Sudah Jujurkah Kita

Pada bulan Juni disuatu kesempatan  di luar kota, saya melihat di sudut suatu mall ada penjualan tabloid/koran yang tidak biasa. Koran dijual pada suatu papan yang diatasnya tertulis “Konter Kejujuran, ambil sendiri edisi terbaru pilihan anda, masukkan uang sesuai harga tabloid yang anda pilih ke dalam kotak uang”. Koran dijual tanpa ada penjual yang mengawasinya.

 Rasa penasaran membuat saya berdiri didekat konter itu sekitar 15 menit, dan saya melihat seorang pembeli mengambil koran tanpa memasukkan uang kemudian dengan santai berjalan menjauh. Saya berpikir begini bentuk orang yang sedang melakukan kejahatan mencuri koran!

Di luar negeri , penjualan koran semacam ini sudah biasa, tanpa loper atau kios perantara. Pembeli koran bisa langsung merogoh koran di dalam wadah plastik yang biasanya digantung di tiang listrik ditengah keramaian, memasukkan uang atau mengambil kembalian. Murah, praktis, sekaligus melatih kejujuran. Nyatanya bisnis koran disana tidak mati, mungkin karena mereka sudah terdidik untuk selalu berbuat jujur. Bagaimana dengan masyarakat kita?

Bisnis Kejujuran

Di Indonesia, Kita mengenal kantin kejujuran. Kantin kejujuran adalah sebuah warung kejujuran yang diinisiasi oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) tahun 2008 yang lalu. Warung semacam ini bertujuan untuk menanamkan moral jujur dari usia dini.

Moral kejujuran terbangun dengan sistem kantin kejujuran. Sistem kantin kejujuran adalah suatu sistem kantin tanpa penjaga. Setiap konsumen yang ingin membeli suatu produk, mereka bisa mengambil barang yang ada secara langsung di etalase dan bisa membayar di tempat yang telah disediakan. Konsumen di latih untuk bertindak jujur. Jujur dalam menghitung jumlah pembelanjaan mereka dan juga jujur dalam membayar serta mengambil kembalian. Salah satu motto yang ditanamkan di kantin ini adalah Allah Melihat Malaikat Mencatat.

Sayangnya Menurut Bapak Doddy Susanto Phd, pencetus ide Kantin Kejujuran (KK), ternyata  keberadaan kantin kejujuran di negeri ini mengalami kegagalan alias bangkrut. Ada apa gerangan yang terjadi? Menurut informasi yang diperoleh kini kurang lebih 80 persen KK mengalami kebangkrutan karena para pembeli tak jujur juga manajemennya yang tidak profesional.

Ada rasa miris dihati mengapa ide brilian yang konsepnya melatih kejujuran harus gagal. Semestinya fenomena bangkrutnya kantin kejujuran ini harus menjadi permasalahan genting dan serius bagi kita bersama karena jika didiamkan begitu saja itu berarti salah satu pilar kebaikan negeri ini akan segera hilang karena fenomena ini.

Jika ada yang menanyakan mengenai arti kejujuran yang hakiki, maka jawaban atas semua itu adalah kebaikan. Kejujuran itu indah dan pembuka pintu gerbang dari keberkahan. Kejujuran adalah teman sejati kebaikan. kejujuran membutuhkan sebuah kontinuitas juga konsistenitas. Tidak ada fluktuasi naik turun dan tidak mengenal tempat maupun waktu. Kejujuran tidak mengenal kata "lupa".

Pembelajaran Karakter, Uji Kejujuranmu! 

Pendidikan karakter tidak hanya transfer of knowledge tapi juga character building melalui pengalaman langsung. Adanya praktek melatih dan menguji kejujuran siswa merupakan proses pembelajaran karakter kejujuran yang paling efektif. Pendidikan kejujuran itu harus melalui proses, yakni dilatihkan sejak dini.

Baik sekali jika sekolah-sekolah mendirikan kantin kejujuran atau sederhananya semacam konter penjualan keperluan sekolah siswa. Tidak memerlukan tempat yang luas, tak perlu membayar penjaga. Sistem penjualan seperti ini merupakan upaya untuk mendidik akhlak siswa agar berperilaku jujur. Tujuan utamanya adalah mengukur kejujuran anak didik sehingga dengan pengalaman mereka itu ia akan menjadi anggota masyarakat yang jujur kedepan.

Kantin kejujuran atau semacamnya  juga salah satu bentuk kegiatan dalam pendidikan anti korupsi yang harus kita akui merupakan salah satu penyakit atau problema bangsa. Sangat sulit memang memutus mata rantai korupsi ini sebab kebanyakan dari kita menganggapnya sebagai budaya. Padahal kalau kita bercermin dengan kultur budaya kita mengambil sesuatu tanpa seizin pemiliknya adalah sangat memalukan.

Kita jadikan model penjualan seperti kantin kejujuran merupakan tempat kita semua belajar. Belajar moral, Moral itulah yang terus dibawa anak didik hingga dewasa. Jika pada usia muda sudah ditekankan untuk bersikap jujur pada diri sendiri, kemungkinan upaya untuk bertindak jujur semakin besar. Kantin kejujuran inilah dapat menjadi salah satu wahana utama mencetak generasi unggul dan jujur

Perlu komitmen bersama untuk menjaga kelangsungan kantin kejujuran ini Semoga saja ribuan kantin kejujuran yang telah terbentuk dapat aktif kembali di negeri ini atau bahkan akan menjadi ratusan ribu di masa mendatang, sekaligus akan meningkatkan prestasi kejujuran bangsa ini khusunya di bidang indeks korupsi di Asean.