Cupukah sekelompok anak muda yang mengobrol serius mengenai topik relasi antar sepasang kekasih saat nongkrong? Tetapi tidak masalah jika membicarakannya melalui media tulis, maka dari itu tulisan ini ingin sedikit membicarakan relasi antar sepasang kekasih yang mungkin juga dapat menjadi tips.

Suatu ketika pernah seorang kerabat dekat memberi sebuah wawasan agar para pemuda tidak tergesa-gesa berjanji menikahi pasangan kekasihnya. “Boleh pacaran, tetapi jangan suka mengumbar janji,” begitu katanya.

Jika direnungkan kembali mungkin ada benarnya, tetapi prinsip tersebut memiliki celah. Walau begitu, tidak perlu menjadi kaku juga, hingga akhirnya berdiam diri dan pasif. Mau sampai kapan menjomblo terus?

Jadi hal pertama yang harus dilakukan untuk memulai sebuah hubungan adalah dengan mengenal terlebih dahulu perangai calon kekasih. Bisa dengan berpacaran atau, bila ingin terhindar dari zina, disarankan bertaaruf. Lebih mudah lagi memilih calon kekasih dari lingkungan pertemanan yang telah terjalin lama.

Sebelum melangkah lebih lanjut, alangkah baiknya merenungi motivasi apa yang akan digunakan ketika menjalin hubungan percintaan. Kalau sekadar bermain-main, maka langkah selanjutnya tidaklah relevan.

Tetapi berapa banyak motivasi yang memiliki kemiripan nilai moral dengan bermain-main, apa saja? Untuk pertanyaan itu, alangkah akurat bila pencarian jawabannya diserahkan kepada diri masing-masing.

Baiklah, langkah kedua, yaitu ketika menjalin hubungan percintaan, jangan lupa menjadi pemaaf. Maafkanlah kesalahan pasangan sebelum memilih putus. Bagi yang suka bermain-main dengan perasaan dituntut berhati-hati dengan mitos; “Apabila telah memaafkan maka kesalahan terlupakan tanpa bekas.”

Cara kerjanya tidak sesimpel itu, karena kaca yang retak apalagi pecah tidak dapat kembali mulus seperti semula. Kecuali jika mengganti kaca yang lain, alangkah tidak berperasaannya!

Langkah ketiga untuk melanggengkan hubungan yaitu penuhi kebutuhan pasanganmu. Tetapi jangan main hakim sendiri. Ada sebuah cerita ketika suami telah mencarikan nafkah anak-istrinya. Ia merasa cukup tanpa ingin tahu kebutuhan lain sang istri. Kasih sayang misal.

Begitu pun sang istri yang telah merasa sekuat tenaga merawat rumah tangga, tetapi ia tak tahu jika suaminya mungkin lebih membutuhkannya berdandan. Maka bermusyawarahlah dengan pesanganmu, komunikasi saja tidak cukup.

Cukupkah tiga hal barusan untuk melanggengkan sebuah hubungan percintaan? Tidak adakah sesuatu yang hakiki yang dapat melangengkan hubungan?

Jika aku menganggapnya cukup, maka di situlah letak kesalahannya. Mohon bersedia memberi maaf kerana lupa menjelaskan satu hal hakiki yang harus dimiliki semua pasangan kekasih, yaitu cinta suci.

Perlu diingat kembali perihal motivasi dalam memulai sebuah hubungan percintaan. Ya, cinta suci haruslah menjadi motivasi setiap pasangan kekasih. Tetapi seperti apa rupa cinta suci?

Dalam amanat telenovela Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck karya Buya Hamka, rupa cinta suci dapat diketahui dari tindakan penjagaan dan pemeliharaan terhadap pasangan kekasih. Tidak hanya itu, cinta suci juga berasal dari perasaan yang murni dan tulus anugerah Tuhan Yang Maha Esa.

Ada sedikit masalah, bagaimana cara menyadari cinta suci dalam perasaan diri sendiri? Apakah hasrat memiliki yang menggebu-gebu dapat dinamakan cinta suci? Atau jantung berdebar-debar ketika berada disamping Doi? Kalau jantung berdebar-debar saja, aku sering merasakannya bahkan hampir di semua perempuan yang dikenal, sungguh ironi.

Bisakah cinta suci dikeluarkan sesuka hati? Dikeluarkan kepada seseorang yang akan kita pilih sebagai pasangan kekasih, atau cinta suci adalah kehendak Tuhan Yang Maha Esa sehingga manusia tidak berkutik lagi?

Oh cinta, kata seorang bijak, kasih sayangmu seperti aliran air memberi kehidupan untuk mahluk yang mendiami dunia. Oh cinta, betapa kering kerontang dunia tanpa kehadiranmu. Oh cinta, kehadiranmulah yang seharusnya didambakan setiap manusia, kehadiranmu patut disyukuri.

Tetapi berhati-hatilah karena manusia bisa keliru ketika mendambakan cinta suci. Dalam novel karya Leo Tolstoy berjudul Anna Karenina yang dikisahkan ulang oleh Svetlana Belova menggambarkan kesengsaraan Anna akibat keberaniannya memutuskan untuk berselingkuh karena tidak mencintai suaminya.

Padahal sebelum Anna mengenali selingkuhannya, Anna merasakan kehangatan ketika mengarungi kehidupan rumah tangga. Padahal Anna sudah merasa bahagia sebelumnya, walau pernikahannya berawal dari perjodohan.

Tetapi karena Anna mengenal orang yang akan menjadi selingkuhannya memberi perasaan kasih sayang menggebu-gebu (dan Anna menganggapnya sebagai bentuk cinta sejati) dibanding suaminya yang monoton dan membosankan. Anna memilih berpaling.

Intinya, jangan melupakan tiga tips di atas ketika menjalin hubungan percintaan, karena hanya tiga hal itulah yang dapat diusahakan dan tentu saja mempunyai nilai manfaat yang tinggi. Lalu masalah rupa cinta suci? Entahlah.

Oh ya, satu pesan lagi, usahakan untuk tidak memberi cinta yang melebihi cinta terhadap Rasulullah SAW dan Allah SWT. Itu adalah ajaran dalam agamaku. Kalau boleh menafsirkan, maka bisa jadi perintah untuk mencintai keadilan dan membenci kezaliman, mantap.