Waktu masih kuliah dari 2003 hingga 2006 saya turut aktif dalam organisasi kampus. Selain melaksanakan kegiatan-kegiatan bersifat ilmiah, kami juga kerap melakukan demonstrasi-demonstrasi (biasa lah!). Sebagai mahasiswa awal era reformasi kenangan dan semangat 1998 meliputi jiwa para aktivis kampus.

Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) kampus kami yang biasanya menggagas dan memimpin aksi-aksi demonstrasi tersebut adalah orang yang begitu bersemangat mengkritik pelbagai kebijakan pemerintah. Idealisme dan gairahnya itu membikin kagum para mahasiswa, juga para mahasiswi!

Menariknya, setelah lulus kuliah ia bergabung dengan dan menjadi kader Partai Golkar. Secara moril, keikutsertaannya sebagai kader partai berlambang beringin bertolak belakang dengan perjuangan gerakan mahasiswa 1998 yang mengkritik dan menumbangkan pemerintahan Orde Baru dengan Partai Golkar sebagai kendaraan politiknya – yang ternyata tidak ikut tumbang.

Perihal ini saya adukan kepada Pak Ariel Heryanto, profesor Universitas Monash Australia (kini pensiun) yang masyhur di kalangan generasi milenial berkat buku fenomenalnya, Identitas dan Kenikmatan (2015). Lewat pesan Twitter Pak Ariel menanggapi aduan saya: “Tidak aneh. Itulah manusia. Penuh kontradiksi dengan diri sendiri.”

Tanggapan Pak Ariel sangat singkat tapi mengena. Manusia memang makhluk penuh kontradiksi. Pendapat, sikap dan perbuatannya di satu waktu berubah secara kontradiktif di waktu yang lain. Hal ini mengingatkan saya dengan kisah sosok seorang Kepala Sekolah swasta di daerah saya, sebagaimana cerita seorang kawan.

Dalam sebuah rapat sang Kepala Sekolah dengan keras melarang guru dan pegawai mengajar dan bekerja di lembaga lain. Selain agar pengelolaan administrasi sekolah terlaksana rapi, larangan itu bertujuan demi menjaga loyalitas guru dan pegawai kepada lembaga yang ia pimpin.

Rupa-rupanya, Kepala Sekolah mengeluarkan larangan tersebut gara-gara ada oknum guru yang juga mengajar di sekolah lain, sehingga jadwal mengajar yang telah disusun jadi berantakan dan fokus oknum guru itu untuk meningkatkan kualitas pendidikan dan pengajaran di sekolah asal jadi terganggu. Sementara bagi sang guru, ia mengambil tugas mengajar di sekolah lain karena merasa pendapatannya di sekolah asal tidak mencukupi kebutuhan hidup.

Kira-kira sepuluh tahun kemudian – tidak ada periode kepemimpinan di lembaga swasta itu – ketika anak-anaknya beranjak dewasa dan memerlukan dana untuk membiayai sekolah dan kuliah mereka, Kepala Sekolah tadi mengambil pekerjaan tambahan dan mengajar di beberapa sekolah swasta lain. Sang Kepala Sekolah melanggar larangannya sendiri.

Kontradiksi itu manusiawi, ujar Pak Ariel tadi. Keadaan semacam itu bisa terjadi pada setiap orang, termasuk saya dan para pembaca. Pikiran, pendapat dan prinsip yang melandasi segala perilaku dan perbuatan kita memang senantiasa berubah-ubah. Lain dulu, lain sekarang, lain lagi di masa akan datang.

Hal ini menegaskan kebijaksanaan lama bahwa manusia di satu sisi adalah makhluk materi. Karena materialitasnya itu manusia terikat ruang dan waktu, baik dalam perbuatan maupun pikiran. Kenyataan hidup sehari-hari menunjukkan menonjolnya sisi materi dari manusia. Keterikatan kita dengan ruang dan waktu jelas tak bisa kita abaikan.

Berpijak pada prinsip ini, bersamaan dengan lahirnya posmodernisme yang menggugat otoritas modernisme, kajian-kajian ilmiah bekerja dengan pendekatan kemanusiaan atau humanistik. Filsafat, bahkan, di era posmodern ini memerlukan bantuan antropologi dan sosiologi – keduanya ilmu tentang manusia – dalam melakukan refleksi.

Kajian-kajian agama juga tak lepas dari pengaruh prinsip historisitas manusia ini. Lewat gagasan-gagasan para pemikir muslim kontemporer, dari Muhammad Abduh dan Nasr Hamid Abu Zayd hingga Talal Asad dan Asef Bayat, kita mengetahui bahwa pemahaman agama dilakukan dengan pendekatan kontekstual.

Produk pemikiran humanistik paling kentara adalah mengenai kontekstualisasi syariat. Hukum-hukum fiqih mesti lahir berdasarkan pertimbangan kontekstual. Dalam kata lain, fiqih menjunjung tinggi dan berpedoman pada nilai-nilai kemanusiaan.

Nilai-nilai tersebut terpatri dalam apa yang disebut dengan maqashid al-syari’ah (tujuan-tujuan syariat) yang terdiri dari lima komponen, yakni menjaga agama (hifzh al-din) , menjaga jiwa (hifzh al-nafs), menjaga akal (hifzh al-‘aql), menjaga keturunan (hifzh al-nasl) dan menjaga harta (hifzh al-mal). Dengan ini, Islam pada dasarnya bergerak untuk memanusiakan manusia.

Meski demikian, kerja agama tidaklah berhenti di situ. Adagium “memanusiakan manusia” nampaknya berlaku pada wilayah eksoteris atau lahiriah agama. Sementara wilayah esoteris atau dimensi batin dari agama memberi petunjuk agar manusia melampaui kemanusiaannya.

Semangat ini dapat kita lihat dalam ayat al-Quran yang menyatakan: “kamu tidak akan memperoleh kebaikan, sebelum kamu menginfakkan segala apa yang kamu cintai” (QS. Ali Imran: 92). Begitu pula kiranya makna ayat Bibel: “siapapun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu” (Matius 5: 39). Dalam Hinduisme, tujuan sejati hidup manusia adalah keterlepasan dari karma (hukum alam) dan menyatu dengan Atman (Roh Universal).

Petunjuk-petunjuk religius tersebut mengidealkan manusia sebagai eksistensi yang terceraikan dari ruang dan waktu. Ruang dan waktu adalah unsur-unsur yang membentuk dunia, dan dunia membentuk pengalaman, pikiran dan perilaku manusia.

Manusia yang baik, bagi kebijaksanaan-kebijaksaan itu, adalah manusia yang melampaui segala hal duniawi dan, dengan demikian, manusiawi. Ia melampaui kecintaan pada kepemilikan pribadi, naluri balas menampar dan keterikatan dengan hukum alam yang penuh keterbatasan dan kesementaraan.

Kaum spiritual percaya bahwa manusia sendiri mendambakan keterlampauan itu. Dalam kehidupan sehari-hari, kita seringkali mendengar ungkapan seperti “manusia berhati malaikat”, atau “perilakunya seperti malaikat”.

Kata “malaikat”, karena itu, bukan sekedar personifikasi makhluk Tuhan yang mengabdi sepenuh diri kepada Sang Ilahi. Dalam bahasa sehari-hari kita, “malaikat” kerap menjadi simbol betapa manusia memiliki keinginan yang bersifat fitrah dalam dirinya untuk melampaui kemanusiaannya.

Dalam filsafat spiritual, Mulla Sadra meniscayakan adanya gerak substansial (al-harakah al-jauhariyah) alam semesta dan juga jiwa manusia. Agar gerak substansi melampaui kemanusiaan, ia menawarkan empat perjalanan rohani yang ia sebut al-Asfar al-Arba’ah.

Dalam perjalanan itu, esensi-esensi duniawi dan manusiawi terkikis tahap demi tahap dari jiwa manusia, sampai akhirnya ia menjadi manusia sempurna – dalam aspek tertentu mirip dengan ubermensch-nya Nietzsche –yang terlepas dari jiwa duniawi dan tercerahkan oleh cahaya spiritual yang akan membersihkan dan mensucikan kehidupannya (Seyyed Mohsen Miri, 2004: 87-92).

Dalam keadaan demikian, manusia akan terbebas dari segala kontradiksi diri. Intelek (‘aql)-nya memandang segala hal secara keseluruhan dan tidak terpenjara oleh persepsi-persepsi yang terbatas ruang dan waktu.

Sebagai manusia sempurna, alih-alih mendemo pemerintah di suatu waktu dan masuk Golkar di waktu yang lain, ketua BEM kita mungkin akan menghayati perannya sebagai seorang terpelajar dan mengabdikan diri sepenuhnya kepada masyarakat dengan mengembangkan dan menerapkan ilmu pengetahuan yang ia miliki.

Juga, Kepala Sekolah itu akan berusaha keras menjadi pemimpin yang adil dan arif. Kearifannya akan membangun sekolah yang ia pimpin hingga menjadi lembaga yang menyejahterakan, baik jiwa manusia maupun kebutuhan hidup para guru dan pegawainya, dan otomatis dirinya sendiri.

Akhirnya, menjadi manusia adalah kodrat. Tapi dengan melampaui kemanusiaan, diri kita akan terlepas dari nilai atau standar manusiawi untuk mencapai eksistensi yang lebih tinggi.[]