Haiss urip kaet jaman SMP sampek saiki yo ra onok bedone ya, tetep ngene ae la yamutu walayahya, ngopa-ngopi ra bermutu ngetekno biayaya. Ngopa ngopi gak bermutu habisin biaya””.

Begitulah sambatan kawan saya, yang membuat saya sebagai pendengar kaget sekaligus terpingkal-pingkal karena eufemisme yang ngena di kalbu dan lucu Gett. Ya, semenjak diterapkan “New Normal” yang sudah direvisi diksinya menjadi adaptasi kebiasan baru itu, saya sebagai pemuda penikmat air hitam kembali melakukan ritual ongkang-ongkang bersama kawan saya.

Meski kaget, saya meyakini sambatan itu semacam pledoi atas keadaan senasib sepengangguran yang kami alami. La gimana, kawan saya saat ngomong gitu sambil prengas-prengis je dan tetap easy go kalau diajak ngopi, sekalipun ngopinya cuman bahas kutipan normatif di asbak/dinding warkop.

Tetapi, gara-gara keluhan itu saya jadi membatin. Bagaimana dengan orang yang mengkultuskan bahwa setiap nongkrong haruslah produktif dan bermutu? Apakah hal tersebut menjadikan kewajiban yang harus dipenuhi saat nongkrong agar biaya yang dikeluarkan tidak sia-sia? 

Apakah dengan begitu anak tongkrongan yang membahas soal investasi reksadana atau saham, politik mencla-mencle pejabat terkait omnibus law hingga bahas music cadas “peradaban” yang katanya keras dan geramnya terasa ke bass itu, lebih baik daripada mereka yang hanya sebal-sebul sambil cengengesan bahas hal konyol soal asmara hingga role hero favorit di mobel lejen?

Hal tersebut bisa benar, tapi apa iya? Sekadar bertemu dan berkumpul untuk nyeruput wedang saja kita harus memiliki suatu kesiapan selalu terbebani menerima materi yang setara dengan 10 sks kuliah bahkan lebih. Saya kira hal seperti itu telalu lebay dan kurang menggembirakan.

***

Kasus–kasus hilangnya budaya haha-hihi seperti itu sering kali dijumpai ketika nongkrong dengan salah satu aktivis kampus atau pegiat nikah muda. Prinsip normatif yang biasanya dianut yaitu waktu adalah uang, di mana sedetik waktu harus diisi dengan hal yang berkualitas. 

Selain itu, ketika kita nyeletuk hal yang sederhana masalah kapan terakhir ngudud kretek saja, acap kali jawabannya retorik dan melebar hingga persoalan Indonesia yang tak kunjung meratifikasi FCTC (Framework Convention on Tobacco Control), traktat yang merugikan kaum udud wal’jamaah itu.

Sialnya, kaum seperti itu semacam mendapatkan ruang tersendiri agar tetap eksis dan menebarkan propaganda untuk lebih menjauhkan dari budaya haha-hihi saat ngopi. Kaum-kaum Banyak sepatu minim privasi susah pergi” (gak usah pakek nyanyi dung hoho) tersebut terfasilitasi dengan adanya kafe-kafe literasi yang mendaku harus mendharmabaktikan diri demi meningkatkan literasi masyarakat endonesia tercintah, mereka merasa berdosa jika tidak ikut andil dalam meningkatkan literasi masyarakat Indonesia yang menduduki peringkat ke-60 dari 61 negara itu. 

Saya tak lagi membahas soal riset tingkat literasi itu, riset yang mungkin hanya mengambil dari data kunjungan perpustakan dan tidak menyadarinya kalau perpus hanya tempat singgah untuk numpang wifi agar bisa mendownload e-book gratis serta membaca media-media online tepercaya dan menyenangkan seperti Qureta, Detik, Mojok, dan sebagainya.

Biasanya kafe literasi akan mengadakan semacam kajian dan diskusi mengenai hal-hal aktual, progresif, yang pokoknya menyangkut kepentingan rakyat! Alih-alih pengunjung mendapat ilmu dan bekal heroic untuk menanggapi isu, justru mereka seperti mendapatkan tekanan dari pengunjung lain yang lebih menguasai topik pembahasan. 

Mereka yang datang dengan wawasan kosong mengenai topik menjadi terasingkan dan sukar untuk nimbrung dalam topik diskusi sehingga memilih diam dan mendengarkan sambil sesekali upload story agar kelihatan pemuda yang progresif dan intelek.

Belum lagi ketika mereka yang tidak paham terkait topik diskusi ditanyai oleh pemateri dan bingung atau bahkan tidak bisa menjawabnya, betapa mengerikan suasana seperti itu, mau menjawab takut salah, tidak menjawab kelihatan bego. Hal semacam itu dapat menjadikan trauma tersendiri bagi pengunjung, mereka kemudian akan enggan mengikuti jika terdapat acara diskusi semacam itu lagi. 

Jika sudah seperti itu, semangat literasi apa yang digaungkan? Apakah hal yang mencekamkan seperti itu menjadi asyik dan berarti untuk dikenang? Mengapa tidak membahas saja soal mengonsolidasikan hati agar tidak mudah patah hati? Atau hal-hal informatif seperti tips jitu tembus togel dan sebagainya?

***

Hal semacam diskusi berat-berat mungkin penting namun tak harus selalu dihadirkan dan dibahas selalu saat ngopi. Tidak perlu memberikan pengakuan dengan bilang “Ini baru ngopi” ketika kita baru memulai topik yang rumit dan aktual. 

Ngopilah dengan suka cita. Karena ngopi adalah rest area untuk sesekali merenung dan bersenda gurau di tengah masifnya informasi yang datang secara brutal tanpa henti. Mengaktualisasi diri dari hal yang sederhana dengan lebih memahami kondisi pada runtutan masalah sebenarnya. Oleh karena itulah ngopi dengan bertemu kawan menjadi rest area tersendiri untuk merefresh diri.

Ngopi dengan menertawakan nasib bersama lebih menghangatkan suasana. Menertawakan nasib yang tak kunjung dapat dosen pembimbing skripsi atau revisian yang belum dibaca dosen padahal dosen eksis membuat story WA. 

Selain itu, ngerasani pelayan yang berlalu lalang mengantarkan pesanan sambil meneriakan nama-nama samaran pemesan, mulai dari juminten, powerranger, boboy, hem (nama yang sangat menguji kesabaran pelayan), hingga tariksis dengan harapan yang memanggil menyahut semongko.

Hal sederhana seperti itulah yang melestarikan budaya haha-hihi saat ngopi. Budaya tersebut harus mengakar dan terus dilestarikan agar generasi ke depan tidak menjadi freak, tidak menjadi pemuda sambatan. 

Ada adagium dari produk chiki yang bilang “life is never flat”. 

Ngopi yang sesederhana-sederhananya, selucu-lucunya, seasyik-asyiknya adalah ngopi yang tak perlu selalu memikirkan bermutu tidaknya obrolan. Masalah nanti dalam ngobrol menjurus kepada hal yang ruwet dan menjadi bermutu itu soal lain. Biarlah kebermutuan ngopi datang dengan sendirinya tanpa perlu membuatnya menjadi bermutu, karena ngopi adalah perayaan nasib yang sangat menggembirakan.