Salah satu aktivitas media sosial yang cukup sering saya lakukan adalah memantau Instagram (IG). Ada hal yang menarik perhatian saya yaitu pada curhatan seorang kawan di instastorynya. Dia mengatakan "Ini hidupku, tidak ada seorang pun yang berhak mencampuri jalan hidup yang aku pilih. Aku merdeka!" Selain curhatan kawan tentang kebebasan menentukan jalan hidupnya, ada juga kutipan menarik di salah satu akun IG "My body, my choice: Tubuhku, pilihanku! Medsos sering kali menjadi ajang deklarasi fredoom-freedoman.

Ada dua hal penting yang hendak dikatakan dari curhatan kawan dan kutipan di salah satu akun IG adalah tentang kebebasan memilih dan merealisasikan diri berdasarkan kehendak diri tanpa intervensi yang lain. Kehendak bebas diri (self) adalah kunci. 

Berbicara tentang kebebasan selalu dikaitkan dengan sebuah situasi yang sebelumnya mengekang hak-hak dasar yang melekat pada manusia sejak lahir. Hak dasar yang melekat pada manusia sejak lahir didasarkan pada pengakuan pada keluhuran martabat manusia. 

Apa hak dasar yang melekat pada manusia? Yaitu hak hidup; hak bebas dari perbudakan; hak bebas dari penyiksaan dan kekejaman; hak berpendapat, berserikat, dan berkumpul; hak mendapat pendidikan yang layak, dan sebagainya. Karena itu, jika ada individu atau sekelompok orang mengekang hak dasar tersebut, maka ia atau mereka sedang merampas kemerdekaan orang lain.

Akan tetapi, persoalan tentang kebebasan juga bukan hanya tentang bebas dari kondisi yang merampas hak dasar, melainkan kebebasan seperti apakah yang hendak diwujudkan?

Seperti apa wujud kebebasan yang diidealkan itu? Jika yang dibayangkan adalah sebuah kondisi bahwa aku menentukan diriku dan bebas melakukan keinginan berdasarkan kehendak dan akal budi, maka ada persoalan lain yang mengintai.

Ketika kebebasan dimaknai sebagai situasi tidak ada hal lain yang dapat mengekang diri untuk melakukan sesuatu yang menjadi keinginan diri, maka yang terjadi adalah kita sedang menetapkan norma dan standar rasionalitas kita. Bukankah yang terjadi kita justru bisa menjadi penindas bagi yang lain, kita merepresi nilai yang lain? 

Isaiah Berlin, dalam essainya Two Concepts of Liberty (1958) secara serius mempersoalkan antara kebebasan negatif dan positif. Kebebasan negatif adalah kebebasan dari kondisi tidak ada seorang pun atau kelompok apa pun yang menghambat, menghalangi saya untuk melakukan apa yang bisa saya lakukan. Kebebasan positif adalah kebebasan yang berasal dari dalam diri, menjadi tuan bagi dirinya sendiri. Kedua jenis kebebasan itu tampak saling beriringan. 

Akan tetapi, kedua jenis kebebasan itu memiliki perbedaan. Kebebasan positif menyimpan bahaya ketika standar rasionalitas diri menjadi norma penentu pada pilihan individu, maka individu selain bisa mengeksklusi nilai lain yang dianggap tidak rasional, juga telah memperbudak dirinya berdasarkan kategori nilai yang dibuatnya. 

Saya teringat ketika masih remaja, begitu kesal ketika dimarahi oleh orangtua karena bermain sampai jam 11 malam, padahal itu di hari Sabtu. Saya merasa kebebasan saya telah dikekang. Hanya di hari Sabtu, saya merasa leluasa bermain. Saya merenungkan lagi peristiwa itu. Apakah mereka sedang mengekang kebebasan saya? Sesungguhnya tidak. 

Apa yang orangtua saya lakukan adalah berangkat dari nilai komunal yang mereka yakini. Orangtua saya sedang mewarisi nilai bahwa hari Minggu adalah hari untuk beribadah bersama. 

Jika saya bermain bersama teman di hari Sabtu sampai larut, maka di hari Minggu saya akan bangun siang dan kemungkinan besar enggan beribadah. Apakah orangtua saya melakukan pengekangan atas kebebasan bermain?

Contoh lain, ketika masa remaja saya ingin berpakaian sama seperti anak-anak remaja yang saya kenal. Suatu kali saya memakai baju milik seorang kawan. Saya menyukai bajunya khususnya pada bagian rok yang sedikit pendek. Saya memakainya ke gereja. Ibu saya mengetahuinya dan menegur saya. Saya marah dan merasa orangtua telah mengekang kebebasan berpakaian. Saya merasa berhak menentukan apa yang saya pakai untuk tubuh saya. 

Saya merenungkan kembali tentang peristiwa karena rok pendek yang saya pakai. Apakah ibu saya telah merampas otonomi tubuh? Ini soal nilai, yang dibutuhkan adalah berdiskusi tentang nilai. Bukan berarti menuduh orang atau sekelompok orang telah mengekang kebebasan atas otonomi tubuh. Apakah saya merasa lebih rasional daripada nilai yang dihayati ibu dan keluarga? 

Makna tentang apa dan seperti apa hak dan kebebasan ternyata perlu ditempatkan pada konteks. Dalam konteks Indonesia, seorang manusia dipandang bukan saja sebagai individu melainkan juga sebagai bagian dari komunitas agama dan budaya. 

Nilai agama dan budaya dapat saling terjalin membentuk seorang individu dan membentuk pikiran serta keyakinan diri. Kita pun menyadari nilai komunitas yang membentuk individu bisa mengalami ketegangan ketika berhadapan dengan nilai yang diyakini dan dipilih oleh individu. 

Namun, bukan berarti nilai-nilai yang ada dalam komunitas dianggap sebagai pengekang kebebasan individu.