Di era milineal ini, kita disajikan ribuan informasi yang sangat melimpah. Media-media daring menebar ribuan tulisan untuk dilahap oleh setiap pengunjung. Mengapa media daring bisa sedemikian pesat perkembangannya?

Keberadaan media daring yang menyajikan gabungan teks, gambar, audio, video, dan grafis sekaligus yang diproses archieving secara ototmatis dikelompokkan berdasarkan kategori rubrik kata kunci dan rentang waktu terkahir. Kelebihan media daring yang menciptakan relationship with reader. Pembaca dapat melakukan komunikasi timbal balik di kolom komentar atau kegiatan lainnya. (Asep Syamsul, 15: 2012)

Namun, tsunami informasi yang dihasilkan oleh media daring kini sedang berlayar menuju gelombang memecah-belah antar umat. Keberadaanya mengobarkan diksi untuk membakar golongan A sebagai pihak yang benar. Menggiring kepada sisi yang bertentangan dengan dasar sebuah negara atas nama agama.

Masyarakat nyata yang belum siap secara fondasi budaya, untuk menerima gelombang informasi maya yang bersifat destruktif lantas menjadi lahan basah untuk dilahap. Mereka dijadikan tempat bercocok tanam yang akan tumbuh sebagai senjata untuk memborbardir maya menjadi jagad intoleransi atas nama suku, agama, ras, dan golongan sebagai senjata yang berlawanan dengan masyarakat.

Dalam buku Islam tanpa Diskriminasi karya Mohamad Guntur Romli menyatakan, tindakan yang amoral yang mengatasnamakan agama bukan sifat asli masyarakat kita, melainkan impor culture yang sengaja direduksi untuk membawa seabreg kepentingan di dalamnya.

Hanya masyarakat yang “sakit” bisa berdiri di tengah kobaran api melanda tetangga, tetapi kita pura-pura tak mendengar. Hobi guyub menjadi sesuatu yang mahal ketika intoleransi dan kekerasan sudah ditunggangi kepentingan-kepentingan merusak agama dan perdamaian.

Media Daring Post-Truth

Menurut penulis, terdapat beberapa pertimbangan  oleh perusahaan media untuk melakukan invasi di media daring, seperti diungkapkan oleh Theodore Jay Gordon dari Future Grup di Noank, Connecticut (Hernandes, 1999: 9), perubahan media pasca industrialisasi memiliki empat kekuatan berupa kemunculan hegemoni komputeriasi, dominasi eletronik, serta globalisasi.

Jarak dan waktu sudah bisa dipotong menggunakan satu alat elektronik bernama komputer,  serta gawai dengan teknologi termutakhir. Hingga muncul “satu klik” kita sampai pada perkembangan teknologi informasi yang begitu pesat.

Gejala post-truth menjadi pemicu masyarakat untuk mengemukakan kebenaran yang didasarkan pada ketidakpuasan kebenaran itu sendiri. Lalu, muncullah masyarakat untrusted terhadap media-media yang sajian monoton.

Media-media daring yang memilih untuk menyajikan berita-berita yang menyudutkan, mengandung SARA, serta propaganda sering kali digunakan untuk kepentingan oknum-oknum untuk berperang di dunia maya. Sifatnya meninggalkan toleransi dalam mengungkapkan kebencian di ruang maya untuk mengejar menggaet pembaca sesaat.

Di sinilah media daring yang menebarkan kedamaian justru diuntungkan oleh masyarakat yang sedang mengalami gejala post-truth. Pertama, masyarakat yang mulai bosan dengan narasi provakatif dan destruktif akan beralih secara alamiah terhadap media yang sifatnya mendinginkan. Kalaupun media provakatif terhadap intoleransi masih eksis, karena “teknologi buzzer” yang membesar.

Kedua, narasi toleransi di media nyata sama halnya dengan media maya dalam ingata panjang masyarakat. Bangsa Indonesia kenyang akan pengalaman nilai-nilai multikultural telah puluhan tahun mengalami peristiwa-peristiwa panjang atas nama agama terselesaikan dengan narasi toleransi yang berkelanjutan.

Ketiga, nilai sense culture yang tidak tercipta secara maya lah dengan faktor alamiah berupa kerekatan komunitas secara kultural.

Masyarakat maya yang mulai terengkuh media daring penebar kebencian di atas kaki SARA sedang kelabakan dengan maraknya gejala post-truth yang menerjang berita-berita bernafas intoleransi. Ketika mereka mencoba melepas erat tali persaudaraan melalui serbuan diksi-diksi tak manusiawi, justru merekalah yang memakan senjata tuan tanpa mengetahui media daring penebar sejuklah yang berangkat dari nilai kultural Indonesia.