Kierkegaard, seorang yang disebut sebagai bapak eksistensialisme, mengkritik apa yang sedang marak pada zamannya terkait kecenderungan para pemikir dalam merumuskan secara final tentang realitas. Kierkegaard memulai untuk lebih menekankan perhatiannya kepada subjek diri sendiri, diri yang unik, yang berbeda dengan diri-diri lainnya. 

Kajian filsafat pada zamannya yang berarti ketenaran aliran Hegelian, menurutnya, terlalu menaruh perhatian yang besar kepada objektivitas dari pada perhatiannya kepada diri sendiri, sebagai subjek yang menjalani kehidupan sehari-hari. Kebenaran objektif tidak akan pernah selesai dibahas dan menjadi kesimpulan final.

Gerakan eksistensialisme akhirnya marak dengan munculnya pemikir-pemikir seperti Karl Jasper, Jean-Paul Sartre, Martin Buber, dan lain-lainnya. Para pemikir ini menekankan pentingnya menjadi diri yang autentik, yang sadar akan kebebasan dan pilihannya berdasarkan penghayatan atas kehidupan.

Walau memang, mereka tidak pernah mencapai suatu kata sepakat terkait kebebasan, individu, dan eksistensi. Tetapi gerakan ini memiliki perhatian besar kepada individu sebagai subjek dengan segala keunikannya. Ide ini mengkritik besarnya pengaruh kemajuan teknologi yang perlahan-lahan membawa individu ke dalam arus massa.

Kedatangan era baru, yakni era revolusi industri ke-4, menandakan kemajuan teknologi yang kian cepat. Pergolakan antara individu dengan derasnya kemajuan teknologi telah diprediksi oleh para pemikir eksistensialisme akan membawa kepada kehilangan keautentikan diri.

Individu yang seharusnya tampil dengan kesejatian dirinya terbawa arus yang begitu deras oleh mesin dan internet. Mudahnya, betapa banyak manusia sekarang yang tidak bisa lepas dengan ponsel pintar dalam kehidupannya sehari-harinya? 

Mungkin ada benarnya ketika Yunal Noah Harari menulis dalam bukunya “Sapiens” bahwa pada zaman revolusi agrikultur, bukan manusialah yang mendomestikasi tanaman, tetapi tanaman atau gandumlah yang membuat manusia tetap tinggal dalam satu tempat.

Seperti juga internet dan media sosial, manusia dibuat terlempar arus informasi dan kecanggihan sehingga lupa bahwa diri sendirinya bukan bagian dari salah satu akun Instagram atau Facebook. Kepopuleran media sosial telah membentuk proses pencitraan diri menjadi begitu nyata. 

Akun media sosial, pada era ini, telah menjadi “diri” dari seorang individu. Mereka menampilkan berbagai macam aktivitas dan potret dirinya sehingga menimbulkan pencitraan yang sungguh-sungguh masif. Manusia berlomba-lomba menata sedemikian rupa akun mereka agar menjadi wajah baru dirinya sendiri.

Bentuk pencitraan seperti ini menutup keautentikan diri seseorang, malah menampilkan diri yang "seakan-akan". Mereka mengikuti apa yang sedang tren di masa ini dibanding mengikuti apa yang diri sendirinya yakini.

Proses kesalahan identifikasi diri sebagai hanya sebatas akun media sosial adalah salah satu hal kecil proses dehumanisasi. Berbagai bentuk pencitraan yang diunggah ke dalam media sosial diperuntukkan agar memberi suatu kesan terhadap pemilik akun tersebut. Alih-alih mengembangkan diri, manusia akhirnya hanya menata citranya di media sosial.

Kehidupan di media sosial sebenarnya dapat menjadi, seperti yang disampaikan oleh Karl Jaspers, suatu lahan diadakannya suatu komunikasi eksistensial inter-subjektif yang berarti komunikasi antar-diri-diri yang sejati. Ini sangat mungkin dijalani atau bahkan telah berjalan. Tetapi, ini tidak akan terjadi ketika manusia berbohong menyampaikan citranya.

Masalahnya juga ada dalam keterbatasan fotografi yang kadang tidak disadari. Dalam fotografi, yang sekarang menjadi sangat amat mudah dan canggih, sejatinya menangkap realitas yang terbatas dalam satu bingkai, bukan menampilkan keseluruhan objek realitas. 

Potret diri dalam foto ditangkap oleh kamera sedemikian rupa, lalu menghasilkan kesan-kesan diri baru. Diri ini yang ditampakkan menjadi citra diri baru dalam suatu akun media sosial. 

Menurut penulis, ini bisa menjadi penipuan citra diri. Telah banyak kejadian yang ditemukan bahwa citra diri dalam media sosial benar-benar suatu hal yang berbeda dalam citranya di kehidupan sehari-hari.

Terlepas dari permasalahan kesalahan identifikasi diri, Karl Jaspers juga berpendapat bahwa salah satu sebab dari krisis kemanusiaan dewasa ini adalah karena makin meratanya corak kehidupan bersama dalam bentuk massal. Sehingga manusia lupa akan keunikan dirinya. 

Arus massa yang begitu besar menyeretnya terlalu jauh dari penghayatannya sendiri terhadap kehidupan. Masalah ini pun sudah terjadi dan sebagian dari kita telah menyadari.

Berbagai macam tren dalam media sosial mungkin memiliki banyak dampak positif bagi kehidupan saat ini. Tapi, jika manusia lengah dan tidak sadar, kemajuan ini dapat menjadi bumerang yang akan memeloroti keautentikkan diri. 

Telah banyak penelitian dalam bidang psikologi yang menyampaikan adanya gejala iri hati dari pemakaian media sosial yang berlebihan. Istilah FOMO, fear of missing out, telah menjadi wabah yang menular dengan hebat pada masa ini. Ketakutan bahwa dirinya lebih rendah dan merasa kesepian ketika melihat aktivitas teman di media sosial yang dinilainya lebih maju dan dirinya merasa tertinggal.

Keautentikan diri, yang berarti memilih jalan hidupnya sendiri berdasarkan penghayatannya terhadap kehidupan menjadi terhambat oleh arus massa yang begitu kuat. Ini bukan persoalan menolak atau tidak atas kemajuan teknologi, hanya saja perlu kiranya manusia modern sadar akan keunikan dirinya sebagai anugerah Tuhan, daripada hanya menjiplak "diri" selebritas.