5 bulan lalu · 180 view · 3 min baca · Pendidikan 72153_49460.jpg
NYo Photo

Media Online Bangkitkan Literasi Siswa

Hampir semua orang skeptis dengan perkembangan teknologi dan informasi. Tak jarang ini diduga menjadi sebab keengganan siswa untuk membaca dan menulis. Padahal kehadiran gawai sebagai penanda berkembangnya teknologi dan informasi tidak sepenuhnya menjadi penyebab rendahnya literasi di Indonesia. 

Menurut UNESCO pada tahun 2016, setidaknya 750 juta orang dewasa dan 264 juta anak putus sekolah minim kemampuan literasi dasar. Menanggapi itu, tahun 2017 menjadi tantangan sekaligus kesempatan bagi UNESCO bekerja sama dengan pemerintah, organisasi multilateral dan bilateral, NGO, swasta, praktisi pendidikan, dan akademisi untuk mempromosikan literasi di era digital yang sudah melekat di kehidupan masyarakat. 

Di era gawai, siswa lebih akrab dengan gadget dari pada buku. Bermacam media sosial dan berbagai games dikemas begitu menarik. Hal ini sebenarnya menjadi peran guru bagaimana merebut kembali ketertarikan siswa untuk membaca dan menulis. Kehadiran gawai dan dalih era digital hanya kambing hitam. Padahal masalah terbesarnya adalah kehilangan teladan dan minimnya motivasi.

Fenomena guru meletakkan 'hafalan' sebagai tingkatan tertinggi dalam pembelajaran. Padahal tanpa disadari, yang kita lakukan justru mencipta siswa menjadi mesin fotokopi yang siap menyalin apa yang terdapat pada buku ke dalam otaknya. Tidak ada proses berpikir dan kreativitas berkarya di dalamnya.

Beberapa dari kita pun mungkin beranggapan bahwa belajar adalah menghafal sejumlah materi. Padahal, dalam taksonomi Bloom, menghafal adalah tingkatan tujuan pembelajaran paling rendah. Sehingga sedikit sekali karya siswa yang bisa kita saksikan.

Berbagai cara mungkin telah kita lakukan untuk memberikan motivasi. Kita bisa saja menyajikan kisah Bung Karno (Sukarno) yang ditahan di penjara Sukamiskin Bandung dalam waktu relatif lama. Dalam kondisi tertekan, Sang Proklamator menulis sebuah buku yang fenomenal dengan judul "Di Bawah Bendera Revolusi".


Bung Hatta (Mohammad Hatta) ditahan penjajah Belanda dalam waktu yang juga relatif lama di penjara Boven Digul Irian (sekarang Papua). Ia pun menulis sebuah buku yang fenomenal dengan judul "Mendayung Antara Dua Karang". Buku tersebut kemudian menjadi "basic" untuk pelaksanaan politik luar negeri Indonesia yang bebas-aktif.

Selain itu, kisah Tan Malaka yang menulis catatan hidupnya ketika di penjara pada masa kekuasaan Soekarno. Buku tersebut diberi judul “Dari Penjara ke Penjara.” Ia kerap mengkritik pemerintah kolonial Belanda maupun pemerintah Republik Indonesia yang waktu itu ada di bawah kekuasaan Soekarno.

Tulisan yang tercipta dalam penjara dengan kondisi penuh keterbatasan justru memberikan inspirasi, motivasi, dan harapan bagi banyak orang, khususnya generasi muda di negeri ini. Tapi bagaimana dengan siswa kita?

Tampaknya generasi di era gawai lebih menginginkan role model alias contoh nyata. Menjadi senjata makan tuan bila guru hanya bisa bersembunyi di balik kutipan Imam Ghazali: "Kalau kamu bukan anak raja dan bukan anak ulama besar, maka menulislah.” 

Sedangkan bila ditanya tulisan yang pernah diterbitkan, tidak banyak guru yang mampu memperlihatkan tulisan ilmiah populer selain dari tugas akhir di masa kuliahnya. Ironis.

Siswa hanya perlu diberi contoh. Tidak melulu mereka ditugaskan namun tak pernah menyaksikan gurunya melakukan itu. Mereka akan termotivasi bila kita mampu menghadirkan alasan logis dan bukti kenapa harus membaca dan menulis.


Menanggapi perkembangan zaman memasuki Revolusi Industri 4.0 yang bertumpu pada cyber physical system seharusnya menjadikan para pelaku pendidikan untuk menyesuaikan diri. Media online dapat menjadi alternatif sebagai media writing learning. 

Mengajar di kelas Bahasa dengan materi berbasis teks memicu saya untuk berpikir cara praktis untuk memotivasi siswa membaca dan menulis. Pembelajaran berbasis teks berkeyakinan bahwa we don’t just write, we write something to achieve some purpose (Hyland, 2003). 

Seiring dengan inisiatif merawat dan mengembangkan tradisi literasi di Indonesia, saya pikir perlu wadah untuk siswa menyalurkan ide. 

Qureta sebagai salah satu media online memberi ruang bagi siswa untuk belajar dan mengasah kemampuan menyiarkan ide dalam tulisan. Betapa bahagia siswa ketika tulisannya berhasil terbit di Qureta. 

Siswa SMP Islam Al-Azhar Cairo Palembang tengah menunjukkan tulisan mereka yang terbit di Qureta.

Menumbuhkembangkan karakter dan budaya literasi sepatutnya menjadi tugas kita bersama. Pemikir Islam terkemuka Imam Ghazali menyatakan, "Manakala yang dicita-citakan itu baik serta mulia, maka pasti akan sulit ditempuh serta panjang jalannya."

Bahkan nasihatnya yang harus kita ingat, “Tidak akan sampai ke puncak kejayaan kecuali dengan kerja keras, dan tidak akan sampai ke puncak keagungan kecuali dengan sopan santun.”


Tidak mudah memang. Perlu ketekunan dan kerja keras agar kita pandai menulis. Menulis akan memaksa kita untuk membaca, menemukan data yang diperlukan dan membuat tulisan tampak bernyawa. 

Karenanya perlu, disadari bahwa menulis adalah ibadah dan menuangkan ide dan pikiran melalui tulisan adalah syiar yang bernilai sedekah.

Teruslah menulis, Nak!

Artikel Terkait