Mahasiswa
2 tahun lalu · 514 view · 4 menit baca · Budaya laughpills.jpg

Melawan dengan Humor

Using the same words is not enough to get people to understand each other: they have to use the same words for the same species of inner experiences too; ultimately, people have to have the same experience base.” – Frederich Nietzche

Ada suatu anomali terjadi saat tragedi Brussels terjadi. Setelah sebelumnya terjadi tragedi pengeboman yang dilakukan oleh ISIS, terjadi demonstrasi yang bernada anti-Islam di Belgia. Para demonstran yang marah menjadikan Muslim Expo – yang saat itu sedang berlangsung di Belgia - sebagai sasaran. Banyak muslim yang berang, tentu saja.

Namun di antara mereka yang marah, ada seorang gadis muslim mengambil gambar dari kejadian itu. Ia berswafoto (selfie) dengan latar belakang publik yang marah. Lantas, hal tersebut menjadi sebuah berita yang cukup sensasional. Ia menjadikan berita marah tersebut, menjadi suatu guyonan yang menggelikan. Melawan sebuah isu yang serius, dengan jenaka.

Mungkin tak banyak yang kita lakukan dengan humor. Dalam sejarah pula, tidak ada sebuah rezim yang jatuh karena humor. Humor secara entitas adalah wujud perlawanan yang lemah. Tentu jika dibandingkan dengan koar-koar di jalanan dan hingga yang terekstrim, melalui militer.

Maka, saat berita ini muncul ke media, masyarakat global tentu terbagi dalam dua sudut: banyak yang menyangka gadis ini hanya sebagai mencari perhatian, atau menampar bahwa muslim tidak seburuk itu. Hal ini wajar, mengingat interpretasi manusia memang bisa sangat luas dalam sebuah artian yang sama.

Namun, bagi saya sendiri, ini adalah sebuah kemenangan humor atas stereotipe yang melekat kepada muslim. Tak sedikit muslim yang sadar, bahwa tak melulu harus serius untuk melawan. Seperti saya.

Dalam sebuah artikel di Pindai, pernah dikatakan begini, “Ada sebuah adagium, bila suatu masyarakat mengalami tekanan dan tak ampu atau kalah terus dalam usaha melawan, maka salah satu bentuk perlawanan itu dengan humor…” Dan dalam artikel yang sama pula dijelaskan, “Lelucon juga dapat berfungsi sebagai kritik terhadap keadaan tidak menyenangkan atau kebosanan di tempat atau negaranya sendiri.”

Hal ini menyadarkan bahwa humor sendiri lahir karena kejenuhan atau kegagalan kita mengubah nasib dengan usaha-usaha serius. Termasuk politik ras yang saya gunakan sebagai pembuka tulisan ini.

Di Indonesia sendiri, meski angkanya tidak saya dapatkan tepatnya berapa, angka rasisme memang tinggi. Saya sendiri masih sering menemui isu mengenai keturunan Tionghoa di Indonesia. Stigma negatif melekat, warisan Orde Baru dan bahkan politik devide et impera di zaman Hindia Belanda.

Banyak orang-orang keturunan Tionghoa di zaman Hindia Belanda yang mendapat posisi strategis. Sementara di Orde Baru, mereka dituding sebagai musuh negara karena dikira komunis. Sebuah politik ras yang kejam, dan salah satu dosa negara terhadap keturunan Tionghoa.

Maka, jangan heran jika banyak berita miring yang mengajak kita anti-Tionghoa. Mulai dari isu 10 juta pekerja dari Tionghoa yang menggeruk kekayaan negara. Menghidupkan stereotipe bahwa ras Tionghoa adalah licik dan hanya menyusahkan pribumi.

Pula di Cirebon, ada sebuah ajakan yang sangat kasar – mengatakan sebaiknya Tionghoa angkat kaki dari Cirebon oleh mereka yang mengaku muslim. Dan mungkin, hal-hal yang sangat familiar dengan keseharian anda: mendengar umpatan ‘Dasar Cina’, melayang dari mulut-mulut pribumi.

Lucunya, kita lupa bahwa masyarakat keturunan Tionghoa telah menjadi bagian dari negara ini juga. Hanya saja, tak seperti mereka yang keturunan India dan terutama, Arab, kita masih belum bisa sepenuhnya menerima. Padahal, banyak tokoh perubah bangsa muncul dari keturunan Tionghoa. Mulai dari menyebut ‘bumiputera’ sebagai istilah untuk menyebut orang Indonesia.

Soe Hok Gie, yang menjadi idola-idola bangsa. Pula, Ceng Ho, yang datang dan menyebarkan agama Islam, dan termasuk ke negeri Cirebon. Singkatnya, banyak kontribusi keturunan Tionghoa kepada negara ini – yang sayangnya, justru terlupakan.

Hal ini tentu menyadarkan betapa utopisnya mimpi “Bhinneka Tunggal Ika” bagi bangsa ini. Mimpi menyatukan beragam-ragam ras memang sangat sulit. Dengan banyaknya ras, akan terjadi bermacam gesekan. Selain dengan keturunan Tionghoa, ada kisah gesekan antara Jawa dan Papua yang terjadi di Yogyakarta yang sempat panas pada pertengahan Juli lalu.

Perbedaan persepsi membangun sebuah kesulitan untuk mengerti satu sama lain. Dan rasisme, pada akhirnya memperbesar masalah ini.

Kita lupa bahwa keturunan Tionghoa sendiri sudah hidup beberapa keturunan di Indonesia. Mereka ada yang menikah dengan pribumi, dan melakukan akulturasi. Mereka hidup dan menjadi bagian dari kayanya bangsa ini dalam budaya – yang sering dibangga-banggakan itu. Mereka, pada akhirnya, sama dengan masyarakat Indonesia lainnya yang berusaha memajukan negara ini dengan hal-hal lainnya.

Mengenai perlawanan mereka dengan humor, tak banyak yang saya ingat. Hanya buku Ernest Prakarsa berjudul Ngenest yang menceritakan tentang hidupnya yang hidup dalam rasisme dan dibumbui dengan humor. Pula, dari teman saya, seorang keturunan Tionghoa, kepada saya. Ia tak lagi ingin melawan stereotipe keturunan Tionghoa yang muncul, dan memilih melawannya dengan guyonan.

“Dasar Cina”, adalah kata yang malah mudah melontar darinya dan memberikan jenaka yang menggelikan tiap kali kami melakukan sesuatu yang didefinisikan sebagai suatu hal yang dianggap masyarakat sebagai sesuatu yang sangat Tionghoa. Saya tersadar pada akhirnya, perlawanan paling lemah dan paling mengena bisa dengan humor – ia bisa menggelikan, sekaligus menampar, ia membutuhkan kebesaran hati yang luar biasa untuk melakukannya.

Lagipula, apa yang berubah jika kita serius? Maka berlakulah self-satire dan tertawalah!

#LombaEsaiKemanusiaan

Artikel Terkait