3 tahun lalu · 1037 view · 5 menit baca · Saintek sosmed.jpg

Media Sosial sebagai Teknologi Pembebasan

Keputusan Menteri Perhubungan Ignasius Jonan melarang Go-Jek beroperasi barangkali adalah contoh kebijakan publik yang paling pendek masa berlakunya di dunia. Bukan setahun, bukan sebulan, dan bukan pula seminggu. Bahkan tidak sampai satu hari. Pagi hari kebijakan itu diumumkan, siang menjelang sore, keputusan itu langsung dibatalkan.

Apa yang mendorong perubahan kebijakan itu? Bukan kritik dari DPR, bukan pula dari elit politik yang wajahnya selama ini menghias layar kaca. Tapi, dari masyarakat lewat instrumen baru yang kita sebut “social media.” Ya, media sosial lah yang secara efektif mendorong perubahan kebijakan itu. Bukan yang lain.

Pelarangan dan pencabutan larangan Go-Jek bukanlah satu-satunya contoh betapa media sosial sangat efektif mempengaruhi, menekan, dan mendesak keinginan publik. Contoh fenomenal lainnya adalah berhasilnya Jokowi menjadi presiden pada Pemilu 2014 yang lalu. Kendati harus melawan begitu banyak partai besar, pemilik modal, dan kuasa agama di negeri ini, warga di media sosial (Netizen) berhasil meloloskan Jokowi menjadi orang nomor satu di negeri ini.

Media sosial tak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi dan penyebar informasi. Facebook dan Twitter tak hanya berperan sebagai medium untuk curhat dan berbagi cerita. Tapi, keduanya telah menjadi penyelamat dan pembebas masyarakat dari kesewenang-wenangan. Media sosial telah menjadi alat canggih yang membebaskan.

Ya, media sosial telah menjadi Teknologi Pembebasan bagi "kaum tertindas" yang tak punya akses langsung kepada kekuasaan. Istilah “teknologi pembebasan” (liberation technology) pertama kali diperkenalkan oleh Larry Diamond, seorang sarjana Amerika yang banyak meneliti tentang perilaku politik dan demokrasi.

Dalam sebuah artikelnya yang diterbitkan di Journal of Democracy (2010), Diamond menganggap internet sebagai sebuah kekuatan baru yang pengaruhnya tidak kurang dari teologi. Dalam agama, teologi adalah landasan dan sekaligus rujukan bagi perilaku dan perbuatan seseorang. Teologilah yang mendorong umat beragama bekerja dan berperilaku.

Istilah “teknologi pembebasan” sendiri tentulah merujuk kepada konsep mirip yang pernah sangat populer pada dekade 1970an, yakni “Teologi Pembebasan.” Dimotori oleh para tokoh dan sarjana Katolik seperti Gustavo Gutierrez, Juan Luis Segundo, dan Leonardo Boff, Teologi Pembebasan mendominasi wacana religio-politik di Amerika Latin. Teologi ini kemudian merambah ke berbagai belahan dunia, termasuk ke Indonesia.

Sama seperti Teologi Pembebasan, media sosial (atau internet secara umum) memainkan peran yang sangat penting di dalam mendorong dan mengarahkan manusia untuk bertindak. Netizen telah menjadi kerumunan yang bijak (the wisdom of crowds) ke mana arah perubahan diproyeksikan. Media sosial adalah “teologi baru” yang bisa menampung aspirasi masyarakat dan membantu mereka merealisasikannya.

Sebagai teknologi yang membebaskan, internet memainkan peran yang sangat krusial dalam mengawal jalannya sebuah pemerintahan. Di negara-negara yang otoriter, peran internet sangat penting dalam melawan kebobrokan birokrasi dan kesemena-menaan oligarki.

Diamond memberi contoh betapa internet telah menolong warga di China yang tertekan oleh birokrasi yang korup untuk bersuara dan meneriakkan ketidakadilan. Sebuah kasus penyiksaan oleh polisi di sebuah provinsi di China berujung pada pemecatan dan pemberian sanksi berat kepada 12 perwira polisi, sesuatu yang tak pernah ada presedennya dalam sejarah China.

Internet juga telah memungkinkan warga Malaysia memiliki alternatif bacaan lain, seperti Malaysiakini, di tengah kungkungan oligarki partai yang menguasai semua media cetak di negeri jiran itu. Di Tunisia dan Mesir, internet telah menjadi cerita tersendiri tentang kekuatan baru mobilisasi digital. Fenomena “Musim Semi Arab” di Timur Tengah tak bisa dilepaskan dari peran internet.

Di Indonesia, internet memainkan peran ganda: pertama, sebagai alat mobilisasi yang efisien untuk mengontrol kekuasaan. Kedua, sebagai alternatif bagi masyarakat untuk menciptakan berbagai peluang yang menjanjikan.

Mengontrol Kekuasaan. Pengguna internet di Indonesia adalah salah satu yang terbesar di dunia. Menurut data terbaru dari Perfect Insider (Juli 2015), Indonesia menempati posisi kelima dalam hal pengguna Twitter terbanyak di dunia, setelah Amerika, Brasil, Jepang, dan Inggris.

Sebagian besar pengguna di Indonesia memakai Twitter untuk gossip dan curhat, termasuk curhat soal politik. Jika ada suatu peristiwa politik yang sedang hangat terjadi di Indonesia, pengguna Twitter secara serempak berkerumun, membagi cerita, meng-update, dan memobilisasi suatu pandangan yang dianggap “benar” secara common sense.

Kasus teranyar yang sempat membuat jagat Twitter amat berisik selama beberapa hari adalah isu yang menimpa Ketua DPR, Setya Novanto (SN), yang berujung pada pengunduran dirinya. Politisi Golkar ini dikenal cukup “licin” dan beberapa kali lolos dari jerat hukum.

Melihat betapa krusialnya isu tersebut (karena melibatkan perusahaan tambang Freeport dan banyak nama petinggi negeri ini, termasuk Presiden), Netizen tak tinggal diam. Mereka menciptakan kerumunan, memobilisasi pendapat yang mereka anggap benar, yakni meminta SN mundur dari jabatannya sebagai ketua DPR.

Meski harus melewati drama persidangan yang banyak mengundang kritik dan memicu sumpah-serapah, akhirnya SN mengundurkan diri. Desakan Netizen yang bertubi-tubi pun berhasil mencapai tujuannya.

Contoh selanjutnya adalah kebijakan Menteri Perhubungan soal Go-Jek seperti sudah disebut di atas. Keputusan Menhub melarang transportasi ojek dan sejenisnya lewat aplikasi online memicu “kemarahan” publik. Netizen saling bersahutan dan melobi sekuat tenaga —lewat Twitter, DM, WA, dll— orang-orang dekat Presiden.

Hasilnya, dalam waktu kurang dari 10 jam, Presiden Jokowi turun tangan dan keputusan itu pun dibatalkan. Ini adalah contoh paling fenomenal betapa media sosial benar-benar menjadi alat kontrol yang ampuh bagi kesewenang-wenangan pejabat.

Membuka Peluang. Peran kedua dari internet adalah fungsinya sebagai pembuka peluang bagi usaha-usaha baru yang sebelumnya tak terbayangkan. Internet tak hanya memberikan akses bagi para pemilik modal untuk memperluas bisnisnya, tapi juga bagi “kaum duafa” yang miskin modal untuk mencoba peruntungannya.

Contoh teranyar dalam hal ini adalah —lagi-lagi— Go-Jek. Perusahaan rintisan yang didirikan oleh Nadiem Makarim ini bukan hanya sekadar perusahaan berbasis aplikasi, tapi telah menciptakan peluang kerja bagi ratusan ribu orang.

Go-Jek juga membuka ribuan potensi usaha yang terkait dengannya, dari urusan makanan, pengantar barang, belanja, kebersihan, perawatan kecantikan, hingga pijat. Dengan kata lain, Go-Jek telah melampaui core business-nya semula sebagai aplikasi yang ingin memberdayakan bidang transportasi, khususnya ojek.

Beberapa peluang bisnis lain juga tercipta seiring dengan hadirnya internet. Penyedia toko online seperti BukaLapak dan Tokopedia kini menjadi salah satu yang terdepan dalam menyediakan outlet-outlet virtual bagi siapa saja yang berminat membuka usaha.

Sementara itu, selain berfungsi sebagai penyebar informasi, media sosial juga berfungsi sebagai penghubung antara “warga biasa” dengan tokoh-tokoh yang selama ini tak tersentuh.

Munculnya para artis, selebritis, tokoh politik, guru, dosen, pengusaha, dan tokoh-tokoh penting masyarakat lainnya di Twitter dan Facebook meruntuhkan tembok hirarkis yang selama ini memisahkan hubungan mereka. Meski media sosial memiliki hirarkinya sendiri, hubungan antar-masyarakat secara umum lebih cair.

Tentu saja, media sosial memiliki sisi hitamnya sendiri. Kebebasan berekspresi yang kita miliki digunakan oleh orang-orang tertentu untuk menyebar fitnah, mencaci-maki, mem-bully, dan memanipulasi. Ini adalah fenomena lumrah yang dihadapi oleh masyarakat yang baru melek teknologi dan melek kebebasan.

Lambat-laun, ketika hukum berjalan dan aturan ditegakkan, warga akan semakin sadar dan bertanggungjawab dengan apa yang disampaikannya di media sosial. Bagaimanapun, media sosial adalah juga media di mana konten (isi) menjadi tanggungjawab orang yang menulis/memuatnya.

Untuk sekarang, marilah kita syukuri dulu peran penting media sosial —dan internet secara umum— sebagai pembebas dan pemenuh aspirasi kita semua.