Media sosial merupakan sebuah media online yang sangat dekat dengan kehidupan masyarakat Indonesia terutama kaum muda. Semua orang mampu mengeluarkan isi hati, pendapat, argument baik yang berbentuk negatif maupun yang berbentuk positif. Para pengguna media sosial seringkali tanpa mereka sadari akan terbagi dalam 3 kelompok, kelompok pro, kelompok kontra dan kelompok netral/ penengah saat menanggapi sebuah berita maupun isu-isu yang beredar di dunia maya baik yang bertemakan politik maupun tentang kehidupan para artis sensasional. Para pengguna bisa saling menghina satu sama lainnya, bahkan menghina para petinggi Negara.

Seperti saat ini politik sedang hangat-hangatnya memberitakan tentang perkembangan calon gubernur DKI Jakarta ataupun tentang Tax Amnesty. Masyarakat baik dari generasi tua maupun generasi muda berlomba-lomba mengeluarkan opini perihal tersebut dengan cara menulis status pada Facebook atau mengomentari sebuah artikel dalam sebuah website.

Bagi mereka itu merupakan salah satu cara untuk ikut berpartisipasi dalam kehidupan berpolitik di Negara Indonesia, karena tidak semua orang memiliki kesempatan untuk mengikuti sidang/ rapat DPR atau rapat bersama menteri-menteri dan presiden Negara Indonesia. Namun yang menjadi pertanyaan terbesar adalah Apakah opini masyarakat melalui media sosial akan sampai ke telinga para Petinggi Negara kita? Bagaimana kami sebagai rakyat Indonesia bisa ikut berperan aktif dalam menanggapi semua gejolak politik di Negara kita? Bagaimana cara kami menyampaikan opini agar didengar oleh para Petinggi Negara tanpa perlu melakukan demo?

Apakah opini masyarakat melalui media sosial akan sampai ke telinga para Petinggi Negara?

Banyak masyarakat yang memasang status sebagai salah satu bentuk untuk menyuarakan opini karena mereka tidak tahu bagaimana caranya menyampaikan opini mereka kepada para petinggi Negara. Walaupun mereka tahu bahwa opini mereka belum tentu sampai ke telinga para petinggi Negara. Keadaan ini yang menimbulkan banyak masyarakat yang hanya menjadi penonton politik saja, sehingga membuat rakyat Indonesia menjadi rakyat yang pasif. Bahkan lebih banyak masyarakat yang lebih senang menyuarakan pendapatnya untuk artis-artis sensasional. Karena akan peluang opini mereka di dengar oleh para artis sensasional jauh lebih besar daripada peluang opini mereka di dengar oleh para Petinggi Negara.

Bagaimana kami sebagai rakyat Indonesia bisa ikut berperan aktif dalam menanggapi semua gejolak politik di Negara kita?

Banyak masyarakat yang ingin ikut berperan aktif dalam menanggapi gejolak politik yang ada. Namun mereka tidak mengerti bagaimana menjadi masyarakat yang aktif berperan dalam kehidupan berpolitik di Indonesia walaupun sudah banyak masyarakat yang ikut berperan aktif dengan menjadi salah satu anggota Partai politik. Namun bagaimana dengan nasib para karyawan swasta yang tidak memiliki waktu untuk berperan aktif menjadi anggota Partai Politik, bagaimana seorang ibu rumah tangga yang sibuk mengurusi anak-anaknya bisa ikut berperan aktif dalam kehidupan politik di Negara dan masih banyak jutaan orang dengan berbagai macam pekerjaan yang membuat mereka terpaksa menjadi bagian dari masyarakat yang pasif dalam kehidupan politik di Negara kita. Ini merupakan salah satu hal yang patut disayangkan, melihat masih banyak potensi-potensi yang terpendam yang mampu memajukan bangsa Indonesia.

Bagaimana cara kami menyampaikan opini agar didengar oleh para Petinggi Negara tanpa perlu melakukan demo?

Demo seringkali dikaitkan dengan kericuhan, menganggu aktivitas disekitarnya walaupun tidak semua demo berakhir pada kericuhan. Sehingga demo sudah jarang dilakukan dan memiliki sedikit peminat yang ikut berdemo agar suara dan opini mereka didengar. Lalu bagaimana cara kami mampu menyuarakan opini kami tanpa perlu berdemo, dan bagaimana kita mampu memanfaat media sosial demi meningkatkan kehidupan berpolitik di Negara Kita?

Berdasarkan Kementrian Komunikasi dan Informatika, sebanyak 63 juta orang menggunakan internet dan 95% menggunakan internet untuk mengakses jejaring sosial. Di era globalisasi, perkembangan telekomunikasi dan informatika(IT) sudah begitu pesat. Teknologi membuat jarak tak lagi jadi masalah dalam berkomunikasi menggunakan internet sebagai salah satu medianya. Sehingga tidak menutup kemungkinan jika kita mampu mebangun jaringan komunikasu yang mampu mendekatkan kita dengan para Petinggi Negara, mampu menyampaikan opini kita dengan mudah tanpa terhalang jarak dan waktu. Sehingga kita bisa merangkul semua kalangan untuk memajukan bangsa Indonesia.

Tidak ada salahnya jika kita memanfaatkan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi untuk membuat  sebuah aplikasi jejaring sosial yang baru, yang mampu membuat kita bisa bebas menyuarakan pendapat dan membuat opini kita di dengar oleh para Petinggi Negara. Sehingga para Petinggi Negara mampu membuat kebijakan-kebijakan baru dengan mempertimbangkan semua opini masyarakat Indonesia dari berbagai kalangan tanpa terkecuali. Para Petinggi Negara mampu mengambil keputusan yang sesuai dengan berbagai kalangan, dan memperkecil terjadinya kesenjangan sosial yang bisa memecah kesatuan bangsa kita.

Tentu saja kita juga tetap harus menggolongkan penggunanya sesuai dengan usia, agar informasi yang sampai kepada para Petinggi Negara lebih akurat. Selain itu jejaring sosial ini mampu memperlihatkan seberapa besar presentase masyarakat yang masuk ke dalam kelompok pro, kontra dan netral dalam menghadapi situasi politik. Sehingga jejaring sosial ini mampu memudahkan masyarakat dalam menyampaikan opininya dan berperan aktif dalam kehidupan berpolitik, dan memudahkan para Petinggi Negara dalam mengambil keputusan dan melihat sisi positif dan negatif saat sebuah kebijakan baru dibuat. Sehingga tidak ada lagi orang-orang yang merasa bahwa opini mereka tidak akan pernah di dengar dan memacu masyarakat dari berbagai kalangan untuk selalu memantau situasi politik di Indonesia. Dan membuat Indonesia lebih baik dan lebih maju dari sebelumnya. #LombaEsaiPolitik