Researcher
3 tahun lalu · 4027 view · 3 min baca · Media fakta_atau_mitos.png
rumahoscar.com

Media Islam Antara Fakta dan Iman

“Umat Islam kehilangan wibawanya. Bukan karena adanya pendiskreditan dari media yang menciderai umat Islam, bukan pula karena adanya distorsi atau yang dinamakan sebagai konspirasi, tetapi karena umat itulah (dalam kasus media) yang menciderai dirinya sendiri dengan hal yang (mungkin) tidak ia sadari.”

Saya gerah! Gerah dengan media-media Islam yang tidak juga membenahi dirinya sendiri. Saya telah mengkritisi berkali-kali media Islam online yang asal menulis berita, tanpa berupaya untuk mengkritisi lebih dulu apakah data yang diterimanya benar atau tidak.

Dua contoh kekeliruan (yang terus menerus saya dapati dalam pemberitaan di media Islam online): Pertama, salah satu akun Line yang mengambil nama “dakwah” memberitakan bahwa anak-anak Palestina yang berusia dibawah 15 tahun ditangkap dan disiksa di penjara-penjara Israel.

Akan tetapi anehnya, empat nama penjara yang dituliskan pada bagian tengah tulisan, berbeda dengan empat nama penjara yang ditulis di bagian akhir. Setelah saya kroscek, ternyata berita itu dishare juga oleh media Islam online lainnya dengan kata-kata yang PLEK sama dari awal hingga akhir kalimat.

Contoh kedua, sebuah media online memuat berita yang ironisnya ditulis oleh seorang master agama lulusan Mesir. Artikel yang terkesan akademis itu menulis tentang gerakan pembebasan Palestina, tetapi datanya tak sesuai dengan pengetahuan mengenai sejarah pembebasan Palestina yang telah saya pelajari dari berbagai literatur.

Banyak miss yang dipolitisasi sebagai "kebangkitan gerakan jihad" di Palestina. Seperti media Islam “soso” pada umumnya yang menggunakan masalah Palestina sebagai isu untuk menyatukan solidaritas umat, sekaligus, sorry to say, mendorong umat untuk “menyadari” musuh bersamanya, yaitu Israel dan Zionis. Pemilihan kata-kata yang digunakan pun jelas mendiskreditkan Israel, terlepas dari apakah berita itu benar atau merupakan berita mitos yang sambung-menyambung diantara media Islam sejenis.

Saya salut dengan media yang tegas dan berani menyuarakan pemikiran dan sikapnya. Saya pun tau apa yang terjadi di Palestina adalah krisis kemanusiaan besar. Joe Sacco, dalam buku hasil reportasinya di Gaza berjudul "Catatan Kaki dari Gaza" (2000) menuliskan bahwa apa yang terjadi di sana lebih mengerikan dari yang media beritakan. 

Akan tetapi, bagaimana jadinya jika pers tersebut tidak kritis, mengabarkan berita yang tidak kredibel dan tidak menyertakan referensi, menyuarakan kebencian, serta menggiring opini umat kepada pemahaman musuh bersama?

Apa jadinya media Islam, jika kondisinya adalah, “gak masalah bener atau enggak, yang penting umat sadar musuhnya adalah si anu, si anu, dan si anu”, atau “gak penting beritanya shahih atau enggak, yang penting umat bersatu dalam solidaritas Islam”. Jangan sampai kecintaan Anda terhadap agama dan Tuhan, membuat Anda membenarkan apa yang salah, dan menjelaskan apa yang kabur.

Saya pernah meneliti krisis dunia Islam pada dekade 1990an. Saya tahu betul permasalahan-permasalah di dunia Islam pada periode tersebut, mulai dari masalah Afghanistan, Kashmir, Moro, Rohingya, Palestina, Aljazair, Mesir, hingga Bosnia.

Saya juga pernah meneliti salah satu media pers Islam underground pada masa Orde Baru. Mengenai yang terakhir saya sebutkan, ternyata mayoritas media Islam kekinian, khususnya online, memiliki karakteristik yang sama dengan media Islam underground garis keras masa Orde Baru, yaitu pemilihan kata dan gaya bahasa yang keras, jelas mendiskreditkan pihak lain yang mereka anggap menciderai kepentingan Islam, dan tidak kritis terhadap data yang mereka dapatkan.

Bagi saya, citra media Islam yang seperti itu jelas melukai wibawa umat. Ironisnya, banyak sekali yang menikmati dan akhirnya terprovokasi oleh media Islam seperti itu. Barangkali bahan bacaannya yang kurang sehingga tak memiliki informasi yang jelas terhadap akar peristiwa atau suatu fenomena, atau karena watak penganut Islam trasidional “yang penting gua membela agama dan saudara seiman gua”. Mereka mudah sekali tersulut oleh suatu konflik yang belum jelas kebenarannya, dan sangat disayangkan, media Islamlah yang menyulut kemarahan umat.

Keadaan media Islam yang sedemikian kurang profesional dan bijaknya itulah, yang dalam hemat saya, merupakan jawaban atas pertanyaan “mengapa pers Islam sejak masa Orde Baru, tidak pernah menjadi pers utama, padahal umat Islam di Indonesia adalah mayoritas?”.

Umat Islam sebagai bagian dari rakyat Indonesia, sekaligus memiliki identitas internasional yang diakui oleh masyarakat dunia, berhak menuliskan kisah dari sudut pandangnya sendiri. Akan tetapi, tulislah kisah yang direkonstruksi dari data yang shahih, fakta yang terbukti kebenarannya, dan ditulis dengan seobjektif mungkin. Umat membutuhkan berita yang kredibel, bukan berita mitos!

Umat membutuhkan berita yang mengabarkan apa apadanya peristiwa, bukan peristiwa yang dikondisikan sesuai kepentingan kalangan Islam atau ideologi kelompok ABCD.  Marilah membentuk media Islam yang profesional, kredibel, mengedukasi umat dan rakyat pada umumnya, membuka wawasan, dan sekali lagi, mengaplikasikan Islam yang “rahmatan lil ‘alamin”.

Artikel Terkait