Penikmat Kopi Senja
1 tahun lalu · 150 view · 6 menit baca · Media 26497_31004.jpg
romeltea.com

Media; Edukator atau Provokator

Bahasa Media dan Ujaran Kebencian

Kita patut bersyukur dengan transparansi dan kebebasan disegala lini hari ini. Transparansi menjadikan kita lebih mudah mendapatkan informasi apapun dan kebebasan memberi kita akses untuk memberi kritik serta saran atas informasi yang ada.

Kini mendapatkan informasi semudah mendapatkan warung kopi di Aceh. Kemajuan tekhnologi diikuti dengan menjamurnya media online, baik lokal maupun nasional telah memanjakan kita. Mendirikan media online memang sangat mudah dan bisa dilakukan kapanpun.

Satu hal yang patut disyukuri pula dengan banyaknya media online kita memiliki banyak pilihan. Namun banyaknya pilihan ternyata tidak menambah kecerdasan kita sebagai pembaca. Mengapa?

Persoalan kemudian muncul dengan menjamurnya media online, informasi yang disampaikan ternyata tidak semuanya mengalami proses validitas. Akibat dari kelalaian tersebut pembaca bisa tersesat, bisa saling membenci bahkan saling bunuh.

Entah kelalaian atau kesengajaan, informasi yang tidak benar berdampak luas dan sistemik. Para pembaca media online yang tidak selektif dengan mudah terpengaruh. Bayangkan saja bila informasi sesat tersebut terkait dengan seseorang atau sekelompok orang yang kemudian memunculkan kebencian dari pembaca terhadap mereka.

Bayangkan bila yang menjadi korban kesalahan media adalah kelompok, suku dan agama minoritas. Konflik pun bisa muncul, kalaupun tak sampai pertumpahan darah namun persatuan dan kesatuan Indonesia sebagaimana amanat sila ke-3 Pancasila akan retak. Sebuah bangunan yang rentan runtuh karena retak tak akan nyaman untuk dihuni. 

Bila bangsa ini terpecah belah, saling benci hanya karena bacaan yang tak terdidik maka masa depan bangsa ini seperti sudah berakhir sebelum waktunya. Apalagi bila ujaran kebencian melalui media dibiayai orang-orang yang ingin riwayat bangsa ini segera berakhir.

Media massa yang harusnya dapat mendidik pembaca, pendengar dan penonton malah menjadi sarana provokasi dan hasutan. Hal itu diperparah lagi bila media massa dimiliki politisi maupun dibiayai politis untuk menghabisi lawan-lawan politiknya.

Rasa kebencian yang muncul semakin menguat ketika tokoh-tokoh berbicara dengan nada hasutan. Asal tidak seragam berarti musuh, setiap musuh harus dimusnahkan, demikian narasi singkatnya.

Maka jangan heran bila kelompok yang mengandalkan otot ketimbang otak mudah muncul di Indonesia. Negara dengan tingkat kemakmuran yang rendah akan dengan mudah diprovokasi, dan media punya peran strategis disitu.

Kenyataan itu harus kita terima, media yang harusnya menjadi edukator malah menjadi provokator. Namun demikian kita harus sama-sama berusaha mengembalikan khittah media. Memberi informasi aktual, jujur, independen dan menyejukkan kehidupan berbangsa.

Ada 3 pendekatan yang bisa dilakukan agar media kita tidak menyebar hoaxs, ujaran kebencian, maupun informasi yang merugikan kita semua termasuk media. 

1. Pendekatan kultural

2. Pendekatan struktural

3. Pendekatan tekhnis.

Pendekatan kultural, dalam hal ini perlu kecerdasan pembaca dalam memilih dan memilah konten berita dari sebuah media. Tokoh adat maupun agama harus lebih proaktif mencegah ujaran kebencian dikonsumsi masyarakat, mereka harus rajin menulis dimedia terkait pentingnya menjaga harmonisasi.

Kita ketahui bersama ujaran kebencian terbanyak berkaitan dengan SARA. Karenanya peran tokoh adat dan agama menjadi penting guna mencegah benturan sesama anak bangsa yang diakibatkan ujaran kebencian dimedia.

Tokoh adat dan agama harus memberi teladan keharmonisan bukan malah menjadi provokator. Belakangan ini kita saksikan oknum pemuka agama malah menjadi provokator yang disambut media dan disebarkan.

Tindakan yang bukan hanya merugikan satu pihak akan tetapi secara langsung mengancam integrasi bangsa. Kerukunan antar umat beragama yang menjadi modal bangsa Indonesia malah dirusak oleh mereka yang merasa sangat benar.

Ujaran kebencian juga menyentuh ranah se-agama, perbedaan fiqih dan pemahaman hukum agama dijadikan dalil menghalalkan darah seseorang atau kelompok orang. Apa yang terjadi pada penganut Ahmadiyah menjadi contoh nyata bagaimana hal itu terjadi di negara yang berazaskan Pancasila.

Kiranya para pemuka agama dan adat harus memberi keteladan sebagai negarawan agar dicontoh masyarakat secara umum. Sikap menerima perbedaan dan menjauhi intoleransi.

Sikap negarawan bukan milik elit, setiap warga negara hendaknya memanfaatkan haknya untuk menjadi negarawan. Hal itu sesuai dengan cita-cita didirikannya negara ini, dan dalam Islam maupun agama lain, perbedaan harus menjadi kekuatan bukan perpecahan.

Kebencian akan menghalangi kita berbuat adil dan berkata yang benar (QS.05:08). Padahal kita bukanlah makhluk paling suci, kita boleh benci prilaku korupsi namun jangan benci pelakunya, sikap negarawan juga berarti mendahulukan kepentingan umum dibanding kepentingan kelompok maupun pribadi.

Pendekatan struktural, dalam hal ini pemerintah dan lembaga yang menaungi media punya peran strategis. Pemerintah dapat membuat regulasi yang mengatur media atau mencegah media menyebarkan ujaran kebencian. 

Sementara itu, lembaga yang menaungi dunia jurnalistik dapat memberi sanksi tegas maupun melakukan musyawarah bersama insan pers terkait penyebaran ujaran kebencian yang dilakukan media.

Pendekatan tekhnis, dalam hal ini media dituntut punya kemampuan mandiri. Umumnya persoalan utama media ialah keuangan, selain biaya operasional, media kesulitan menggaji karyawan maupun jurnalis jika hanya mengandalkan rating. 

Persoalan keuangan pula yang mengharuskan media sulit menyajikan berita apa adanya. Situasi itu kemudian dimanfaatkan orang-orang berduit untuk mengarahkan media sesuai keinginannya. Saat itulah idealisme media diperjual belikan.

Dampaknya berita bohong, hasutan, hingga ujaran kebencian mudah kita dapati dimedia kita. Kebohongan dan ujaran kebencian seolah barang dagangan yang laris manis.

Kemampuan media memperoleh uang dengan benar sehingga tidak dijadikan 'boneka' sangatlah penting. Media-media online yang hanya mengandalkan Google Adsense tidaklah mampu menggaji jurnalisnya sehingga butuh dana sampingan.

Bila musim pilkada datang, biasanya media tadi mencari dana dengan mendukung salah satu calon. Kontennya pun bisa ditebak, memuji yang satu dan menghardik lainnya.

Itu sebabnya kemampuan tekhnis jurnalis atau pemilik media bukan hanya dibidang jurnalistik. Mereka harus memiliki kemampuan mencari sumber dana yang halal agar dapat menjaga independensi.

Bukan hanya media, para pembaca media juga harus memiliki kemampuan tekhnis dalam memilih dan memilah sebuah informasi yang disajikan. Layaknya makan, harus dipilih makanan bergizi bukan hanya enak. 

Bila makanan sehat dan bergizi, tubuh akan ikut sehat dan sebaliknya bila makanan tidak sehat atau tidak bergizi, akan mengundang berbagai macam penyakit. Demikian pula dengan otak kita bila mengkonsumsi ujaran kebencian.

Rasa amarah cepat muncul, kita seolah diajak menjadi manusia paling benar dan orang lain paling salah. Demikian kira-kira belakangan ini ujaran kebencian yang disajikan media walaupun tak semua media begitu.

Pendidikan kita juga gagal melahirkan pembaca yang cerdas, pendidikan kita hanya menciptakan pembaca yang mudah diracuni pemikiran-pemikiran bernada hasutan dan kebencian.

Parahnya lagi pembaca yang tak cerdas malah jahil membagikan ujaran kebencian melalui akun sosmed. Bayangkan saja ketika hasutan dibaca banyak orang dan dipercaya sebagai satu-satunya kebenaran, tentu dampaknya negatif.

Sepanjang tahun 2017 bangsa ini banyak disuguhi ujaran kebencian, kita berharap media dapat menjadi salah satu aktor dalam pencegahan menyebarnya ujaran kebencian.

Media dapat menjadi pendidik bagi pembacanya dengan informasi yang diberikan. Apalagi saat ini ujaran kebencian bukan hanya tertuju pada suku, agama dan ras yang berbeda, perbedaan pandangan politik pun ikut menjadikan manusia Indonesia senang melakukan ujaran kebencian.

Ujaran kebencian didalam politik menunjukkan masih belianya demokrasi kita. Demokrasi kita belum mampu melihat subtansi persoalan dan lebih fokus pada titik lemah yang tidak terkait subtansi persoalan.

Akibatnya ujaran kebencian kini menyentuh institusi padahal pelakunya orang per orang. Masyarakat benci DPR padahal pelakunya anggota DPR, ada yang benci Presiden, parpol, dan lembaga-lembaga lainnya.

KPK sebagai salah satu lembaga anti korupsi sekalipun tidak luput dari ujaran kebencian. Bahkan wacana pembubaran KPK sempat meluas, karena KPK dianggap tebang pilih dan keganjilan lainnya padahal secara institusi dan komisionernya itu beda.

Ada pula kebencian pada polri sebagai institusi yang berakibat kebencian pada polisi secara umum tak terhindari. Ujaran kebencian memang menciptakan generalisasi kebencian apalagi para pembaca tidak melakukan riset atas informasi yang didapati.

Jika kita melihat lebih luas lagi, kebencian pada Islam diluar sana merupakan manifestasi ujaran kebencian yang dilakukan media. Islam is terorist, merupakan buah dari berita-berita yang disajikan media-media diluar sana. 

Barangkali Donald Trumph merupakan contoh nyata dari seringnya mengkonsumsi ujaran kebencian, akibatnya dia ikut menebarkan benih-benih kebencian. Bila seorang Donald bisa terpengaruh, konon lagi masyarakat awam kita.

Pendekatan kultural, struktural, dan tekhnis harus segera dilakukan. Media sudah saatnya berbenah diri menjadi edukator sejati, ikut mencerdaskan kehidupan bangsa, menjadi referensi bagi pembaca, penonton dan pendengarnya.

Media dapat menjadi pemecah belah bangsa ini namun bila mereka tetap pada khittahnya, media dapat menjadi pemersatu bangsa ini. Lebih dari itu media dapat menjadi oase ditengah semakin hausnya masyarakat akan informasi yang benar.

Media sejenis qureta.com, kompasiana.com, dimana warga net dapat menuliskan apapun merupakan salah satu solusi. Kita berharap para tokoh adat, budaya, agama, politisi, dapat lebih sering menulis dimedia ketimbang pernyataan mereka dikutip media.

Media terkadang senang memenggal pernyataan demi pembaca tertarik, walaupun bila diteliti lebih jauh pernyataan tersebut tidak setendensius yang dikutip media. Saat itulah media kembali menjadi provakator bukan edukator. Kini pertanyaan mendasar, siap kah media melepas jubah provokator dan memakai baju edukator demi bangsa dan negara?