Media sosial atau yang disingkat medsos merupakan alat komunikasi sosial melalui media online (daring) yang dimanfaatkan oleh penggunanya untuk membagikan informasi melalui teks, tautan, gambar, video, dan lain sebagainya.

Medsos sangatlah membantu urusan komunikasi untuk saat ini karena banyak agenda yang akan berjalan lancar dengan medsos.

Menurutku, untuk konteks hari ini, melepaskan diri dari medsos sangatlah sulit. Apalagi jika sampai ada yang mau puasa media sosial (puasa medsos) untuk ketenangan batin. Aku akan salut sekali pada pengguna yang berpikiran seperti ini walau aku sendiri belum tahu praktiknya seperti apa.

Apakah harus lari ke hutan dulu biar hape-nya tidak punya sinyal sehingga sulit berkomunikasi? Atau masuk ke goa kemudian hape-nya lowbat sehingga tidak ada yang bisa dihubungi dan menghubungi?

Bukan itu mungkin. Namun, bisa jadi, orang akan berpikiran aneh jika kita mau menahan diri dari bermedsos-ria. Kira-kira, orang akan berpendapat: ini zaman apa? Emang lahir di zaman batu? Tidak update banget? Belum punya mobile phone, ya? Kakek nenek saja pakai hape canggih? Anak kecil saja tahu main hape.

Baca Juga: Produk Bercanda

Karena punya smart phone, kita pun sudah terbiasa memasang status di medsos. Bagi yang tidak memasang status mungkin bisa mengintip-ngintip status orang. Di medsos, kita pun terbiasa mengaktualisasikan diri dengan mengganti foto profil dan kegiatan kita. Apalagi, kita juga terbiasa berbagi tautan informasi, video, dan gambar.

Seperti bulan kemarin, ketika kita memperingati Hari Kartini, hari kelahiran Ibu Kartini sebagai simbol emansipasi perempuan Indonesia. Hal ini membuat aku merasa aneh bin ajaib. Pasalnya, beberapa teman yang membagikan ucapan Hari Kartini dengan melampirkan foto Dian Sastro (DS), artis pemain film Kartini, bukan foto pahlawan kita Kartini.

Bukan cuma teman pengguna medsosku, baik di Facebook (FB), WhatsApp (WA,) dan Instagram (IG), Beberapa platform yang menulis tentang Selamat Hari Kartini banyak menggunakan DS sebagai gambarnya. 

Catat, aku bukannya ngiri sama DS, ya. Cuma heran saja sama beritanya tentang Kartini, fotonya kok DS? (Apalagi itu, yang masih percaya dengan gambar RA Kartini menggunakan kerudung).

Tidak hanya bulan kemarin, aku melihat fenomena unik bermedsos ini. Bulan ini apalagi. Di bulan Mei ini, bulan puasa kali ini membuat aku, kamu, kita menjadi lucu (atau aku aja, kali?)

Mengapa demikian? Banyak banget konten-konten dan kiriman-kiriman teman yang tidak punya hubungan tapi bisa dihubung-hubungkan, atau gambar dan kalimat yang tidak sesuai konteksnya. Ini yang bisa buat aku senyum-senyum sendiri sampai tertawa terbahak-bahak. (tapi, ini bukan analisis wacana, ya).

Mulai dari FB: Ada gambar anak-anak menyalakan api pada tabung gas hijau, tiga kilo gram. Lalu ada tulisannya, "Mari kita sambut bulan puasa dengan lebih meriah." Ini mau meriah apa cari mati?

Kemudian ada kiriman dengan redaksi: "Bahaya  air kelapa. Jangan sesekali minum air kelapa dengan campuran sirup dan es batu pada siang hari di bulan ramadan karena akan membatalkan puasa Anda." Ya iyalah.

Atau status, "Maaf untuk Ramadan kali ini, saya tidak menerima ajakan buka puasa bersama, kecuali yang mengajak hidup bersama." Ketahuan banget jomblonya.

Dan gambar,penyanyi almarhumah Alda yang terkenal dengan lagunya "aku tak biasa". Namun, diganti "Aku tak puasa, bila ada kau di sisiku". Segitunya, biasa bisa jadi puasa, plesetan betul.

Di WA, ada teman yang membagikan status seorang tokoh. Statusnya seperti ini: "Dengan berpuasa, kita tingkatkan amal, kurangi ngemil, hentikan ngomel." (Dr. Abdul Mu'ti M. Ed, Sekum PP Muhammadiyah)

Atau screenshot percakapan temanku. "A: Terima jasa bangunkan sahur & ucapkan selamat berbuka puasa. B: Bodo amat." Balasannya tidak basa-basi banget. Mungkin ini efek karena dia lagi terbiasa sahur dan buka sendiri.

Ada juga teman mahasiswi yang menulis, "Baru selesai sahur, sudah ada yang ngajak bukber, sabar napa?" Mungkin yang ngajak buka bareng (bukber) sudah kangen ketemu dengan si mahasiswi.

Belum lagi tips dari seseorang: "Tips Ramadan: Setelah sahur, tidur. Bangun jam 17.50 karena buka puasa 17.58." Ini biar tidak merasakan lapar atau pahala puasanya dengan tidur saja, ya?

Kemudian, ada status, "Bikin salah di dunia nyata, minta maaf di dunia maya, kehidupanG." orangnya malu mengakui salahnya secara langsung, jadi koar-koar di medsos.

Di IG lain lagi. Selama ini, aku mengikuti akun NU Garis Lucu. Status mereka: "Cie yang semalam lupa gak sahur, cieee." Dan, "Tuhan aku tidak pantas masuk surga, tapi aku tak kuat ada di nerakamu (Doa Abu Nawas), terus maumu apa, ngajak bercanda?" NU Garis Lucu gitu lho.

Dan masih banyak lagi yang lain.

Walau, aku juga melihat status temanku yang seorang pemikir di WA. Dia miris melihat status orang yang post hal-hal yang tak berguna. Menurutnya lagi, itulah gambaran pikiran seseorang. Bungkus, pendapatnya pencerahan banget. Namun, apakah hal-hal yang lucu tadi tidak berguna, ya?

Indonesia (Tak) Sebercanda Itu!

Alangkah indahnya jika kita punya seni tertawa dan menertawai diri sendiri karena status lucu di atas adalah kita, pribadi kita sendiri, hidup kita sendiri. Dengan tertawa dan menertawai diri kita sendiri, kita jadi bersemangat menjalani hidup. 

Guyon saja, gojek saja, biar tidak sakit atau stres. Nikmati hidup, jangan tegang. Bukankah kita punya kalimat andalan yang sering ditulis "Tertawalah sebelum tertawa itu dilarang"?

Dulu, kita juga punya Presiden yang punya banyak jokes, lucu, dengan kata-katanya yang spontan, dan membuat bangsa ini bisa tertawa, almarhum Gus Dur. Hari gini, adakah yang bisa membuat kita tersenyum dan tertawa lagi?

Semoga, dengan adanya status, kiriman, tautan, apa pun yang lucu di medsos tadi membuat bangsa kita akan lebih banyak tersenyum dan tertawa. Masyarakat Indonesia yang berbudaya kreatif, inovatif, unik, dan mereka jadi diri sendiri walau banyak hoaks atau berita bohong kita masih tetap bisa sebercanda itu.

"Hidup tak sebercanda itu," kata Sujiwo Tejo. Namun, Indonesia memang sebercanda itu. Indonesia memang suka bercanda. Besok, kita buat Indonesia garis lucu, gitu kan' tidak buat repot?

Mari kita manfaatkan jejaring medsos untuk hal-hal yang bermanfaat, lucu mungkin. Selamat berpuasa. "Jangan lupa berbuka dengan yang Marxis-Marxis."