, teroris, koruptor dan penyebar hoax (berita bohong).

Kembali pada topik media sosial, Akhir-akhir ini media sosial sering menjadi bahan perbincangan di masyarakat. Bagaimana tidak, rasa-rasanya para pendiri facebook sudah tidak dapat membendung kekuatan raksasa buatan mereka sendiri. Beberapa konten yang ada di dalam facebook adalah konten berbahaya yang diunggah oleh para penyebar hoax. Padahal konten-konten itu umumnya berbahaya untuk dikonsumsi publik.

Sebenarnya tidak begitu jelas apa maksud dari hoax-hoax yang disebar. Konten-konten yang disebar punya berbagai macam tema. Kadangkala terkandung unsur SARA, kadang unsur politik, atau tentang apapun yang sedang trend di masyarakat.

Beberapa pelaku yang diduga dan terbukti sudah di proses secara hukum. Tapi, tidak seluruhnya beres. Masih ada para pengedar hoax yang bersembunyi di tengah masyarakat. Mereka masih mengincar segala berita yang memiliki potensi untuk diburamkan kebenarannya.

Negara tidak dapat bekerja sendiri untuk mengatasi hoax-hoax yang beredar di masyarakat. Kepolisian telah meminta para petinggi facebook di Indonesia untuk bekerja sama membendung hoax-hoax di media sosial. Sepertinya kesepakatan itu masih belum telihat di antara dua lembaga itu. Karena buktinya kabar-kabar hoax masih sering beredar di masyarakat.

Plato, seorang filsuf jaman Yunani Kuno, telah mempunyai pandangan yang masih relevan sampai saat ini. Pada zaman itu mucul banyak pemikiran yang cukup meresahkan. Orang-orang saat itu cukup kabur untuk menentukan kebenaran. Hal ini disebabkan kaum sofis yang tidak percaya akan kebenaran mutlak dan umum. Mereka menganggap bahwa yang benar itu relatif sesuai dengan konteksnya.

Dapat disimpulkan bahwa kebenaran menurut kaum sofis tidak menentu. Bisa saja mereka menyetujui satu hal, namun di waktu yang berbeda mereka menolak hal yang sama. Mereka kurang konsisten dengan apa yang ingin diajarkan kepada masyarakat. Mereka memberikan ajaran atas dasar doxa (opini) saja. Segala hal yang diajarkan belum tentu terjadi di dalam realitas atau fakta.

Doxa tidak memiliki sumber yang jelas. Sangat mungkin, Doxa dilandasi reaksi spontan atas suatu realitas. Unsur subjektif atas realitas masih Nampak dalam uraian opini. Subjek tidak menggali lebih dalam, namun berhenti pada hal-hal dangkal. Hasilnya suatu argumen yang masih rapuh.

Salah satu contoh opini yang meragukan ialah ilusi tentang masyrakat islam yang merasa ditindas. Argumen ini diperkuat dengan adanya kasus penistaan Al-quran serta kasus pembubaran ormas. Kaitan antara argumen penindasan dengan kasus-kasus yang lebih partikular perlu diselidiki kebenarannya. Apakah memang benar demikian adanya? Ataukah argumen tersebut hanya dilandaskan opini saja?.

Lawan dari doxa adalah episteme (pengetahuan). Segala hal yang melalui jalan episteme tentu lebih bijak, karena didasari oleh sumber dan fakta yang memang sedemikian adanya. Misalnya ada orang yang berpendapat garam itu manis. Ia berpendapat demikian karena orang tuanya mengatakan demikian sejak kecil. Padahal, kerangka pikir demikian perlu dibuktikan kebenarannya. Tidak sekedar menerima begitu saja bahwa garam itu manis. Fakta kebenarannya adalah garam itu asin.

Pengetahuan lebih tinggi tingkatannya dibanding dengan opini. Pengetahuan mengadaikan sumber yang jelas dan terverifikasi. Tujuannya juga jelas, yakni untuk memahami suatu realitas. Proses pemahaman atau mengetahui seseorang menuju pada kesesuaian antara objek pada realitas dengan pikiran manusia, yakni kebenaran.

Satu ciri khas mengenai filsuf ialah pencari kebenaran. Mencintai dalam arti menekuni proses untuk menelusuri suatu permasalahan sampai kepada kepada akar-akarnya. Suatu dasar atau landasan yang menggerakkan sesuatu hingga muncul ke permukaan dan dicerap panca indera. Akar ini yang kemudian menjadi bahan untuk diselidiki dan dikoreksi bila mungkin.

Aristoteles, seorang murid Plato, dalam bukunya yang berjudul Metafisika mengatakan, “All men by nature desire to know.” Kalimat tersebut menegaskan suatu kodrat yang dimiliki manusia untuk mengetahui dunia disekitarnya. Karena kodrat tersebut, setiap orang berusaha memahami kejadian-kejadian disekitarnya.

Kegiatan memahami jaman sekarang dapat dipermudah dengan gawai. Melalui gawai seseorang dapat lebih mudah mengakses informasi yang sedang trend. Namun, permasalahannya di dalam internet tersedia informasi yang cukup banyak. Pengguna perlu lebih kritis terhadapnya. Belum tentu sebuah informasi benar adanya. Belum tentu pula seratus persen benar. Contohnya hoax-hoax yang beredar di facebook dan instagram. Kebijakan pembaca perlu ditingkatkan dalam hal ini.

Bahaya selanjutnya yang disebabkan hoax ialah tindakan masyarakat. Saat ini masalah-masalah yang berkaitan dengan unsur SARA masih sensitif di masyarakat. Berita-berita yang menyinggung unsur tersebut sangat berpotensi untuk diburamkan hingga menumbuhkan tindakan-tindakan merugikan masyarakat luas.

Dalam konteks metode etika terapan, ada bagian dimana seseorang perlu mencari informasi yang obyektif. Ketika seseorang dihadapkan kepada suatu permasalahan, secara spontan, tentu ia akan memilih sikap (pro atau kontra). 

Pilihan sikap seseorang terhadap suatu problem harus didasarkan sebuah riset atau pencarian informasi yang cukup memadai. Apabila unsur ini tidak dipenuhi, bisa jadi posisi pribadi terhadap sebuah problem adalah posisi subyektif saya saja. Misalnya ketika saya mendengar sebuah berita yang sangat populer di dalam media, saya akan mencoba memverifikasi sumber tersebut ke berbagai media yang terpercaya. 

Setelah mendapat informasi yang terverifikasi, seseorang dapat membentuk sebuah argumen yang menganalisis problem itu. Kalau dalam konteks etika, seseorang dapat menganalisis suatu berita dengan norma-norma moral yang sudah ada. Contohnya ketika menganalisis maraknya kasus korupsi. Norma-norma moral tentu bertentangan dengan tindakan para koruptor itu.