Senja itu indah. Senja adalah zona liminalitas yang penuh ketidakpastian. Senja memisahkan siang dan malam, meskipun bersisihan namun keduanya tidak akan pernah bisa bersatu. Seperti aku dan kamu, dekat tapi tidak pernah bisa bersama.

Setelah belasan purnama kami terpisah, Tuhan mempertemukan kami lagi dengan tanpa sengaja disebuah mall baru ternama di kota Surabaya, dan pada saat itu juga rasanya takdir seperti mempermainkanku. Bagaimana tidak, usahaku melupakannya selama 5 tahun terakhir seakan tak berguba, tidak berguna. Bagiku 8 tahun bukan waktu sebentar untuk menjalin hubungan, saat itu kami LDR, aku kuliah di Surabaya dan dia bekerja di Bandung.

Sejak pagi senyumku selalu nampak ketika dia mengirimkan pesan dan mengajak bertemu.

"Sayang, ketemuan yuk, aku udah pulang, nanti aku jemput kamu di kost jam 4 sore terus kita jalan ya, miss u".

"okey aku tunggu, miss u to".

Sore itu kami jalan-jalan dipantai dengan suasana hati bahagia, melepas rindu yang tertahan sebulan penuh, namun rasa bahagia itu sekejap menghilang berganti lara yang tak kunjung usai, bahkan hingga saat ini, dia memberi sebuah undangan pernikahan, ku kira itu undangan temannya dan mengajakku untuk datang bersama, tapi ternyata bukan, aku terlalu naif.

"maksudnya apa ini, kok nama kamu, ini nama kamu kan?".

"maaf aku tidak bisa menunggumu menyelesaikan kuliah, Ibuku memaksa memintaku menikah dengan anak temannya, karena usiaku sudah 30 tahun dan kalau aku nunggu kamu berarti masih 1 tahun lagi dan itu teralu lama, Ibu sudah tak sabar ingin punya cucu". 

Dia berkata seperti itu dengan menangis, entah itu tangisan kasihan padaku atau memang dia benar bersedih atas perpisahan kami. Bahkan sebulan tidak bertemu dia masih intens menghubungiku seperti biasa, lewat aplikasi whatsapp, entah itu hanya pesan singkat, telfon, video call, setiap hari kita selalu bertukar kabar dan cerita, tidak pernah absen sehari pun. 

Inginku memaki, tapi bibir terkatup rapat, hanya air mata yang mengalir. Ibu dan Ayahnya sudah sangat tahu perihal hubungan kami, dan berapa lama kami berpacaran, bahkan mengenal baik siapa aku. Entahlah mungkin ada alasan lain yang tidak aku ketahui.

Sejak saat itu, aku menghilang darinya, mulai dari memblokir nomor teleponnya, akun sosmednya, sampai aku pindah ke asrama supaya dia tidak bisa mengunjungi, sebab dia pernah berkata. "Aku tidak akan pernah meninggalkan kamu Ri, kita tetap berhubungan seperti ini, meskipun aku menikah dengan yang lain, hati dan cintaku tetap untukmu". Sangat Egois bukan?

5tahun berlalu, aku sudah bekerja di kantor sebagai eksekutif korporasi ternama, namun asmaraku tak semulus karierku, karena hingga saat ini aku masih sendiri, trauma. Hingga aku dipertemukan lagi dengan masa laluku ditempat makan di dalam mall.

"apa kabar".

"baik".

"aku selalu mencarimu, tapi teman-temanmu selalu menutupi keberada'anmu bahkan semua yang berhubungan denganmu mereka menutupi semuanya".

"untuk apa".

"kamu tidak tahu betapa menderitanya aku".

"dan kamu tidak akan pernah tau bagaimana hancurnya aku". 

Lalu ketika aku berniat pergi dia manarik lenganku dan aku terduduk kembali lalu dia bersimpuh didepanku, dengan sekuat tenaga aku membangunkannya.

"Plis jangan kayak gini, malu dilihat banyak orang".

"ikut aku dan dengerin aku dulu, plis". Pintanya dengan memohon.

"kamu tau nggak sih kedatanganmu itu membuka luka lama yang selama ini berusaha aku obati". 

Aku berkata selirih mungkin agar tidak ada yang mendengar. Namun tanpa aba-aba dia menyeretku keluar dan mengajakku ke kost-annya, aku ingin menolak namun hati berkata lain, dan aku hanya menurut.Sampai di kost dia bercerita kalau sekarang dia sendiri sebab Istri dan anaknya berpulang ketika Istrinya melahirkan buah hati mereka. Dia meminta aku kembali padanya namun hati menolak, aku tidak mau kecewa untuk kedua kalinya dilubang yang sama.

"ku mohon, kita kembali memulai hidup baru, kita menikah, kita punya anak, kita menua bersa..

""STOP, itu hanya sebuah khayalan masa lalu yang tidak akan pernah tercapai sampai kapanpun".

"Andai kamu tahu gimana aku tanpamu".

"andai kamu juga tahu seberapa berat aku melupakanmu, jangan temui aku lagi, dan jangan pernah muncul dihadapanku lagi".

Aku keluar dari kost yang membaras terasa seperti neraka, aku berlari, dia mengejar hingga suara jeritan orang-orang disekitar menghentikanku, dan betapa tekejutnya ketika sosok yang selama ini berusaha aku lupakan tergolek tak berdaya dengan luka dikepala yang cukup parah, aku menghampirinnya dan berteriak meminta tolong namunia berkata sambil tersenyum....

"jika ini bikin kamu bahagia aku rela pergi selamanya, love u".

Air mataku tumpah seketika, berlarian menuruni pipiku. Matahari yang temaram di senja itu seolah mengejekku bahwa liminalitas dan serba ketidakpastian adalah takdir dunia ini.