Media sosial itu sangat bertalian dengan kehidupan manusia. hampir seluruh keseharian manusia dibersamai media sosial. Mulai dari bangun tidur, hingga menjelang tidur, manusia banyak berinteraksi dengan sosial. Seakan-akan media sosial lebih dekat dengan kehidupan manusia, dibanding dengan interaksi dalam dunia real.  

Interkasi itu berupa melakukan posting atau mungkin hanya sekedar melihat jumlah pemirsa dari postingan. interaksi semacam ini sedikit banyak menyita waktu, bayangkan saja ada orang yang dengan sengaja meluangkan waktunya hanya sekedar untuk melihat pemirsa, tentu itu hal yang tidak penting, dan membuang-buang waktu.

Keterkaitan media sosial dengan kehidupan manusia yang begitu dekat ini kemudian membawa problem terkait bagaimana manusia itu mengonsepsikan dirinya. Konsepsi manusia tentang dirinya sedikit banyak dikonstruk oleh media sosial.

Hal ini misalnya saja terjadi dalam kondisi manusia yang mengonsepsikan  tubuh ideal berdasar pada apa yang ada dalam media sosial. Cantik ataupun tampan itu tergantung trend yang berkembang dalam media sosial.

Dalam urusan kecantikan, wanita kemudian mengonsepsikan kecantikan itu dia yang memiliki tubuh berisi, langsing, wajah glowing, atau sederhananya body goals. Konsep semacam ini tentunya bermuara pada media sosial. Begitu juga sebagai pria, pria yang ideal adalah yang berwajah glowing, memiliki tinggi badan diatas 150cm, berpakaian rapi.

Kondisi semacam itu kemudian memunculkan sebuah pertanyaan, mengapa manusia kemudian mengonsepsikan dirinya sejalan dengan algoritma media sosial? Bagaimana hal itu kemudian bisa terjadi? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, maka perlu terlebih dahulu dilihat perihal bagaimana media sosial bekerja sekaligus bagaimana manusia bermedia sosial.

Media sosial sendiri dibentuk dalam rangka menciptakan dunia tiruan dari dunia real manusia. Dalam media sosial terdapat interaksi layaknya dunia real, semisal saling berkomentar, saling menyukai, hingga persaingan di dalamnya.

Media sosial kemudian merekam aktivitas-aktivitas yang terjadi ketika manusia berelasi dan mengumpulkannya sebagai basis data. Data-data ini kemudian diseragamkan ke dalam kategori-kategori. Kategori-kategori semacam ini sederhananya pola dasar dari media sosial itu sendiri. Kategori-kategori tersebut biasanya terwujud dalam trend.

Polarisasi semacam ini tentunya agar pengguna media sosial merasa benar-benar berada dalam kehidupan nyatanya, seakan-akan media sosial begitu mengerti tentang kehidupannya, sekaligus menyediakan apa yang dibutuhkan oleh manusia itu sendiri.

Rancangan semacam itu ternyata berhasil. Manusia merasakan dirinya berada dalam kehidupan real ketika bermedia sosial. apa yang banyak disukai di media sosial dianggap sebagai sebuah hal yang sama disukainya dalam dunia real, sederhananya pengaburan batas antara dunia real dan dunia maya.

Aktivitas posting dalam media sosial pun kemudian menjadi seragam dengan adanya satu persepsi tentang suatu hal yang menjadi trend dalam dunia maya dan dunia real. Keseragaman ini tentunya memiliki satu asumsi yang sama terkait sebuah trend.

Hal tersebut menujukan sebegitu berpengaruhnya media sosial membentuk kehidupan manusia. kiranya kehidupan manusia yang dibentuk oleh media sosial adalah sebuah masalah yang cukup serius. Menimbang manusia itu memiliki kebebasan dalam kehidupannya.

Manusia berhak memilih hidup sendiri tanpa adanya determinisasi dalam kehidupannya, bukannya malah diatur oleh sebuah nilai tertentu. Kebergantungan manusia terhadap sebuah nilai tanpa menganalisisnya terlebih dahulu sama saja menafikan kemampuan akal manusia.

Pertanyaan tentang apakah maksud dari suatu hal? Dalam arti apa suatu hal tersebut benar? Siapa yang paling diuntungkan dalam hal tersebut? Hingga apakah hal tersebut sesuai dengan diri kita? Kiranya jarang dipertanyakan dalam orang bermedia sosial. Terlihat dari banyaknya orang yang hanya ikut-ikutan aktivitas bermedia sosial.

Problem ikut-ikutan ini menjadi bagian dari krisis eksistensi manusia. krisis eksistensi sendiri terjadi ketika seseorang tidak mampu menjadi autentik dalam kehidupannya. Sederhananya manusia kemudian kehilangan jati dirinya.

Bayangkan saja dalam bermedia sosial, seolah-olah media sosial lebih tahu tentang jati diri manusia itu sendiri. Tentunya hal ini sebagai akibat dari adanya kategori-kategorisasi yang muncul dalam media sosial. Hingga manusia dibentuk ke dalam pola-pola tertentu.

Manusia sendiri dalam cara beradanya jelas-jelas berbeda dibanding dengan segala sesuatu yang ada di dunia ini. Manusia memiliki kesadaran untuk berada dalam dunia ini, kesadaran untuk menidak pada suatu hal apapun. Berbeda dengan benda ataupun hewan yang mereka tidak memiliki kemampuan untuk menolak suatu konsepsi tentang dirinya.

Maka mempertanyakan sebuah konten atau singkatnya kontekstualisasi terhadap suatu konten adalah sebuah hal yang dinilai penting dewasa ini. Mempertanyakan adalah bagian dari cara manusia ber-kesadaran dalam kehidupan. Setelah mempertanyakan, maka kemudian mampu memutuskan suatu hal yang sejalan dengan individu itu sendiri.

Sederhananya menjadi autentik sama artinya dengan menghindarkan diri dari kepalsuan dalam kehidupan. Melihat dan menimbang suatu konsepsi berdasarkan kondisi konkret dari hidup individu itu sendiri.  Menjadi diri sendiri dalam berhadapan dengan media sosial sama artinya dengan menggunakan media sosial dengan bijaksana.