Pertengahan tahun 2016, saya berkenalan dengan seorang perempuan. Ia cantik, pintar, ramah, dan bersahabat. Perkenalan kami kemudian berlanjut hingga dua cangkir kopi bersama di satu meja di warung-warung kopi sekitaran kota Yogyakarta.

Kami sangat berbeda: pendidikan berbeda, latar keluarga berbeda, suku berbeda, pekerjaan berbeda, dan gaya penampilan juga berbeda. Yang sama hanyalah selera: kami sama-sama suka menikmati rujak buah dengan sambel petis dari Madura.

Shanti adalah nama kawan saya. Dia adalah anak tunggal yang mana kedua orang tuanya telah meninggal dunia sejak ia duduk di bangku kuliah S1. Shanti tumbuh dan besar dengan mandiri dan seorang diri.

Sejak kecil, Shanti sudah tidak satu rumah dengan kedua orang tuanya karena letak sekolah Shanti di kota. Sejak saat itulah Shanti terbiasa hidup seorang diri tanpa keluarga dan orang tua.

Selesai menempuh pendidikan S1 di jurusan Hubungan Internasional di Perguruan Tinggi Negeri di Surabaya. Shanti kemudian menikah dengan seorang laki-laki yang sudah 5 tahun menjalin hubungan dengannya.

Hingga kini, di usia pernikahannya yang ke-9 tahun, Shanti tak punya anak. Kepada saya, dia menuturkan bahwa ia tak ingin punya anak dan tak akan punya anak.

Kala itu, saya tak berani bertanya alasannya kenapa, karena khawatir akan menyinggung perasaanya. Tetapi karena intensitas pertemuan kami, tanpa saya bertanya, dia pun menceritakan alasannya kenapa memiliki keputusan untuk tidak akan punya anak.

Pengalaman Shanti 

Sebagai anak kampung di ujung timur pulau Jawa, orang tua Shanti memilih membangun rumah besar yang jauh dari rumah penduduk. Bahkan rumah saudara-saudaranya masih sekitar satu-dua jam perjalanan dengan naik motor.

Karena Shanti adalah anak tunggal, Shanti kecil memiliki teman bermain dengan kucing-kucing peliharaannya. Nyaris setiap hari, Shanti memberi makan kucing setiap pagi dan mengelus-ngelus bulu kucing di siang hari. Bahkan Shanti terbiasa tidur dengan kucing di malam hari.

Suatu hari ketika ada acara kumpul keluarga, Shanti yang kala itu duduk di bangku Sekolah Dasar (SD), bermain bersama sepupu-sepupunya yang lain. Kala itu, sepupu-sepupunya banyak yang laki-laki dan mereka mengajak bermain mobil-mobilan dengan menyusun patahan kayu menjadi sebuah bentuk balok layaknya mobil.

Ketika mobil sudah jadi dan anak-anak kecil sudah siap duduk di atasnya, salah satu sepupu Shanti tidak kebagian tempat duduk, dan kemudian mereka saling berebut tempat duduk. Saudara sepupu Shanti yang berjenis kelamin laki-laki itu kalah cepat karena Shanti keburu cepat duduk di kursi mobil.

Spontan kemudian, anak laki-laki sepupu Shanti itu mengambil batang kayu kecil dan menusukkannya ke vagina Shanti. Shanti menjerit dan menangis dengan rembesan darah dari vagina. Orang tua Shanti langsung membawa Shanti ke rumah sakit dan diberi obat.

Sayangnya, ketika Shanti menjerit kesakitan, saudara sepupu Shanti yang melakukan aksi kejam itu tak mendapat sanksi apa pun dari keluarga dan hanya mendapat teguran.

Tak Mau Hamil & Melahirkan 

Rasa sakit akibat ditusuk dengan benda tajam di area sensitif vagina menyisakan trauma yang mendalam kepada Shanti.

Di awal pernikahan, Shanti telah menceritakan pengalaman buruknya di masa kecil dan ketakutannya terhadap benda yang masuk ke vaginanya. Bagai gayung menyambut, calon suami Shanti kala itu menerima Shanti apa adanya.

Ketika malam pertama pernikahan, Shanti menangis dan menjerit karena sakit di vagina. Kejadian itu terus berulang dan berulang. Hingga kini, di usia pernikahan Shanti yang ke-9 tahun, Shanti masih seorang gadis alias perawan.

Karena tidak terjadi ereksi di dalam vagina itulah menjadi salah satu alasan kenapa hingga kini Shanti tidak hamil.

Masih lekat dalam ingatan saya bagaimana Shanti bercerita dengan linangan air mata. Saya pun memeluknya dan mencoba memahami alasan Shanti kenapa ia memilih untuk tidak punya anak.

Bahkan di tahun pertama pernikahannya, Shanti sudah memberi penawaran kepada suaminya untuk bercerai dan menikah dengan perempuan yang bisa hamil dan melahirkan. Tetapi suami Shanti memilih untuk hidup bersamanya meski tanpa kehadiran anak secara biologis.

Akan tetapi, karena Shanti hidup bersama suami yang suaminya memiliki keluarga besar, acap kali ibu mertua dan keluarga dari pihak suami ”selalu” bertanya kapan akan punya anak. Bahkan tidak sedikit dari beberapa pihak keluarga suami yang memberikan stigma kepadanya.

Dikatakan atau tidak, stigma itu menyakitkan. Hanya saja, Shanti ”cerdas” menyimpan rasa sakit itu dalam hati dan mengolahnya dengan cara melakukan aktivitas yang membuat dirinya senang, seperti nonton film di bioskop bersama suami, berdiskusi dan menikmati malam bersama teman-temannya.

Shanti tetap menyimpan pengalaman di masa kecil sebagai salah satu bagian dalam hidupnya. Meski kelak suaminya memilih bercerai dan Shanti tak punya anak, Shanti tak merasa kesepian dalam hidup, karena ia tumbuh dan besar dari suasana sepi dan berteman dengan kucing. Bahkan Shanti beranggapan bahwa sejatinya hidup dan mati adalah tentang sendiri.

Filosofi Rahim 

Dalam konstruksi sosial patriarki, perempuan diidentikkan sebagai ladang pruduksi. Sehingga hamil, melahirkan, menyusui, dan merawat anak menjadi kewajiban sosial bagi perempuan.

Tak heran manakala ada satu perempuan yang berbeda dengan kewajiban sosial secara mayoritas, maka perempuan tersebut akan mendapatkan stigma dan labeling lainnya.

Seperti yang dialami oleh Shanti, ia adalah “korban” dari pelaku kekejaman yang dilakukan oleh saudara sepupunya. Ia juga adalah korban dari persepsi masyarakat bahwa perempuan itu harus menikah, harus hamil, harus melahirkan, harus menyusui, harus merawat anak, dan keharusan sosial lainnya.

Ketika perempuan keluar dari “keharusan” sosial tersebut, maka ia akan dianggap telah menabrak kodrat sebagai perempuan, dianggap tak bisa membahagiakan suami, dianggap tak bisa menjadi istri yang baik, dianggap mandul, dan dianggap tak sempurna menjadi perempuan.

Padahal, sejatinya, setiap perempuan memiliki alasan kenapa ia mau/tidak mau hamil/melahirkan. Alasan-alasan perempuan yang demikian inilah yang sering kali luput dari pengetahuan sosial.

Seperti yang dialami oleh Shanti, masyarakat mayoritas yang menganggap tugas perempuan adalah hamil dan melahirkan akan sulit menerima alasan Shanti dan bahkan menolak pengalaman Shanti dengan berbagai argumentasi penolakan dan mungkin akan melibatkan tafsiran agama sekaligus.

Bahwa rahim adalah pemberian Tuhan yang harus disyukuri dengan melahirkan generasi yang saleh/salihah agar umat Muhammad menjadi banyak, dan mengabaikan sebuah realitas atas pengalaman perempuan yang dialami Shanti .

Nunuk Agustina Prasetyo Murniati (Konselor Feminis Indonesia) mengatakan bahwa rahim dan payudara adalah organ tubuh yang dihadiahkan oleh Tuhan khusus kepada perempuan. Organ tubuh tersebut, digunakan atau tidak, berfungsi atau tidak (dalam artian hamil/melahirkan/menyusui), baik karena sebab kehendak diri untuk tidak mau menggunakan atau karena penyakit, perempuan dengan rahim dan payudara tetaplah perempuan.

Rahim dan payudara berpengaruh terhadap pandangan hidup dan pola berpikir perempuan. Pengaruh inilah yang disebut oleh feminis sebagai filosofi rahim bagi perempuan. Filosofi rahim inilah yang menjadi kekuatan feminis bagi perempuan.

Rahim sebagai tempat tumbuh janin memiliki makna bahwa perempuan memiliki kekuatan untuk menumbuhkan kekuatan bersama dengan perempuan-perempuan yang lainnya. Ciri perempuan berkomunitas dan bersolidaritas adalah ciri yang dimiliki oleh rahim.

Payudara yang mengeluarkan air susu pasca melahirkan sehingga menjadi asupan nutrisi pertama bagi kehidupan bayi, memiliki makna bahwa perempuan memiliki kekuatan untuk menumbuhkan kehidupan yang baru.

Karenanya, mendengar terlebih dahulu cerita pengalaman perempuan sebelum memberikan stigma menjadi niscaya, agar tahu bahwa ada sebab alasan lain kenapa perempuan memilih dengan kehendak bebas untuk tidak hamil/melahirkan.

Keluarga dan masyarakat tidak berhak untuk mengintervensi sebab kenapa perempuan tidak mau hamil/melahirkan, bahkan memberi stigma dan labeling karena pengalaman setiap orang berbeda-beda, dan perempuan tumbuh dari pengalaman hidup yang dilaluinya.

Oleh karena itu, tidak memberikan stigma dan labeling kepada perempuan yang tak mau hamil/melahirkan adalah sebuah keniscayaan. Karena perempuan tidak hamil/melahirkan tetaplah menjadi perempuan seutuhnya.