Siapa yang masih suka emosi sama konten link berita yang di-share di Timeline, terus misuh-misuh padahal baru baca judul beritanya doang? 

Kalo kamu masih punya kebiasaan buruk ini, kurang-kurangin deh. Nggak selamanya apa yang tertulis di media itu menggambarkan kebenaran yang bulat.

Media itu salah satu perusahaan yang bergerak di bidang publikasi. Orientasinya, tentu salah satu dari sekian banyak, pasti cuan. Berita yang naik, idealnya harus yang laku traffic.

Jumlah klik itu salah satu performa di bisnis media. Traffic itu penting karena cuan media salah satunya ya dari iklan, dong.

Ya, tanggung jawab media itu memang besar banget buat kesejahteraan informasi publik. Kita tahu kalo mereka bekerja keras pakai kode etik. Ethical conduct mereka bener-bener berat, juga mesti dieksekusi tanpa cela untuk menjaga reputasi dan kredibilitas di mata publik.

Mereka bukan penyebar hoaks yang tidak bertanggung jawab. Media dituntut untuk dan hanya untuk memberitakan kebenaran. Masalahnya adalah media juga butuh iklan untuk makan dan berkembang. 

Sedikit kreatif buat mancing pembaca nggak apa-apa dong?

Nah, di sini saya cuma mau guyon cara "nakal" teknik pengutipan dari sumber berita buat nyari klik dengan membuat judul tulisan yang kreatif. Judul berita yang jenaka itu laris! 

Nggak semua pelaku media nakal dalam mengejar traffic sih. Hanya saja, beberapa kali saya lihat di Timeline Twitter, banyak judul berita bombastis, tapi setelah baca, isinya beda sama judul.

Misleading banget deh, udah judulnya nyentil akal waras, eh isinya mengecewakan karena cuma click bait.

Berdasarkan pengamatan saya, makin judul berita membangkitkan emosi--itu laris. Entah emosi haru, lucu, simpati, jengkel, bahkan amarah! Publikasi yang rame itu konten viral yang pasti auto banjir komen, caci-maki, juga cecunguk buzzer yang membela junjungannya.

Ilustrasu Fiktif No. 1

Watawan bodrex XYZ: Bgmn bapak penanganan corona di Indo?

Menteri ABC: Corona di Indo sedang diatasi, gugas sudah dibentuk, APD akan sgera diproduksi, masyarakat mohon tenang, enjoy saja, patuhi protokol kesehatan.

#

#

Judul berita yang terbit:

"Corona di Indonesia Menggila, Menteri ABC: Enjoy Saja "

Komen netizen #1: Menteri asui, mundurlah!

Komen netizen #2: Ini semua salah Zukawi

Komen netizen #3: Baginda sudah bersabda

Ilustrasi Fiktif No. 2

Wartawan bodrex PQR: Ekonomi Indo berat ya pak?

Menteri Anu: Kita khawatir konsumsi melambat, PDB agregat menurun, ada potensi penurunan pendapatan negara, bantuan untuk masyarakat terdampak akan segera diformulasi.

$

$

Judul berita yang terbit:

"Waspada! Ekonomi RI Di Ambang Jurang Resesi "

Komen netizen #A: woi ekonomi ancur

Komen netizen #B: enak jaman orba toh, piye

Komen netizen #C: sudah kuduga ini rezim gagal paham

Ilusterasi Fiktif No. 3

Wartawan bodrex Anu: Kurikulum baru ada yang dihapus pak?

Menteri Ini: Sejarah direncanakan akan jadi mapel pilihan, masih dalam kajian

%

%

Judul berita yang terbit:

"Jasmerah! Menteri XYZ Mau Hapus Mapel Sejarah Di SMA ? "

Komen netizen A: Upaya penghapusan jati diri bangsa secara terstruktur, masif dan sistematis

Komen netizen B: Kita digiring cara pandang komunis kapitalis! Neo Nazi!

Komen netizen C: Kenapa bukan matematika aja sih yang dihapus?

Ilustrasu Fiktif No. 4

Wartawan bodrex FGH: obat tradisional Indonesia apa pak yang cocok untuk imunitas di tengah pandemi covid 1945?

Kepala Badan Luar Angkasa: Susu Kuda Liur dari Benua Jawa Selatan katanya bagus untuk stamina

Judul berita yang terbit:

"Badan Antariksa: Susu Kuda Liur Bagus Untuk Covid "

&

&

Komen netizen X: Sekalian aja susu kadal Madagaskar

Komen netizen Y: Saran paduka begitu luhur dan adiluhung, patut untuk dihujat!

Komen netizen Z: Rezim kodok merah memang aduhai

Image credit: Google.com

Bagaimana?

Jurnalis itu bekerja dengan fakta dan data yang didapat dari mulut orang lain.

Nggak jarang ada juga sumber berita penting yang tidak mau memberi informasi (orang berhak menolak permohonan wawancara dari jurnalis/ media). Terlebih buat berita-berita yang konfliktual, kasus hukum yang sarat akan kepentingan. 

Wartawan bekerja dan menghasilkan berita dengan mengejar sumber-sumber berita untuk dapat informasi yang akurat dan relevan. Jurnalis menulis dengan meminjam fakta dari sumber yang kredibel. Bisa rilis kepolisian, hasil penyidikan, dokumen atau foto, putusan pengadilan, saksi mata, wawancara dengan pelaku atau korban.

Sementara itu?

Sumber berita bisa saja berbohong, punya banyak kepentingan sampai bekelit dan memutar fakta ketika diwawancarai jurnalis.

Validasi informasi sumber berita memang jadi kredo utama dalam kerja jurnalis, TAPI perlu diingat bahwa mereka bukan pencipta fakta. Jurnalis mesti membuang opini pribadi dalam tiap karyanya.

Dari situ kelihatan kan' kalau publikasi media, memang bukan karya ilmiah dan bukan ditujukan juga untuk jadi karya ilmiah.

Meski produk jurnalistik mendasarkan pada fakta atau sumber-sumber ilmiah, itu semata-mata ditujukan untuk menyampaikan kebenaran fungsional bagi kepentingan publik, bukan untuk pembuktian saintifik.

Berita tetaplah berita, dengan segala kelebihan dan kekurangan muatan nilai-nilai jurnalistiknya.

Kita mesti kritis dalam membaca berita, jangan sampai memandang bahwa kebenaran yang disampaikan oleh media itu telah mencapai 100% valid. Termasuk tulisan saya ini, 1000% nyaris hoaks.

Cukup taruh saja kepercayaan Anda pada media kura-kura sekitar 70%. 

Angka itu sudah cukup, sampai media secara utuh melaporkan berbagai lapisan demi lapisan jenis kebenaran fungsional ala Bill Kovach, yang hanya bisa sempurna dicapai seiring waktu dan proses dialektis fakta-fakta untuk kemudian berkembang menjadi mapan sebagai kebenaran utuh. 

Skeptis itu penting untuk menjaga akal sehat.

Skeptis bukan berarti melakukan penyangkalan atas apapun. Skeptis di sini saya maksudkan lebih pada mengambil jarak untuk membiarkan akal kita bekerja mengolah informasi yang kita terima dari berbagai sudut pandang yang lebih beragam, relevan dan masuk akal.

Bahkan, karya ilmiah yang ditujukan untuk jadi publikasi ilmiah dimana segala informasi dihasilkan melalui serangkaian metode ilmiah dan pengujian yang ketat serta baku, mesti terbuka dengan peluang kekeliruan (fallacy) kesimpulan atau penafsiran, seperti gagasan falsifikasi Karl Popper.

Nilai kebenaran dalam jurnalistik (sekalipun hard-news) sifatnya itu berlapis. Kebenaran berita muncul perlahan, seperti tetesan air stalagmit. Kebenaran yang lebih baru akan melengkapi kebenaran yang lebih lama.

Nilai kebenaran berita terikat oleh ruang dan waktu tertentu. Kebenaran berita kemarin, bisa saja mendapat koreksi sekarang.

Kebenaran hari ini bisa saja besok mendapat penyangkalan. Kebenaran tahun lalu, bisa saja barusan mendapat update atau pelengkapan, atau justru mendapat penolakan karena ada fakta baru!

Diskursus kebenaran dari produk jurnalistik pun tidak lepas dari proses dialektika di ruang publik. 

Media hidup di masa depan agar bisa bernafas menghasilkan publikasi yang aktual. Media hidup dalam waktu yang lebih cepat dari saya, anda, juga publik. Itu bukan kerja yang mudah.

Meski kadang saya sebel banget baca berita dengan judul yang aneh tapi setelah dibaca, isinya "kena tanggung", sebetulnya itu tetap ada faedahnya. 

Pertama, nonton orang ribut kalo lagi makan-gaji-buta itu asyik juga.

Nggak percaya? Cobain deh tontonin yang lagi tren di Twitter. Kalo nggak ketawa lihat komentar jenius, paling sakit kepala baca opini buzzer. Judul-judul berita yang "aneh-aneh" dan memicu baku hantam antar-netizen biasanya viral. 

Kedua, kalo udah viral di medsos dan jadi trending topic harapan saya sih semoga--kalau kasusnya berkaitan dengan kebijakan publik--pemerintah yang bersangkutan tersinggung.

Kalau tersinggung, baiknya melakukan perbaikan kinerja dan kebijakan, kan? masak mau pakai UU SAKTI ITE-HE, hehehe.

Disindir orang banyak kan nggak' enak. Itu pun juga kalo yang disindir peka. Stakeholder yang disentil di ruang publik jangan nunggu di-bully netizen dulu deh baru mau berbenah. Malu!

Disclaimer*

Ilustrasi, percakapan dan bahan di atas hanya fiksi usil semata. Apabila ada kesamaan nama, tempat, dan tokoh, itu hanya kebetulan jagat luhur yang tidak disengaja asal-usulnya, baginda.

Merdeka, salam lestari!