11 bulan lalu · 145 view · 3 menit baca · Pendidikan 72669_12576.jpg

MCA, Politik Representasi, dan Hoaks

Rekam jejak Muslim Cyber Army (MCA) yang meresahkan warganet itu kini mendekam menunggu keputusan pengadilan. Kiprah mereka terendus lewat investigasi bersama pihak yang berwajib dan pengguna media sosial. Tak ada jelaga tanpa pembakaran.

Ungkapan konotatif itu menyiratkan tertangkapnya MCA—sekali lagi—karena geliatnya yang mencemaskan. Ada sebab dan akibat.

Informasi yang disemburkan lewat tangannya telah dipelintir, bahkan sekadar memenuhi asas sensasi, guna menggayung atensi publik. Kebenaran informasi menjadi samar-samar.

MCA mustahil lahir tanpa kepentingan. Ia disusun berdasarkan prosedur tertentu secara sistematis guna melawan liyan. 

Identitasnya juga seakan-akan mewakili suatu kelompok partikular. Dalam hal ini, muslim, diakuinya sebagai pihak yang direpresentasikan.

Pengakuan itu merugikan banyak pihak karena, betapapun, muslim tak bisa terwakili oleh subyek tunggal, tapi subyek plural yang tiap massa dibebaskan bergerak cair. MCA justru memadatkan diri, mengatasnamakan ikatan kolektif, sekalipun tak ada konvensi dan kesepakatan di antara mereka. MCA melakukan politik representasi.

Di abad pascakebenaran, pelbagai hal di media sosial tampak sengkarut. Derasnya informasi tak sebanding dengan kualitas isi. 

Sisi sensasional dipelintir sebagai kebenaran faktual. Segalanya terlihat abu-abu. Kesempatan ini kemudian dimaksimalkan MCA, bahkan kelompok Saracen, demi meraup kepentingan sektoral. Ironinya hoaks serupa toksin itu dipercaya sebagian orang yang nirliterasi.

Akun Gadungan

Semua individu yang tergabung secara resmi maupun partisipan dalam MCA tak pernah menunjukkan batang hidungnya. Mereka bertopeng dan bergincu atas nama privasi. Akun penyebar berita bohong yang digunakan sepenuhnya artifisial.

Di balik distorsi dan kebencian verbal yang mereka gencarkan di media sosial ternyata menunjukkan kepengecutan personal. Tak berani menunjukkan diri secara dewasa, mereka hanya mendekam di balik ketiak sandiwara.

MCA menjual harga diri demi menyerang orang lain. Komposisi tulisan mereka jauh dari kesan ilmiah-obyektif. Membubuhi judul fantastis cenderung dilakukan ketimbang konstruksi isi tulisan yang sistematis, mendalam, dan relevan.

Bila dianalisis secara linguistik (ilmu bahasa), tipe tulisan kaum MCA lebih berkiblat pada dramatisasi agar lekas viral. Ini ditandai dengan diksi judul yang jauh dari esensi tulisan.

Bagi pembaca yang jeli, tulisan MCA mudah terdeteksi karakteristiknya. Biasanya mereka juga menguak ranah-ranah tertentu seperti politik, agama, kepercayaan, dan ras.

Keempat kategori tersebut dipertimbangkan atas dasar masih banyak orang sensitif akan hal itu. Ia serupa privasi yang pamali dietalasekan ke publik. Namun, di samping itu, pelbagai preferensi demikian bagai lumbung yang menggiurkan bagi pemain politik identitas.

Isu berisi ujaran kebencian diviralkan serentak. Gerak-gerik mereka terpampang jelas bila menengok kapan dan di mana wacana itu disebarkan. Grup media sosial, terutama Facebook, menjadi sasaran empuk. Apalagi anggotanya mencapai puluhan ribu.

Melihat waktu penyebaran, lazimnya pada saat istirahat siang dan menjelang senja, tulisan bombastis itu diposting. Akun robot lain menimpalinya melalui komentar-komentar searah.

Belasan anggota menginduk pada satu postingan. Mereka mengendalikan isu secara anggun.

Strategi dan siasat menjadi bagian penting dari Standar Operasional Prosedur (SOP) MCA. Kerja sama antaranggota dilakukan diam-diam tapi jelas sasarannya. 

Tindakan mereka itu dapat diacungi jempol bila diteropong secara perencanaan hingga eksekusi di lapangan. Buktinya, khalayak naik pitam oleh karena gerakan mereka di jagat maya.

Banyak pihak merasa dirugikan. Terutama individu yang rajin mengonsumsi informasi di dunia maya. Tipe orang semacam itu belum berada di tataran literasi kritis: warta, apa pun isinya, mesti diverifikasi kebenarannya.

Iktikad ini relatif sukar tanpa kesadaran dan disiplin khusus. Racun yang ditimbulkan dari MCA perlu didetoksifikasi. Salah satunya melalui obat berupa membaca komprehensif.

Jaringan Warganet Waras

Penangkapan MCA perlu diapresiasi. Angkat topi kepada pihak yang sukses menciduk patut diekspresikan. Tapi pemantauan tetap dilakukan meski sejumlah nama telah diamankan. Pelaku bagai virus yang mudah menyebar untuk mempengaruhi liyan.

Ditangkapnya sederet nama bukan berarti MCA berada di senjakala. Eksistensi mereka masih bersemayam di alam maya.

MCA, selain bertitik tolak pada aksi lapangan, juga merupakan embrio berjumlah banyak yang niscaya menetas kapan saja. Keadaan ini bisa ditinjau dari sudut pandang rekam jejak mereka yang acap berurusan dengan teks.

Artinya, sasaran tembak MCA adalah pikiran-pikiran manusia. Infeksi pikiran sebagai akibat dari haoks di sini rumit diobati. Teks, pikiran, dan hoaks adalah variabel abstrak yang geliatnya transparan.

Cara cespleng menghentikan gerakan MCA, antara lain, menggunting penyebaran hoaks lewat kewarasan berpikir. Penawar racun yang bersifat abstrak mesti ditampik melalui daya kognitif. Bedanya, obat ini tak berbentuk tablet yang siap ditelan, tapi sebuah laku yang mustahil dilakukan, kecuali dengan latihan keras dan periodik.

Laku ilmiah bisa diterapkan. Disiplin melihat segala sesuatu dengan tameng keraguan.

Berikutnya, memverifikasi keraguan itu dengan metode ilmiah agar menemukan kebenaran empiris. Strategi ini telah dikenal banyak di dunia akademik. Tapi jarang dimanifestasikan untuk menghadapi hoaks. Bisa dicoba.