Mahasiswi
1 bulan lalu · 305 view · 3 min baca · Media 44936_57086.jpg
Foto: CNN Indonesia

Media yang Tak Mau Prabowo-Jokowi Damai

Pertemuan antara Jokowi dan Prabowo di stasiun MRT (Mass Rapid Transit), Sabtu, 13 Juli 2019, menjadi momentum untuk persatuan bangsa ini. Hal tersebut juga memberikan harapan baru untuk kebangkitan bangsa.  Sebab keduanya sudah sepakat untuk melupakan pertarungan pada Pemilihan Presiden 2019 dan lebih mementingkan persatuan.

Saya yakin keduanya juga berpikir visioner untuk masa depan bangsa dan negara ini. Pertemuan mereka berdua di ruang publik juga merupakan sesuatu yang perlu diberikan acungan jempol. Sebab menelaah dari segi strategi politik yang mereka usung, mereka berusaha memperlihatkan bukti nyata kepada masyarakat bahwa keduanya telah melupakan persaingan yang sudah lalu.

Mereka memperlihatkan bukti nyata bahwa rekonsiliasi dari keduanya benar-benar sudah terlaksana. Dan kini kita tinggal menunggu para elite politik dari kedua kubu untuk melakukan hal yang sama, yaitu berdamai satu sama lain.

"Kita juga berharap agar para pendukung juga melakukan hal yang sama karena kita adalah negara sebangsa dan setanah air. Tidak ada lagi yang namanya 01, tidak ada lagi yang namanya 02. Tidak ada lagi yang namanya cebong, tidak ada lagi yang namanya kampret. Yang ada adalah Garuda, Garuda Pancasila," seru Jokowi.

Senada dengan Jokowi, Prabowo juga mengutarakan hal serupa, sebagai pesan untuk para pendukungnya. "Jadi saya sangat setuju. Sudah. Nggak ada cebong-cebong, nggak ada kampret-kampret. Semuanya merah putih," ujar Prabowo.

Ucapan dari kedua tokoh tersebut tentunya amat menyejukan hati rakyat Indonesia. Mengingat pada pilpres dan pasca pilplres situasi politik antarkeduanya begitu keruh, dan menyebabkan situasi yang sangat tidak kondusif, bahkan hinga berujung pada peristiwa-peristiwa besar, seperti aksi demonstrasi yang berujung rusuh dan berdampak pada jatuhnya korban jiwa, sampai kepada terungkapnya rencana penembakan tokoh nasional oleh beberapa oknum.


Bukan cuma itu, kontestasi pilpres juga telah menyebabkan terpolarisasinya masyarakat dari kedua pendukung pasangan tersebut yang menjadi identitas masing-masing.

Namun, meski keduanya sudah bertemu dan sepakat untuk mengakhiri persaingan, masih ada beberapa pihak yang masih belum legawa untuk menerima upaya perdamaian ini. Hal ini juga diperparah oleh media yang juga membuat batasan bagi mereka berdua. 

Media yang harusnya membawa agenda perdamaian atau “Jurnalisme Damai” justru berperan sebagai tokoh antagonis.

Seperti berita yang dimuat pada laman Tribun News, berita tersebut memberikan keterangan foto dengan menggunakan kata “Calon” yang ditujukan kepada Prabowo Subianto.

Kata “Calon” ini berusaha membuat perbedaan antara Prabowo dan Jokowi. Pemberian kata “Calon” kepada Prabowo mengesankan Prabowo sebagai orang yang kalah dalam kontestasi pilpres. Alhasil, keduanya yang berusaha merajut persatuan dan melupakan persaingan menjadi sia-sia, karena media masih memperlihatkan bahwa kontestasi pilpres belum usai.

Pemberitaan ini banyak tersebar dan berseliweran di media-media dan menjadi konsumsi masyarakat luas. Ini akhirnya membuat polarisasi yang terjadi belum hilang.

Belum lagi banyak media yang berusaha menggali dan mencari maksud dari pertemuan kedua tokoh ini. Media pun membuat sebuah talk show yang dihadiri oleh kedua kubu untuk mencari pembenaran. 

Perdebatan pun tak dapat dielakkan, sehingga membuat anggapan di masyarakat bahwa mereka berdua belum benar-benar berdamai, karena masih ada maksud dan tujuan antara keduanya.

Ada juga media-media yang mengaburkan informasi dengan cara mengutip tweet atau ucapan dari para tokoh, yang berusaha memprovokasi kedua kubu.


Tujuan dari media-media tersebut sebenarnya tidak buruk. Tujuan mereka memuat dan menghadirkan pemberitaan tersebut tak lain dan tak bukan untuk menari view dan share sebanyak-banyaknya. Maka pemberitaan dengan judul yang click bait dan sejenisnya pun menjadi komoditas yang dipertahankan oleh media.

Hal ini memang tidak dapat dielakkan, sebab media juga punya dapur yang harus terus berasap, untuk mempertahankan kelangsungan mereka. Peristiwa-peristiwa yang terjadi tentu menjadi makanan empuk bagi media untuk membuat berita.

Namun di tengah situasi yang saat ini sedang memanas, harusnya media juga bisa menjadi agen perubahan dengan memproduksi “Jurnalisme Damai” tadi, di mana reporter dan editor membuat berita dengan mempertimbangkan apakah berita tersebut membuka kemungkinan bagi peleraian konflik tanpa kekerasan atau setidaknya mengurangi kekerasan” (Lynch and McGoldrick, 2005)

Sudah sepatutnya media juga menanggung beban bangsa ini dengan menjadi agen perubahan dan menjadi peredam konflik bangsa ini. Sudah menjadi tugas media pula untuk mencerahkan pikiran dan menghilangkan bias yang melekat pada masyarakat di tengah carut-marut perpolitikan Indonesia.

Sumber:

Artikel Terkait