Melihat dan membaca berita tentang pelarangan buku membuat kita khawatir akan perkembangan dunia baca di negeri ini. Membaca pada akhirnya akan menjadi suatu kegiatan yang menakutkan bagi pembaca buku karena bertentangan dengan atau bisa mengancam eksistensi orang lain.

Lebih baik menumbuhkan iklim kepada pembaca untuk menjadi pembaca yang kritis daripada sekadar melarang dan menyita buku. Hidupkan diskusi-diskusi yang terbuka di setiap elemen masyarakat tanpa ada unsur indoktrinasi itu lebih penting dan membangun.

Membaca kritis memungkinkan orang untuk berpikir saat membaca bukan hanya menelan informasi bacaan secara mentah mentah. Dalam membaca kritis seseorang akan selalu mempertanyakan isi buku yang ia baca. Mereka akan mencari pembanding dengan buku-buku lain atau juga membandingkan dengan informasi yang telah ia punya sebelumnya.

Ada dialog antara pembaca dan buku saat membaca kritis diterapkan. Buku bukanlah guru yang bisa mengidoktrinasi sebagaimana guru. Proses transfer pengetahuan dengan buku memerlukan penguasaan logika pembaca.

Pembaca adalah orang yang mencari referensi atau informasi dari sebuah buku. Bisa jadi, ia sudah punya asumsi terlebih dahulu hingga harus mencari buku dengan subjek tertentu. Saat proses membaca kritis inilah akan terjadi proses memilih dan memilah mana yang harus ia pakai dan tidak.

Bisa jadi ia memakai keseluruhan isi buku tersebut karena isinya sama dengan yang ia asumsikan sebelumnya. Tapi bisa juga pembaca malah akan menolak habis-habisan secara membabi buta isi buku yang ia baca karena isinya bertentangan dengan apa yang ia asumsikan sebelumnya.

Dari penjelasan di atas, tentunya ketakutan pada sebuah bacaan hanyalah sebuah fobia yang tidak pada tempatnya. Tindakan penyitaan buku-buku yang mengulas tentang komunisme dan tokoh-tokohnya adalah berlebihan.

Untuk menanggulangi hadirnya orang-orang yang hanya mempraktikkan pengetahuan pada buku secara literer dan statis, kita perlu memberikan pencerahan teknik-teknik membaca kritis.

Bagaimana memverivikasi sebuah ide di buku dengan konteks yang ada menjadi penting untuk disosialisasikan agar menciptakan orang-orang kritis dan bermental terbuka.

Perjalanan panjang biografi tokoh-tokoh bangsa telah menunjukkan bahwa koleksi bacaannya sangat beragam. Semua genre pengetahuan menjadi koleksinya. 

Bung Hatta, saya rasa, lebih paham komunisme daripada para pengagum Karl Marx, Hegel, dan tokoh komunis lainnya. Tapi bisa kita lihat, Bung Hatta adalah pengkritik paling jenius teori komunisme.

Ia melahirkan teori koperasi yang cukup indah itu, tentunya setelah ia memahami begitu banyak teori ekonomi, baik dari komunis dan kapitalis. Ia bahkan banyak kenal dengan tokoh-tokoh komunis di Indonesia maupun di Belanda saat perjuangan dulu. Inilah salah satu bukti bahwa pembaca buku yang lahap tidak akan mudah terpengaruh isi dari buku yang ia baca, bahkan cenderung akan menghasilkan ide baru.

Bahkan ia mengkritisi teori Bung Karno dengan Nasakomnya. Bung hatta berpendapat, tak mungkin menyatukan komunisme dengan agama karena komunis lebih mengagungkan materialisme yang tentunya berbeda dengan agama yang mendahulukan rasa percaya pada nilai-nilai ilahiah. Tentunya ini disebabkan Bung Hatta telah melahap semua teori itu.

Komunisme telah mati saat ini di dunia. Terbukti banyak negara yang menganutnya telah runtuh dan berubah menjadi demokratis. Bahkan Cina pun yang parlemennya masih dikuasai komunisme mulai membuka diri terhadap dunia luar tak lagi tertutup dan komunal sebagaimana cita-cita komunisme. Tidak ada lagi proletar di era mesin karena mesinlah yang jadi proletar sekarang ini.

Sejarah adalah sesuatu yang bisa menjadi kaca benggala. Kebanyakan buku berhaluan “kiri” adalah produk sejarah yang dicetak ulang. Baik itu biografi tokoh tokohnya maupun teori teorinya. Kita tentunya harus memberikan pada generasi itu untuk memahami sejarah yang ada agar mereka paham akan perjalanan bangsanya.

Ketakutan pada buku hanyalah membuat kita malah berpikir sesat. Buku bukanlah kitab suci yang mesti dipahami dengan keimanan yang harus dipatuhi dan dijalankan. Dengan menganggap buku menjadi ancaman cara berpikir dan tumbuhnya ideologi seseorang, kita telah menganggap buku itu menjadi kitab suci.

Kitab suci adalah sekumpulan doktrin yang harus dipatuhi dan dilaksanakan sebagai wahyu. Suka atau tidak suka apa yang menjadi ajarannya orang harus mematuhi apa-apa yang terkandung dalam kitab suci tersebut sebagai haluan cara beragamanya.

Buku jelas berbeda. Karena jika kita tidak suka, kita bisa mengabaikannya atau malah balik menyerangnya dengan isi tandingan pada buku tersebut. Biar bagaimanapun, manfaat sebuah buku masih tergantung dengan isi kepala dari pembacanya.

Ingat, buku adalah produk budaya yang boleh dikritisi, ditolak, dan diabaikan. Bukan dengan cara membungkam kemunculannya sebagai cara menghadapi sebuah buku. Biarkanlah ia hadir di tengah-tengah pembaca yang kritis yang akan menentukan nasib buku tersebut.

Mari hentikan pelarangan dan pencekalan terhadap sebuah buku karena pembaca adalah manusia yang hidup dengan akal yang bisa memilah dan memilih. Kita pun paham, kitab suci agama pun tak bisa serta-merta memengaruhi manusia menjadi baik. Terbukti dengan masih adanya kejahatan yang terus-menerus terjadi. Itu semua karena jiwa manusia itu dinamis dan masih bisa dipengaruhi lingkungan yang mendidiknya.

Biar bagaimanapun, membungkam hanya akan menimbulkan api dalam sekam.