Saya rindu Indonesiaku yang dulu. Belakangan ini, saya merasa ada perubahan yang sangat besar terhadap negeriku ini, perubahan dalam tataran hidup negara yang majemuk. Dahulu saya diajarkan tentang Bineka Tunggal Ika saat duduk di bangku sekolah dasar, katanya Indonesia itu terdiri dari berbagai macam suku bangsa, tapi tetap satu, yaitu Indonesia. Saat ini saya merasa ada pihak-pihak yang ingin merusak hal tersebut dan dilakukan secara masif. Apa slogan Bineka Tunggal Ika tinggal kenangan?

Sejarah mencatat bahwa Indonesia adalah negara dengan tingkat kemajemukan tinggi. Sejak dahulu Indonesia sudah disinggahi pedagang atau saudagar dari segala penjuru dunia. Sebut saja Gujarat (India bagian barat), Persia, Arab, Mesir, Cina bahkan bangsa Eropa datang ke Indonesia untuk berdagang. Tidak heran jika Indonesia kemudian dikenal dengan keberagamannya.

Kerajaan-kerajaan Islam mulai berdiri sejak abad ke-13 di Nusantara. Samudra Pasai di Aceh adalah kerajaan Islam pertama yang berdiri dan sejak itu perkembangan Islam memang cukup pesat. Banyak bermunculan kerajaan-kerajaan Islam lainnya di Nusantara ini. Walaupun sejak saat itu agama Islam sudah menjadi agama mayoritas di Nusantara, tidak berarti agama lain tidak boleh hidup, justru saat itu Islam hidup berdampingan dengan agama-agama lain.

Selama ini bangsa Indonesia hidup berdampingan dalam perbedaan, baik perbedaan suku bangsa, maupun perbedaan keyakinan. Tidak ada masalah berarti tentang perbedaan atau keberagaman, sampai muncul kelompok-kelompok yang ingin mengganti dasar negara berdasarkan agama tertentu. Sejak saat itulah perubahan mulai terasa, isu keagamaan mulai dihembuskan dan itu benar-benar merusak tatanan hidup bernegara yang kita cintai bersama ini.

Kasus-kasus intoleransi dan kekerasan dengan mengatasnamakan agama sering kali terjadi. Dari hal-hal yang kecil, bahkan sampai kasus besar dengan latar intoleransi ini hampir setiap hari bisa dibaca di medsos. Ujaran kebencian menjadi lumrah didapati pada media-media kita.

 

Ucapan Selamat

Dahulu, hal sepele seperti ucapan tahun baru, ulang tahun, ucapan valentine, atau bahkan ucapan selamat Natal tak masalah diucapkan seseorang, tetapi sekarang, ada saja yang nyinyir mengatakan itu bukan budaya kita (baca: Islam). Kalau memang bukan budaya Islam, terus kenapa? Toh, di Indonesia tidak semuanya beragama Islam, ada berbagai macam agama di negara ini.

Apa benar umat Islam tidak boleh mengucapkan ucapan-ucapan seperti itu? kalau memang Anda meyakininya seperti itu, silakan diyakini, tetapi jangan paksakan apa yang Anda yakini tersebut kepada orang lain. Orang lain mungkin memiliki pendapat dan keyakinannya sendiri terhadap hal tersebut. Banyak juga, kok, ulama yang menyejukkan dan mengatakan tidak ada masalah dengan segala ucapan tersebut.

Saya lebih memilih mengucapkan ucapan selamat kepada saudara-saudara saya setanah air. Apa pun momennya, saya lebih memilih mengucapkan ucapan tersebut. Kalau dia merayakan ulang tahun, saya akan ucapkan selamat ulang tahun, Kalau dia merayakan Natal, maka saya akan ucapkan selamat Natal dan ucapan selamat lainnya. Saya lebih memilih menyenangkan hati saudara saya dengan mengucapkan apa pun yang sedang mereka rayakan.

Saya pernah bertanya kepada seorang teman yang meyakini bahwa mengucapkan hari besar agama lain itu salah. Saya tanyakan “Mengapa mengucapkan selamat Natal itu salah?” Saat itu dia menjawab bahwa jika kita mengucapkannya, maka itu akan mengganggu akidah agama. Jawaban yang persis sama dengan jawaban-jawaban para ulama dari kelompok itu. Saya katakan, sampai saat ini akidah saya baik-baik saja dan tidak bergeser sedikit pun, jadi jawaban seperti itu sama sekali tidak berdasar.

 

Mode Berpakaian

Saya merasakan, sepertinya ada kelompok tertentu yang ingin mengubah dasar negara (Pancasila dan UUD 1945) menjadi sesuai dengan agama tertentu. Kalau benar begitu, ini adalah lembaran kelam sejarah bangsa yang selayaknya diperangi bersama. Hal ini pun tentunya mencoreng perjuangan para pendiri bangsa yang berjuang dengan tetesan darah mereka.

Propaganda-propaganda banyak diteriakkan, doktrin-doktrin mengenai ajaran Islam yang 'benar' tak henti mereka suarakan, dan ini menyebalkan. Kenapa saya katakan menyebalkan? karena mereka memaksa. Biarkan orang memilih, jangan memaksa. Ingat, Indonesia bukan negara Islam, Indonesia adalah negara yang sangat majemuk, bahkan paling majemuk di seluruh dunia (Sumber: Detiknews, 01 Sep 2017). Itu adalah kekayaan bangsa kita.

Fenomena manusia berjubah/bergamis bermunculan. Bolehkah orang mengenakan jubah/gamis? tentu boleh, asalkan tidak memaksa. Sama seperti orang boleh memilih untuk mengenakan sarung, kebaya, celana, rok dan sebagainya. Jangan pernah katakan bahwa jika tidak sama dengan Anda, maka orang tersebut salah. Saya rindu melihat perempuan berkebaya dan bersanggul yang sangat mencerminkan Indonesia.

Pria bergamis atau bercelana cingkrang juga mulai banyak kita lihat, bahkan ada merek fesyen tertentu yang sudah memproduksi mode ini. Hal ini pun sejatinya tidak salah, selama tidak memaksa. Saya jadi ingat sebuah kejadian yang saya alami beberapa waktu lalu. Saat itu saya berniat menunaikan salat Maghrib di sebuah masjid di daerah Jakarta Barat. Saat salat akan dimulai dan para jemaah sedang merapikan saf, tiba-tiba ada orang yang menendang kaki saya, dan berkata agar saya menggulung celana sampai di atas mata kaki (baca: cingkrang). Itu adalah salah satu bentuk pemaksaan yang tidak seharusnya terjadi.

Apa pun mode pakaian yang Anda pilih, itu adalah hak Anda dan itu sama sekali tidak salah. Menjadi salah jika Anda mengatakan apa yang Anda kenakan adalah benar dan apa yang orang lain kenakan salah. Sorban, gamis, jilbab, cadar adalah mode pakaian, sama seperti pakaian lain, seperti sarung, kebaya, celana pangsi, baju lurik dan sebagainya. Semua itu adalah mode pakaian. Apalagi negara kita terdiri dari berbagai macam suku bangsa yang berbeda budayanya, pasti memiliki mode pakaian tersendiri, dan kita harus bangga dengan keanekaragaman budaya tersebut.

 

Pengeras Suara

Lebih lanjut, semakin sulit saudara-saudara nonmuslim beribadah. Mereka melakukan ibadah di rumah, --yang notabene adalah properti pribadi--selalu ada pihak yang protes. Berencana mendirikan rumah ibadah, juga ada pihak-pihak yang tidak suka. Bahkan, beribadah di tempat ibadah mereka yang sudah lama berdiri pun, terkadang diteror.

Saya sering merasa prihatin dengan saudara tidak seiman di masyarakat. Sering saya berpikir, apa mereka terganggu dengan kegaduhan yang ditimbulkan dari pengeras suara masjid kami? Pernah saya bertanya mengenai ‘polusi suara’ ini kepada salah satu dari mereka, dan jawabannya "ya, mau gimana lagi?". Kalau mau jujur, itu bukan jawaban penerimaan dengan hati ikhlas, mereka mencoba untuk bertoleransi, walaupun terpaksa.

Berkenaan dengan hal ini saya pernah berpikir apakah azan di masjid masih perlu dilakukan? Mengingat esensi dari azan sebenarnya adalah memberitahukan waktu salat atau mengingatkan waktu salat. Memberitahukan sejatinya dilakukan kepada yang belum tahu dan mengingatkan dilakukan kepada yang lupa. Kalau dilakukan kepada yang sudah tahu dan diingatkan kepada yang tidak lupa, maka sebenarnya itu tidak terlalu bermanfaat. Bagi saya mungkin azan di masjid sudah tidak terlalu bermanfaat, mengingat handphone pintar saya sudah mengumandangkan azan setiap masuk waktu salat.

Di zaman Rasulullah, ketika hukum syariat azan diperintahkan oleh Allah, maka orang yang pertama kali diminta oleh Rasulullah untuk mengumandangkan azan adalah Bilal bin Rabah, ia dipilih karena suaranya sangat merdu dan lantang. Ia dikenal sebagai muazin pertama dalam Islam. Bilal mengumandangkan azan dari tempat yang tinggi karena memang saat itu tidak ada teknologi apa pun untuk memberitahukan waktu salat.

Seiring waktu berjalan dan ditemukan teknologi pengeras suara, maka azan dengan cara diteriakkan dari tempat tinggi sudah ditinggalkan. Itu artinya, teknologi pengeras suara menggeser kebiasaan mengumandangkan azan secara langsung dari tempat yang tinggi. Saat ini sudah ditemukan kembali teknologi untuk memberitahukan waktu salat melalui handphone pintar, apakah azan dengan pengeras suara masih diperlukan? Biar waktu nanti yang akan menjawabnya.

Di beberapa negara sekuler seperti Jerman, Spanyol, Perancis, dan lain-lain, azan memang dilarang dikumandangkan karena dianggap sebagai ‘polusi suara’ dan mengganggu. Saya bisa memaklumi hal tersebut karena memang sangat mungkin ada kalangan yang merasa terganggu dengan dikumandangkannya azan, apalagi bagi nonmuslim. Terkadang bagi umat muslim sendiri suara azan yang terdengar tidak merdu juga mengganggu, apalagi bagi nonmuslim yang tidak memiliki keterikatan apa pun dengan dikumandangkannya azan.

Sebagian umat muslim terkadang terlalu sensitif terhadap isu-isu “menjatuhkan atau mendeskreditkan Islam”. Misalnya pemerintah –dalam hal ini adalah Kementerian Agama—mengeluarkan aturan mengenai pengeras suara di masjid, dikatakan pemerintah anti-Islam. Lalu ada lagi misalnya Sukmawati Soekarnoputri, putri presiden pertama Republik Indonesia membawakan puisi yang berjudul “Ibu Indonesia”, dia dianggap menyinggung syariat Islam. Padahal dalam puisi tersebut Sukmawati hanya menyampaikan bahwa kita sebagai bangsa Indonesia jangan sampai kehilangan jati diri sebagai bangsa yang memiliki kebudayaan sendiri. Masih banyak contoh-contoh lain yang memperlihatkan kelewahan kita sebagai umat muslim.

 

Peribadahan di Rumah

Ada kelompok tertentu, yang ribut sendiri jika ada tetangga nonmuslimnya merayakan Natal di rumah. Saya tidak pernah melihat ada warga nonmuslim yang ribut kalau ada tetangga muslimnya merayakan Idulfitri di rumah. Ternyata warga nonmuslim lebih memiliki rasa toleransi terhadap warga muslim, ya.

Saya terkadang heran melihat fenomena seperti itu. Apa yang salah dari orang yang melakukan ibadah di rumahnya sendiri? apa bedanya dengan umat muslim yang melakukan salat atau mengaji di rumahnya sendiri? Mereka yang tidak seiman adalah saudara kita setanah air, alangkah baiknya kita bisa saling menghargai tanpa harus merasa terancam.

Ayolah saudara-saudaraku sesama umat muslim, ubahlah cara pandang dan sikap kita terhadap isu-isu seperti itu. Mau sampai kapan kita begini? Ingat, Indonesia adalah negara berpenduduk muslim terbesar di dunia, tapi ternyata bukan negara yang islami—menerapkan kaidah atau nilai-nilai keislaman sesuai tuntunan Alquran. Kita masih kalah “Islami” dengan Selandia Baru yang justru 40% penduduknya tidak beragama.

Menurut artikel yang saya baca di Media Indonesia mengenai indeks negara islami tahun 2018, negara paling islami menurut penelitian Scheherazade S. Rehman dan Hossein Askari itu adalah Selandia Baru. Kedua peneliti tersebut mengganjar Selandia Baru dengan indeks tertinggi 9,20 setelah meneliti kondisi ekonomi, hukum dan pemerintahan, hak asasi manusia dan politik, serta hubungan internasional di negara itu.

Negara-negara Islam justru sebagian besar bertengger di urutan di atas urutan seratus. Iran berada di urutan ke-125, Mesir ke-137, Pakistan ke-140 dan Sudan ke-152. Indonesia sendiri berada di urutan ke-64 dari penelitian tersebut. Dan itu artinya kurang islami kalau dibandingkan dengan negara jiran kita, yaitu Malaysia yang berada di urutan ke-47 dan Singapura di urutan ke-22.

Dilihat dari indeks tingkat kemakmuran dan kebahagiaan rakyatnya, negara-negara Islam juga berada di urutan yang jauh di bawah negara-negara sekuler. Finlandia, Denmark, Selandia Baru, Norwegia, Israel, Swedia, Australia, Costa Rica, Iceland, dan Kanada adalah sepuluh negara dengan indek kemakmuran dan kebahagian tertinggi, menurut laporan para peneliti independen yang saya kutip dari tautan https://worldhappiness.report/.

Semua itu harusnya sudah cukup menyadarkan kita bahwa cara pandang dan tindakan yang kita lakukan selama ini kurang benar. Mari kita bangun dari keterlenaan panjang ini. Masa negara Islam kalah islami dibandingkan negara non-Islam. Fakta yang menyedihkan tentunya bagi kita semua.

Saya teringat apa yang dikatakan oleh Gusdur, beliau pernah mengatakan bahwa kearab-araban akan menjadi suatu yang berbahaya dan bisa mencabut Indonesia dari akar budayanya. Beliau menjelaskan kalau kita berpikir pakai gamis/sorban itu mencontoh atau menjalankan sunah Nabi, itu artinya ngaji kita kurang jauh.

Beliau menjelaskan bahwa Nabi Muhammad menggunakan gamis dan sorban itu karena beliau menghargai pakaian nasionalnya, yaitu pakaian Arab. Jadi gamis itu pakaian Arab, bukan pakaian Nabi Muhammad. Abu Jahal. juga pakai gamis, karena Abu Jahal juga orang Arab. Kalau mau mencontoh Nabi Muhammad, kenakanlah batik atau kebaya, itu adalah pakaian nasional Indonesia, begitu Gusdur menjelaskan cara mencontoh Nabi Muhammad dalam hal berpakaian.

Jadi pada intinya Gusdur berpesan kepada kita semua, janganlah sok kearab-araban. Untuk menjalankan ajaran Islam dengan baik, tidak perlu menjadi orang arab. Menjalankan sunah Nabi Muhammad itu bukan menjalankan apa yang dilakukan Nabi 100%, tetapi teladanilah akhlaknya, pelajari budi pekertinya, terapkan esensi dari sikapnya.

 

Indonesia Raya

Saya melihat Indonesia adalah sebuah negara yang seksi dibandingkan negara mana pun di dunia ini. Tidak ada negara seperti Indonesia, baik dilihat dari sisi keberagamannya, sumber daya alamnya, atau dari letak geografisnya. Banyak negara iri dengan apa yang dimiliki Indonesia. Saya bingung jika ada sekelompok orang yang justru ingin merusak, bahkan menghancurkannya.

Indonesia menduduki peringkat ke-6 sebagai negara terindah di seluruh dunia menurut penilaian situs pariwisata “Rough Guides” yang berbasis di London, Inggris. Selain itu Indonesia menempati posisi nomor satu di Asia soal keindahan tempat wisatanya

Indonesia memiliki pemandangan alam yang sangat indah dan budaya yang beragam, hal ini menjadikan Indonesia berada di peringkat ke-6 sebagai negara paling indah di dunia, versi situs pariwisata “Rough Guides” yang berbasis di London, Inggris. Rough Guides merupakan perusahaan penyedia buku panduan perjalanan dan inspirasi, merilis daftar 20 negara yang dinilai paling indah di dunia. Dalam daftar “Most Beautiful Country in the World”, Indonesia berada di urutan ke-6.

Di Asia, Indonesia menempati posisi pertama sebagai negara terindah, karena dinilai memiliki pemandangan alam yang mengagumkan dan budaya yang beragam, sehingga menarik bagi para turis untuk berkunjung. Banyak sekali wisatawan mancanegara yang menuliskan di medsos mereka bahwa Indonesia memang terkenal dengan pulau-pulau yang indah serta pegunungan dan kaya akan warisan budayanya.

Apakah sebagai warga negara Indonesia, kita rela kehilangan bangsa ini hanya karena sekelompok orang yang menginginkan kehancurannya. Kita harus berjuang mempertahankan apa yang kita miliki ini. Dunia saja menginginkan Indonesia, masa kita sebagai warganya justru rela berdiam diri melihat bangsa ini dihancurkan?

Saya rindu Indonesia yang dulu. Saya ingin melihat Indonesia hidup rukun makmur dalam segala perbedaan yang ada, baik perbedaan keimanan, perbedaan suku bangsa, perbedaan kebudayaan, perbedaan bahasa dan 1001 perbedaan lainnya. Kita sudah pernah membuktikan bahwa kita bisa hidup berdampingan dalam perbedaan, dan tidak sulit bagi kita untuk membuktikan kembali bahwa kita bisa. Kita Indonesia.