Harari dan Teori Konspirasi

Di masa Corona ini, cara pandang yang baik menjadi suatu hal yang ikut menentukan ketenangan hati dan pikiran orang untuk melalui masa ini. Rangkuman itu saya kokohkan sebagai hasil refleksi saya seusai menonton diskusi kritis antara Yuval Noah Harari, seorang sejarawan terkemuka dunia saat ini, dan Marco Montemagno yang adalah seorang peneliti dan penulis asal Italia pada bidang sastra dan sejarah(lihat percakapan mereka dalam https://www.youtube.com/watch?v=DFlC9-FVZlo&t=702s)

Dalam dialog Marco dan Harari yang berdurasi kurang dari 30 menit itu, mereka menyinggung berbagai model cara pandang yang keliru dan menyesatkan yang lahir sebagai respon manusia terhadap Corona. Cara-cara pandang tersebut lahir dalam bentuk “teori konspirasi” yang banyak kita jumpai sekarang ini seperti tuduhan Amerika kepada China dengan mengatakan Corona sebagai senjata biologis China. Bentuk rasisme yang dialami oleh orang-orang Asia-Eropa karena mereka dituduh sebagai pembawa virus, sampai pada teori konspirasi mengenai kelahiran baru agama Yahudi dalam keping (chip) bertajuk anty-christ.

Dalam dialog dengan Harari, Harari mengatakan dengan keras bahwa konsepsi “teori konspirasi” mejad hangat karena kecenderungan masyarakat yang malas berpikir. Kecenderungan malas berpikir mengakibatkan manusia dewasa ini suka mencari j”jawaban-jawbaan cepat” untuk menutupi rasa takut dan ketidakmampuanya berpikir kritis. 

Secara tegas Harari menolak teori konspirasi, pasalnya, Harari menegaskan bahwa ide-ide briliant dan berguna tidak pernah lahir dalam waktu singkat melainkan selalu dibangun lewat upaya dan waktu yang tidak sedikit. Maka dari itu, teori konspirasi sangat prematur dan sangat tidak berguna untuk dipercayai.

Menariknya, Harari mengaitkan antara kemalasan berpikir dengan sikap kekerasan atau rasisme. Menurut Harari, dalam teori kosnpirasi, ada kecenderungan untuk menyalahkan pihak tertentu ketimbang mencari jalan keluar besama. Harari memberikan contoh mengenai wabah “black death” yang pernah terjadi pada abad 14 silam. Di masa itu, karena kemalasan berpikir, orang Eropa dengan kecepatan dewa menjatuhkan kesalahan kepada bangsa Yahudi. Akhirnya, ketimbang menemukan penawar virus. banyak orang Yahudi yang menjadi korban kekerasan bangsa Eropa yang pada waktu itu menuduh bangsa Yahudi sebagai pembawa virus.

Maka, Harari dan Marco sepakat menolak teori konspirasi. Mereka berdua mengusulkan agar masyarakat dunia ini lebih berpikir tentang keselamatan diri dan bersama ketimbang berdiskusi “siapa yang harus disalahkan” seperti yang dilakukan oleh Ameika dan Eropa secara khusus. Sikap manusia normal adalah memercayai penilitian virus kepada para pekerja/ahli medis yang berupaya menyeleisaikan masalah ini. Sikap solidaritas kemanusiaan adalah teori terbaik yang mesti kita pegdang dan lakukan sebagai manusia terbatas saat ini.

Hal Menghakimi

Pokok perbicangan mengenai teori konspirasi Corona dan Solidaritas ini mengantar saya untuk membaca konteks “selumbar” dan “balok” dalam teks “hal mengakimi” yang tercatat dalam Matius 7 dalam kitab suci Kristen. B. J. Boland, seorang pakar kitab perjanjian baru, mengatakan bahwa selumbar dan balok dalam matius 7 menyiratkan pesan akan pentingnya ketajaman dalam melihat (D. J. Boland, Injil Lukas, BPK Gunung Mulia: 2008). Melihat dalam hal ini adalah kemampuan untuk menemukan cara pandang yang baik dalam menilai sesuatu. Hanya saja melihat dengan baik saja tidak cukup, dalam konteks matius 7, melihat yang baik selalu diikuti oleh tindakan yang tepat dan baik, atau dengan kata lain, melihat untuk tidak menghakimi.

Lebih lanjut, Boland menulis bahwa selumbar dan balok ditempatkan sebagai sebuah metafora untuk menggambarkan kondisi mata/pikiran saat melihat. Yesus secara khusus, melalui metafora balok dan selumbar, ingin menegaskan bahwa saat kita melihat, kita menggunakan pancaindera kita dengan objektif. Melihat dan menjelaskan kenyataan seadanya dan bukan berdasarkan penilaian yang kita buat-buat atau kita inginkan. Melihat dengan sudut pandang jernih dan apa-adanya. Cara pandang yang baik selalu menghasilkan tindakan yang baik.

Tak kalah pentingnya, cara pandang yang baik selalu menghindarkan orang lain dari sebuah tuduhan yang tidak tepat alias sikap “menghakimi.” tindakan menghakimi biasanya selalu menempatkan orang pada kesalahan tidak ia buat. Maka ppenting bagi kita untuk bertindak dengan adil. Melihat dan menyatakan kenyataan agar orang bisa bertanggungjawab sekaligus belajar untudak tidak lagi mengulang kesalaha yang sama.

Disamping itu, penilaian yang jujur menjauhkan kita dari kemunafikan. Artinya, Yesus menghendaki agar pendengarnya menyarahkan dan menyatakan kesalahan secara terang-terangan dengan didukung oleh sikap rendah hati. Jangan sampai kita (para pendengar) sendiri menuduh orang perihal yang kita sendiri sering lakukan. Ibarat kata, kita menunjuk dengan satu jari dan justru jari lain menunjuk ke arah kita. Dalam hal ini, kita tidak bisa sedang menyatakan kebenaran melainkan berlagak seolah kita lebih benar dari orang lain. Tindakan ini dikecam Yesus sebagai kemunafikan.

Kesadaran Kritis dan Kasih

Akhir kata, apa kaitan “hal menghakimi” dengan sudut pandang kritis Harari tadi? Pertama, dalam keadaan menilai sesuatu, kita diajak untuk memperluas pandangan kita terlebih dahulu barulah menempatkan penilaian. Pandangan yang pendek yang lahir dari kebodohan hanya akan melahirkan kekerasan dalan bentuk penipuan atau tuduhan palsu. Kedua, penilaian yang jernih dan jujur selalu lahir dari hati yang bebas kepentingan pribadi. Kita menilai untuk mengantarkan orang pada perubahan dan bukan penghukuman saja. Perubahan akan selalu datang apabila penilaian kita disertai dengan kenyataan dan bukan rekayasa.

Ketiga, penilaian yang jujur melahirkan solidaritas. Penilaian yang jujur tidak bisa lahir dari hati yang munafik atau diri seseorang yang berlagak seolah sedang menjadi lebih baik dari yang lainya. Penilaian yang bebas dari kemunafikan menguatkan hubungan dan bukan merusak relasi yang ada. Saat menyatakan yang sebenarnya, kita hadir sebagai saudara bagi sesama.dalam istilah Harari, penilaian kritis membawa kita pada sikap solidarias dan nir-kekerasan. Pada sisi Yesus sikap kritis adalah tanda dari sikap mengasihi orang lain seperti kita mengasihi diri kita sendiri.

Sikap kritis dan hati yang penuh kasih adalah kunci untuk kita keluar dari teori konspirasi yang marak saat ini. Lagi, sikap kritis dan hati yang peuh kasih memperdalam penilaian kita terhadap suatu masalah untuk mengantar kita pada jalan keluar atas kondisi yang terjadi. Dengan melaksanakan dua tindakan tadi, yang saya sarikan dari pemikrian Harari dan Yesus, kita sejatinya sedang menemukan agen/pelaku yang tepat, menhidarkan kita dari tindakan memperkeruh masalah, dan yang terpenting melahirkan solidaritas bersama dengan cara membangun jalan keluar atas persoalan bersama sambil tetap terjaga dalam pikiran yang kritis dan hati yang penuh belas kasih.