Konsultan
1 tahun lalu · 140 view · 4 min baca menit baca · Media 74257_72961.jpg
Sumber: contentmart.com

Media Sosial Jadi Asosial Berujung Sial

Sebuah mimpi yang suci tentang bagaimana orang-orang terhubung satu sama lainnya. Berbagi kisah, menyemangati, hadir di saat sedih, menghibur teman yang lagi terluka dan berbagai bentuk relasi lainnya.

Begitulah awalnya media sosial diciptakan, untuk merekatkan berbagai hubungan yang jauh. Mencari teman yang telah lama hilang. Mendekatkan yang jauh, tidak hanya hanya dalam rentang jarak yang pendek, tetapi bahkan dari berbagai tempat di planet ini. Sebuah cita-cita yang mulia.

Buktinya sudah banyak. Dengan media sosial dan segala kecanggihannya, banyak orang yang menemukan teman lama dan bahkan anggota keluarga yang pernah hilang. Bisa saling menyapa dalam berupa bentuk, kalimat, gambar dan gambar hidup. Dilakukan secara real time.

Media sosial ini, yang diletakkan pada teknologi internet, isitilahnya over the top, berkembang dengan sangat pesat. Wajar saja, manusia adalah mahluk sosial. Dengan demikian, media sosial sangat mendukung ‘kesosialan’ seorang manusia. Keinginan untuk berinteraksi dengan berbagai kalangan dilandaskan pada berbagai kesamaan. Bisa nasib, hobi, pekerjaan dan kepentingan lainnya.

Dengan berbagai platform, media sosial menjadi sebuah kebutuhan setiap individu, setidaknya di perkotaan. Seseorang akan dianggap sebagai alien jika tidak memiliki media sosial, setidaknya facebook. Orang akan dianggap tidak up-to-date jika tidak bergelut dengan media sosial.

Akhirnya, berhamburanlah berbagai ekpresi berbentuk teks dan gambar termasuk suara. Bahkan sudah pada tahapan maniak. Setiap aktivitas tidak terlepas dari laporan ke publik. Sakit gigi dilaporkan ke publik. Mau memilih sampo, perlu diuji ke publik. Mau membeli baju, perlu dipastikan seperti apa pendapat publik.

Hendak makan di restoran, dikabarkan ke publik. Segala sesuatu yang bisa diungkapkan harus diungkapkan. Termasuk soal males bangun tidur, sambil menyebarkan ke khalayak wajah yang masih kusam. Segalanya tidak afdol rasanya kalau tidak dimintai pendapat ke publik. Segala tindak-tindak tanduk harus diunggah ke media sosial.

Tetapi namanya manusia, dalam konteks kesosialannya tadi, justru tercipta kompetisi yang tidak disadari terjadi. Media sosial mencitpakan suatu keadaan untuk selalu menjadi nomor satu. Bersaing. Berkompetisi. Menjadi individu yang paling aktif, paling banyak di-like, paling banyak mendapat komentar, paling banyak di-share, dilihat, dikunjungi dan diintip. Paling banyak lalu lintasnya.

Menjadi Media Asosial

Ternyata dengan jumlah pengguna yang sangat massal dan variasi isu-isu yang disemburkan, media sosial menjadi semacam hutan belantara. Hutan belantara yang menciptakan hukum rimba.

Di sinilah kemudian awalnya terjadi proses yang menjadikan media sosial ini beralih menjadi media yang asosial. Dalam keriuhan jejaring antar manusia dalam berbagai kepentingan, baik terkait kehidupan sosial, politik dan ekonomi serta lain-lainnya, terjadi pergesekan.

Persamaan yang dimiliki ternyata juga memunculkan perbedaan. Perbedaan pandangan dan juga keinginan dan cita-cita telah menciptakan ruang tersendiri di media sosial itu. Alih-alih menciptakan kebaikan dari eratnya pertalian sosial yang tercipta, ternyata media sosial menjadi medan perang tersendiri.

Kisah-kisah seperti ini banyak terjadi. Karena persaingan, terjadi perundungan di media sosial. Prosesnya sangat intens. Korban perundungan, dengan segala kelemahan mentalitasnya, akhirnya kalah. Korban bahkan ada yang sampai mengakhiri hidupnya.

Media sosial juga menjadi sebuah malapetaka bagi banyak keluarga. Baru-baru ini diberitakan kejadian perceraian di Bekasi yang sangat tinggi. Hal yang mengherankan adalah ternyata mayoritas penyebab perceraiannya hampir 87% akibat selingkuh yang dipicu pertemanan di media sosial.

Bukan media sosialnya yang salah. Media sosial hanya mewadahi terjadinya pertemuan. Pertemuan yang didasari pemenuhan keinginan dasar manusia atas kebaruan. Kebaruan yang diterjemahkan sebagai rumput tetangga lebih hijau. Kebaruan yang menciptakan terjadinya pertemuan-pertemuan intimasi terlarang.

Di tempat lain, terjadi pengeroyokan dan perang antar kampung atas dasar sebuah berita sosial yang dibagikan. Massa bergerak, perkelahian terjadi, berita tidak terverifikasi dan masyarakat telah tersulut. Kebakaran terjadi, korban berjatuhan.

Media sosial juga menjadi tempat mencari mangsa bagi berbagai predator. Baik penipu, maling, pencuri dan pelaku kebiasaan miring lainnya. Perampokan yang melibatkan pembunuhan bisa bermula dari media sosial.

Media sosial yang seharusnya menjadi sebuah wadah mengeratkan, sekarang menjadi pusat ‘perang’ maya yang terbawa hingga ke dunia nyata. Dunia nyata dan maya menjadi tidak nyaman untuk ditinggali.

Ujungnya Media ‘So Sial’

Persaingan di media sosial melahirkan perang yang tidak putus dan berkelanjutan. Meskipun ini bukan dari tujuan Mark Zuckerberg ketika menciptakan facebook, tetapi nyatanya media sosial ciptaan drop out Harvard University ini, meskipun akhirnya diselesaikan secara honoris causa, berubah menjadi medan perang maya.

Emosi yang terkumpul dan kadang tidak tertahan berujung pada ujaran-ujaran yang off side. Undang-Undang ITE dijadikan pagar untuk menjaga agar tidak terjadi ‘peperangan’ di media sosial. Tetapi, aturan ini ternyata kadang tidak mempan.

Berhamburanlah ujaran-ujaran kebencian di media sosial. Beberapa orang yang dengan semangat luar biasa menguarkan kebencian berbau sektarian akhirnya harus mempertanggungjawabkan perbuatannya.

Mungkin ada juga yang secara sadar menciptakan konten-konten miring untuk mendapatkan keuntungan dari monetasi trafic media sosialnya. Tetapi, orang seperti ini tentunya sudah sadar dengan hukum yang berlaku di dunia maya termasuk aturan formal yang memagari perilaku.

Nyatanya, hingga hari ini pun masih saja terjadi di dunia maya orang-orang yang menceritakan kebencian, fitnah dan juga ujaran-ujaran yang menyinggung orang lain. Bahkan ada yang jelas-jelas mengucapkan kata-kata kasar yang sangat tidak wajar, diucapkan dengan lugas dan menjadi konsumsi publik.

Ketika kasus seperti ini diletakkan dalam koridor hukum, sering para pelaku ini mengajukan permintaan maaf dengan alasan tidak paham dengan ucapannya. Padahal ketika meneriakkan, dilakukan dengan mantap, percaya diri bahkan tidak takut dengan penegak hukum.

Seperti kasus Farhan Balatif dari Medan. Ucapannya yang gagah, berakhir dengan wajah muram dan nelangsa. Masih banyak kasus yang sama yang terjadi. Menjadi korban dari media sosial, yang membawa kesialan pada diri sendiri. Akibat dari terlalu bersemangat, tidak menghargai orang lain, merasa tersembunyi di ruang sempit kamarnya, tersambar emosi kolektif dan rupa-rupa pemicu lainnya.

Seperti layaknya setiap hal apa pun, memiliki dua sisi yang saling bertentangan. Media sosial juga demikian. Kehati-hatian, kesadaran penggunaan dan juga nilai-nilai yang ada di dunia nyata juga seharusnya tetap berlaku di dunia maya ini.

Jangan karena terlena, media sosial digunakan menjadi media asosial yang berujung ‘so sial’ dengan berakhir di balik jeruji. Tetapi ini masih lebih ‘baik’. Ada juga yang sampai meregang nyawa karena terlalu percaya dengan segala sesuatu yang ada di media sosial.

Bijaklah dalam bermedia sosial. Perlakukan media sosial dan aktivitas di dunia maya seperti di dunia nyata. Niscaya, akan selamat.

Artikel Terkait