Islam dalam rentangan sejarah telah mengalami beberapa fase situasi yang menjadikannya warna-warni. Ini disesuaikan dengan konteks sosial-politik dan kultur-demografis di mana Islam datang dan berkembang.

Dialektika dan interaksi serta persinggungan Islam dengan hal tersebut hingga kini terus mengalami berbagai persoalan. Khususnya perjumpaan dengan agama lain yang kerap menimbulkan ketegangan bahkan konflik antar umat beragama.

Islam dewasa ini menghadapi berbagai persoalan penting berkenaan dengan kontribusi bagi perdamaian dunia. Terutama karena Islam kerap dicitrakan sebagai agama kekerasan (Religion of Violence).

Selain itu, paska tragedi 11 September 2001, para cendikiawan baik Muslim maupun non Muslim lebih berupaya membuktikan apakah Islam mengajarkan kekerasan (terror) atau tidak. Mereka kerap mengabaikan ekspolarasi ajaran Islam tentang perdamaian.

Fokus pada kajian Islam dan perdamaian akan menghasilkan kontribusi yang lebih baik. Selain itu, perlu juga ada upaya untuk menggeser topik diskusi dan perdebetan tentang kekerasan dalam Islam. Dengan demikian, akan lebih jelas bahwa islam memiliki sumber daya perdamaian dan mampu berkerjasama dengan agama lain untuk membangun perdamaian (Robert C. Johansen:1997).

Ide tentang peace building (bina damai) dalam islam adalah ide untuk menciptakan kondisi kehidupan  masyarakat yang tanpa kekerasan (nonviolence).

Usaha untuk membangun peace building dalam islam telah dilakukan oleh banyak sarjana dan praktisi. Namun, dalam sekala global hal ini masih terhambat oleh asumsi yang dibangunmedia- media Barat yang mengidentikkan Islam sebagai agama yang bertentangan dengan perdamaian, resolusi konflik dan bahkan dengan demokrasi. Media barat sering melaporkan kekerasan yang dilabelkan dengan Islam.

Usaha untuk menelaah sumber nilai yang termaktub dalam Islam sebagai agama yang lahir setelah agama Yahudi dan Nasrani, memang bukan usaha yang mudah. Terlebih ketika mencoba mengeksplorasi konsep peace building baik dalam Quran maupun hadis.

Dalam tradisi Islam klasik, konsepsi tentang perdamian telah dipraktekkan oleh Nabi sesuai dengan konteks zamannya pada waktu itu.

Tradisi agama Ibrahimi mengalami periodesasi sejarah yang telah menciptakan konstruk pemikiran yang streotip. Meskipun Islam sangat menghormati tradisi Musa dan Isa sebagai nabi, namun sejarah tradisi tersebut kini dianggap telah menyimpang dari pesan monoteistik.

Quran merupakan teks suci yang kaya akan nilai-nilai, keyakinan, dan strategi yang mempromosikan resolusi damai dan tanpa kekerasan. Pemahaman tentang Quran dan hadis pada periode awal sangat diperlukan untuk memahami Islam, karena Quran dan hadis harus terus memberikan paradigma baru bagi umat Muslim dan gerakan Islam di setiap zaman.

Bahkan dalam banyak riwayat, banyak yang menceritakan bagaimana usaha dan perjuangan nabi Muhammad dalam membangun perdamaian, baik era Makkah maupun era Madinah.

Upaya untuk menangkap semangat peace building di era Nabi Muhammad harus dilakukan oleh para ulama dan cendikia yang berkiprah pada usaha untuk membangun perdamaian sehingga dapat bersinergi dengan kondisi sosial-masyarakat saat ini.

Dimulai dengan mempertimbangkan kembali tafsir (dekonstruksi realitas sejarah) dan pemahaman islam klasik serta penerapannya pada priode sejarah yang telah lewat, jika ingin mengedepankan nonviolence (nirkekerasan) dan peace building (membangun perdamaian ).

Menggunakan lensa nirkekerasan dan perdamaian dalam setiap usaha untuk menfasirkan ajaran Islam menjadi sangat penting guna menangkap makna Islam yang sesungguhnya yang cinta perdamaian.

Masih banyaknya para pakar Muslim sebagaimana ditegaskan oleh Abu Nimer, yang berjibaku atau berkutat (berputar-putar) di wilah Islam dan konflik. Kemampuan mereka kurang konprehensif dan relevan terhadap transformasi konflik yang nirkekerasan melalui perdamaian.

Hal ini diperparah oleh kajian orientalis yang ditujukan untuk penelitian dan interpretasi perang, kekerasan, kekuasaan, sistem politik atau pengaturan hukum, pendekatan tradisi Islam dan ajaran dari perspektif ini hanya akan mengabadikan citra negatif dan persepsi, terutama oleh masyarakat Barat.

Membangun konsep perdamaian dalam priode sejarah Islam masa lalu yang ditangkap oleh Abu-Nimer misalnya masih dipengaruhi oleh apakah konflik yang terjadi melibatkan sanak family, anggota keluarga, ras, suku dan agama dengan non muslim serta ikatan internal suatu masyarakat. Jika tidak, belum ada ikatan universal yang mampu bekerjasama dalam menciptakan perdamaian pasca konflik terjadi.

Hasil dari pembacaan dan penelaahan oleh Abu-Nimer tentang konsep dasar dalam peace building dalam islam ada beberapa hal yang menjadi syarat pondasi bagi terciptanya perdamaian yang continuity dan dapat dipertahkan.

Diantaranya adalah bersumber dari Alqur’an dan Sunnah nabi (tradisi Islam) yaitu, Islam menghasilkan satu set nilai-nilai perdamaian, yang jika diterapkan secara konsisten dan sistematis, dapat melampaui dan mengatur semua jenis dan tingkat konflik, nilai-nilai seperti keadilan (adl), kebaikan (ihsan), dan kebijaksanaan (hikmah) yang merupakan prinsip-prinsip inti dalam penciptaan perdamaian.

Jika perangkat perdamaian itu digunakan sebagai alat resolusi konflik maka untuk membangun perdamaian akan lebih mudah untuk diciptakan.

Selain Abu-Nimer ada juga beberapa sarjana yang mencoba menemukan konsep damai dalam islam melalui beberapa hal yang dimiliki oleh Islam itu sendiri.

Misalnya ada beberapa konsep dan pengertian pokok yang mendasari pemikiran Islam terhadap konflik, perbedaan, perlindungan dan perdamaian. Pertama; sumber yang menyebutkan nama agama Islam, seperti halnya kata “ muslim” yang dinamakan salam, dalam bahasa Yahudi “ shalom “,” damai, sejahtera, sehat.

Pengucapan salam dalam Islam sebenarnya serupa dalam bahasa Yahudi : shalom aleichem “, semoga damai dilimpahkan atasmu. Islam ketaatan sangat berhubungan erat dengan salam (salm, silm) yang berarti damai, bukan semata- mata karena ada konflik, namun sungguh- sungguh karena menunjukkan kesehatan dan kesejahteraan.

Dan Islam mengajarkan disetiap perjumpaan saling mengucapkan salam,” Assalamu’alaikum “,memberikan makna damai bagi semua manusia.

Dalam tradisi Islam misalnya, Nabi Muhammad ketika priode Mekkah melakukan strategi nirkekerasan, kecendrungan Nabi tidak menunjukan pada pengerahan kekuatan dalam bentuk apapun, bahkan untuk pertahanan diri.

Bahkan beliau melakukan perlawanan nirkekerasan dengan ajaran yang ada pada masa itu dan selama 13 tahun selama di mekkah nabi mengajarkan perlawanan dengan nirkekerasan yaitu kesabaran dan ketabahan dan tidak mengajurkan tindakan kekerasan ketika nabi mengalami kekerasan fisik dan mental.

Intinya adalah masih banyak nilai-nilai dalam tradisi Islam yang belum dikaji dan dikembangkan untuk peace building.