39915_94010.jpg
https://pixabay.com
Pendidikan · 4 menit baca

Meaningful Warmer
Kegiatan Pra Pembelajaran

Tugas dan tanggung jawab guru selain mengajar dan mendidik adalah melihat kemajuan anak-anak dalam proses pembelajaran. Seberapa jauh .anak-anak memahami materi pembelajaran, bisa kita lihat dari kemampuan mereka dalam memecahkan masalah yang dihadapi. Kegiatan yang bertujuan untuk melihat tingkat pemahaman anak-anak sudah melekat dan tidak bisa terpisahkan dari proses belajar.

Proses belajar dimulai dari anak, dari batas pengetahuannya terhadap suatu topik dan keingintahuan yang kemudian membawa anak kepada tingkat pemahaman yang lebih tinggi [1]. Oleh sebab itu, guru perlu memastikan pemahaman dan pengetahuan masing-masing anak sudah sampai pada tingkat mana, dan apakah anak didik bisa memiliki keterampilan tertentu.

Dengan memahami tingkat pemahaman masing-masing anak didik, kita akan lebih mudah dalam mengetahui kebutuhan masing-masing anak dalam mendapatkan pengetahuan, pemahaman dan keterampilan baru. Sehingga kita akan lebih mudah dalam mengaplikasikan strategi diferensiasi di kelas.

Strategi diferensiasi sendiri adalah modifikasi proses, mendesain berbagai aktivitas untuk membantu pelajar memahami materi dan memodifikasi produk, serta memberikan kesempatan bagi pelajar menunjukkan apa yang mereka pahami atau hasil belajar lewat berbagai bentuk.[2]

Banyak cara yang bisa dilakukan untuk mengetahui pemahaman materi pada pertemuan sebelumnya, salah satunya adalah dengan melakukan warmer. Tujuan dari warmer adalah agar anak mengeluarkan kembali memori-memori pembelajaran sebelumnya [3].

Memori pembelajaran yang dimiliki oleh anak merupakan pengalaman belajar yang sangat bermanfaat bagi anak sebagai bekal untuk meneruskan materi selanjutnya. Menurut Munif Chatib, warmer bisa dilakukan dengan dua jenis kegiatan, yaitu games pertanyaan dan penilaian diri.[4]

Games pertanyaan tidak hanya sebagai pembakar semangat bagi anak sebelum mengikuti pembelajaran, akan tetapi juga sebagai warmer atau pengingat materi yang sudah dipelajari oleh anak. Tetapi perlu diingat bahwa games pertanyaan ini bukanlah tes atau pre-test. Walapun bentuknya ada pertanyaan dan jawaban, tetapi jawaban yang diberikan oleh anak hanya sebagai jembatan untuk melanjutkan materi yang akan dipelajari.

Contoh games pertanyaan yang bisa dilakukan antara lain: pertanyaan berantai, mencocokkan pertanyaan dan jawaban, serta berbaur atau mingling/mingle. Dan berikut ini cerita pengalaman saya saat menerapkan salah satu games mencocokkan pertanyaan dan jawaban. Saat itu, kelas saya akan belajar bersama tentang Kelipatan Persekutuan Terkecil (KPK) dan Faktor Persekutan Terbesar (FPB). K

Kebetulan saat ini saya mengajar kelas IV dan dengan anak yang sama saat saya mengajar di kelas III tahun lalu. Sebenarnya materi yang akan kami pelajari bersama adalah materi yang sudah pernah kami pelajari saat di kelas III dulu. Oleh sebab itu, saya memilih warmer  dengan games pertanyaan mencocokkan pertanyaan dan jawaban. Prosedur kegiatan ini saya jelaskan di bawah ini.

Sebelum saya masuk ke kelas, terlebih dahulu saya membuat pertanyaan dan jawaban tentang KPK dan FPB. Dalam membuat pertanyaan, saya menggunakan kata-kata yang ringan dan tidak terlalu formal karena kegiatan ini bukan tes atau pre-test.

Pertanyaan dan jawaban tersebut ditulis di selembar kertas, atau biar lebih menarik saya biasa menulisnya di kertas lipat yang berwarna-warni. Dan jangan lupa  di lembar pertanyaannya diberi nomor agar mudah dalam proses pengerjaan.

Selanjutnya, lembar pertanyaan dan jawaban saya tempel di dua tempat yang berbeda. Biasanya saya menempel lembar pertanyaan di dinding kelas, sedangkan lembar jawabannya saya letakkan di depan kelas atau halaman sekolah. Saya buat ada jarak antara tempat meletakkan pertanyaan dan jawaban.

Ini saya lakukan agar dalam melakukan games pertanyaan anak bisa bergerak. Dan tentunya membuat lebih asyik permainannya. Kemudian, dalam melakukan permainan ini, saya membagi anak saya menjadi 6 kelompok, masing-masing kelompok ada 4 – 5 anak. Saya membagi kelompok menyesuaikan dengan jumlah anak dan jumlah pertanyaannya.

Setelah pembagian kelompok selesai, saya meminta anak untuk mengambil undian nomor soal yang dikerjakan. Setelah mendapatkan nomor soal, saya meminta anak untuk mengerjakan pertanyaannya sesuai dengan nomor undian.

Tidak lupa saya minta anak-anak untuk mengerjakan dengan prosesnya atau dengan cara yang sudah kami pelajari bersama di kelas III dulu. Saat anak mengerjakan, saya selalu berkeliling untuk memantau anak dalam menyelesaikan pertanyaan tersebut.

Setelah anak selesai mengerjakan pertanyaan, anak-anak saya minta untuk mengambil jawaban yang ada di luar kelas. Saya selalu mengusahakan membuat jumlah jawaban lebih banyak dari pada jumlah pertanyaannya. Ini bermaksud agar anak berpikir untuk mencocokkan jawabannya dengan jawaban yang sudah saya letakkan di luar kelas.

Setelah anak-anak menemukan jawaban yang cocok dengan pertanyaan yang mereka dapatkan, mereka saya minta untuk masuk ke kelas kembali. Saat di kelas saya ingin melihat reaksi mereka dengan mengajukan beberapa pertanyaan, seperti: “Bagaimana perasaan kalian dengan kegiatan tadi?”, “apakah ada yang merasa kesulitan dalam menemukan jawaban yang sesuai?”, dan banyak pertanyaan lainnya.

Setelah melihat reaksi mereka dengan pertanyaan yang saya ajukan, saya mengambil kesimpulan kalau hampir 90% dari anak-anak di kelas saya, masih ingat dengan materi KPK FPB yang sudah mereak pelajari di kelas III. Dan saya akan lebih memperdalam materi tersebut di pembelajaran yang akan kami lalui bersama.

Sekali lagi, saya tidak akan memberikan penilaian terhadap jawaban yang ditemukan oleh anak-anak. Dari jawaban yang anak-anak peroleh, saya hanya melihat kemampuan anak dalam memahami materi KPK FPB yang sudah mereka pelajari di kelas III dulu. Dengan kegiatan tersebut saya bisa mengetahui bekal anak untuk melanjutkan materi yang sebenarnya sudah mereka pelajari bersama.

Kegiatan semacam ini tidak hanya dilakukan untuk membuka memori jangka panjang anak tentang materi sebelumnya. Tetapi guru juga bisa melakukannya untuk mengecek pemahaman anak terhadap materi yang sedang dipelajari di hari sebelumnya. Dengan memahami tingkat pemahaman anak sebelum pembelajaran dimulai, kita akan lebih mudah dalam melanjutkan materi yang akan kita ajarkan.

[1] Najeela Shihab. 2015. Diferensiasi. Tangerang: Literati.

[2] Ibid

[3] Munif Chatib. 2014. Gurunya Manusia. Bandung: Kaifa

[4] Ibid