Sudah beberapa minggu terakhir ini, saya pribadi heran dengan berita yang disuguhkan media-media Indonesia. Keheranan tersebut terjadi karena, selama dua minggu terakhir ini, media hanya menginformasikan berita yang itu-itu saja. Beritanya tidak berkembang serta monoton, membuat bosan para pembaca.

Salah satunya ialah berita kematian Wayan Mirna Salihah setelah meminum kopi khas Vietnam di Restoran Olivier West Mall, Grand Indonesia. Kopi yang dikonsumsi Mirna diduga sudah bercampur dengan racun sianida, yang memiliki zat yang bersifat perusak, hingga bisa membunuh 20 orang yang meminumnya.

Dari perkembangan kasus tersebut hingga kini, hanya Jesicca yang dituduh sebagai pelaku utama karena beberapa bukti menyudutkan dirinya untuk menjadi tersangka. Bukti-bukti tersebut ialah kedatangan Jessica 40 menit lebih awal, serta yang memesan tempat beserta minuman dan juga Jessica yang menata minuman tersebut di meja.

Selain itu, isu yang berkembang di media menyatakan Jessica seorang LGTB. Ada kisah asmara di balik kematian Mirna dan yang paling mengherankan, polisi sampai detik ini belum menemukan celana jeans milik Jessica. Diduga dalam celana tersebut Jesicca menyimpan racun sianida tersebut.

Entah ke mana celana itu dibuang oleh sang pembantu yang hingga kini ikut terlibat dalam kasus kematian Mirna. Namun, setelah beberapa fakta yang berkembang, ada pula yang menyangkal bahwa Jessica Kumawa Wongso bukan pelaku pembunuhan Mirna. Hal itu disampaikan oleh Reza Indragiri Amriel sebagai Master Psikologi Florensik pertama di Indonesia.

Saya melihat adanya kesengajaan Polisi memperlambat untuk menyelesaikan kasus pembunuhan Mirna. Sebab, jika Polisi sedang berhati-hati dalam menetapkan tersangka pembunuhan tersebut, polisi sudah jauh-jauh hari membuka wacana, bahwa pelaku dari kematian Mirna tidak mungkin orang yang jauh dari TKP, ditambah polisi sudah mengumpulkan beberapa bukti yang menyudutkan Jessica sebagai tersangka.

Pernyataan yang mengherankan dari Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya, Kombes Krishna Murti. "Sejauh ini sudah banyak alat bukti dan keterangan yang dia miliki. Hanya saja, untuk saat ini dia belum bisa menyampaikan pada publik apa saja hasil pemeriksaan tersebut, terutama yang sifatnya subtansial," ujarnya di Polda Metro Jaya, Jakarta Selatan, Jumat (22/1).

Saya kira pernyataan dari Kombes Krishna Murti dalam hal ini memiliki kejangalan. Sebab, selama ini kita ketahui, Polisi yang dibantu oleh media selalu menyampaikan informasi terkait perkembangan kasus pembunuhan Mirna kepada publik. Kalau tidak disampaikan Polisi, bagaimana mungkin dua minggu terakhir ini media menginformasikan hal tersebut.

Pandangan Masyarakat Hari Ini. Mayoritas masyarakat tidak tetarik lagi berbicara soal isu Mirna karena sudah berlarut-larut, bahkan beberapa kritik sudah dilontarkan kepada pihak kepolisian yang dianggap lamban dalam kasus tersebut.

Selain itu, mayoritas rakyat juga tidak tertarik berbicara soal isu teroris, sebab sudah ada TNI dan Polri yang dipercaya serta digaji untuk menjaga keamanan. Masyarakat menilai bahwa isu-isu yang bermunculan belakang ini, tidak lebih hanya sekadar pengalihan isu dari kegaduhan dan kegagalan pemerintahan era Jokowi.

Harapan rakyat, media bukan saja menyoroti isu-isu murahan tapi lebih mengedepankan kebijakan pemerintah dalam persoalan Freeport, pembangunan prasarana dan infrastruktur dan kemiskinan yang kian tahun makin bertambah di Indonesia. Selain itu, kesiapan SDM Indonesia menghadapi MEA.

Lebih lagi, media bisa menciptakan isu untuk menuntut dan mendesak agar KPK segara membongkar kejahatan perampokan uang negara dalam skandal BLBI, CENTURY yang memakan banyak uang negara serta korupsi APBD di Indonesia dan lain-lain, bukan menutupi semuanya dan menciptakan isu baru.