Mahasiswa
2 tahun lalu · 995 view · 3 menit baca · Filsafat salvador_dali1_1000.jpg
rumahfilsafat.com

Media Sosial dan Filsafat Moral

Sebuah Aliran Kebahagiaan

Hedonisme merupakan salah satu filsafat moral yang mungkin banyak dianut para pengguna media sosial secara tidak sadar. Kebahagiaan yang merupakan tujuan utama para kaum hedonis pun menjadikan media sosial lebih banyak berisi momen-momen kebahagiaan bagi para penggunanya.

Aristippos, murid Socrates, mengatakan bahwa kebahagiaan bersifat badani, aktual, dan individual. Artinya adalah manusia merasakan gerak, terjadi kini, dan di sini. Atau mungkin lebih singkatnya hedonisme adalah kesenangan yang didapatkan dengan cara dirasakan oleh panca indera.

Banyak yang mengira bahwa konsep hedonisme adalah hanya menghambur-hamburkan uang untuk sekedar berbelanja atau pergi ke tempat makan atau tempat wisata agar bisa memperoleh kebahagiaan.

Sebenarnya tidak hanya itu. Manusia memiliki cara masing-masing dalam memperoleh kebahagiaan. Selagi kebahagiaan itu didapat dan dirasakan melalui panca indera, itulah hedonisme.

Dalam hedonisme, Aristippos menegaskan bahwa perlunya pengendalian diri dalam kesenangan. Bukan berarti harus meninggalkan kesenangan, tetapi mempergunakan kesenangan dengan baik dan jangan sampai membiarkan diri terbawa olehnya dengan cara mengendalikannya sesuai dengan kehendak diri sendiri.

Jika bicara filsafat moral, selain Hedonisme, ada pula yang disebut Eudemonisme, Utilitarianisme, dan Deontologi.

Aristoteles, penggagas Eudemonisme, mengatakan bahwa dalam tiap aktivitas manusia pasti memiliki tujuan akhir, yaitu kebahagiaan. Eudemonisme memiliki cara untuk memperoleh kebahagiaan, yaitu dengan cara menjalankan fungsinya dengan baik.

Tujuan terakhir pemain biola adalah bagaimana agar dia bisa bermain biola dengan baik. Tujuan terakhir guru adalah untuk mencerdaskan murid-muridnya. Jika manusia telah berhasil menjalankan fungsinya dengan baik, maka manusia akan mendapat tujuan akhirnya, yaitu kebahagiaan.

Utilitarianisme adalah bagaimana agar memperoleh kebahagiaan dengan cara mengedepankan prinsip kegunaan. 

Suatu perbuatan dinilai baik jika dapat meningkatkan kebahagiaan sebanyak mungkin orang atau demi kepentingan orang banyak. Inilah the principle of utility (prinsip kegunaaan), yakni the greatest happiness of the greatest number (kebahagiaan terbesar dari jumlah orang terbesar) yang dikemukakan oleh Jeremy Bentham.

John Stuart Milll mengkritik Bentham. Menurutnya, kebahagiaaan perlu mempertimbangakn sisi kualitasnya juga. Baginya, ada kesenangan yang bermutu rendah dan ada yang bermutu tinggi.

Prinsip Mill yang patut dicatat adalah bahwa suatu perbutan dinilai baik jika kebahagiaan melebihi ketidakbahagiaaan, dimana kebahagiaan semua orang yang terlibat dihitung dengan cara yang sama.

Deontologi dicetuskan oleh Immanuel Kant. Menurutnya, yang baik adalah kehendak baik itu sendiri. Suatu kehendak menjadi baik sebab bertindak karena kewajiban. Penganut paham ini memandang bahwa kebahagiaan manusia didapat apabila manusia melakukan perbuatan sesuai kewajiban. 

Salah satu hirarki kebutuhan yang dicetuskan oleh Maslow adalah kebutuhan akan penghargaan. Penghargaan yang paling tinggi ialah penghargaan terhadap diri sendiri yang dibangun dari pencapaian, self-respect, dan kebebasan. Sedangkan penghargaan yang paling rendah datang dari respek orang lain terhadap suatu pencapaian seseorang.

Dengan adanya media sosial, manusia menjadi lebih mudah untuk mendapatkan penghargaan. Terlepas apa paham yang dianut para penggunanya, tujuan menggunakan media sosial selain bersosialisasi dengan orang lain adalah untuk mendapat penghargaan atau pengakuan dari orang lain.

Penganut paham hedonis tentu saja akan banyak meng-share momen-momen ketika sedang berbahagia dengan panca indera yang mereka rasakan. Liburan, berbelanja, mendengarkan musik, menonton film, dan lain-lain.

Begitu pun dengan penganut paham Eudemonis, akan meng-share momen-momen kebahagiaan ketika telah berhasil melakukan fungsinya dengan baik. Penganut paham Utilitarian akan meng-share momen-momen kebahagiaan apabila telah melakukan perbuatan yang baik untuk kepentingan orang banyak.

Yang terakhir adalah Deontologi, penganut paham ini akan meng-share momen-momen kebahagiaan mereka apabila telah melakukan perbuatan sesusai kewajibannya.

Seperti seorang Presiden yang telah habis masa jabatannya. Apabila ia melakukan kewajibannya dengan baik, ia pasti akan merasakan kebahagiaan pada akhirnya.

Beda lagi dengan Presiden yang telah tuntas kewajibannya, tapi masih saja suka mengeluh dan curhat di media sosial. Mungkin perbuatan-perbuatan saat menjadi Presiden masih kurang baik.

Manusia memiliki kebahagiaan taraf tertingginya masing-masing. Namun permasalahannya, apakah setiap orang sempat memikirkan konsep kebahagiaan yang ia miliki secara lebih mendalam? Apakah konsep kebahagiaan yang ia pegang, sudah sungguh-sungguh membawanya pada kebahagiaan?