Sudah sering dengar kata “Revolusi Mental”? Kata-kata ini sering terdengar sejak resminya duet kepemimpinan Jokowi-JK.

Revolusi mental sebenarnya bukan barang baru. Dulu saat zaman penjajahan, revolusi mental juga digaung-gaungkan. Wujudnya berupa upaya menyadarkan masyarakat seantero negeri tentang pentingnya merdeka. Bahwa senyaman apapun dijajah, tetap saja namanya dijajah.

Kegentingan revolusi mental saat itu merasuk dari berbagai lini. Begitu juga oleh para seniman, mereka menggaungkan revolusi mental lewat karya-karya. Salah satu yang paling terkenal, yakni sastrawan besar Indonesia sekaliber Pramoedya Ananta Toer lewat novel tetralogi “Bumi Manusia”-nya.

Pada novel itu kita dipertemukan dengan karakter “Minke”. Minke yang berbeda dari masyarakat Indonesia kebanyakan di zaman itu. Minke yang kritis dan berupaya untuk memperbaiki keadaan. Minke yang juga terombang-ambing banyak dilema karena begitu adigdayanya kaum kompeni. Sampai ia dipisahkan dari istrinya yang cantik jelita, dihambat pergerakannya, hingga diasingkan ke pulau. Minke adalah cerminan bagaimana jika manusia sudah mengalami revolusi mental.

Walaupun memang kata-kata revolusi mental tak ada dalam keempat novel itu, tapi idenya ada. Sama walupun tak sama, tentang betapa keadaan suatu bangsa amat dipengaruhi oleh kualitas sumber daya manusinya. Walaupun memang ide terkait revolusi mental itu memang bukan satu-satunya ide/gagasan yang disampaikan dalam tetralogi Bumi Manusia.

Nah, balik lagi, revolusi mental sepertinya memang genting sekali dilakukan sekarang, saat rakyat Indonesia sudah pecah jadi dua kubu. Sungguh sudah seperti supporter sepak bola saja.

Dua kubu apa? Banyak. Mulai dari pro Jokowi, anti Jokowi, pro Prabowo, anti Prabowo. Pro Ahok, anti Ahok, pro mayoritas, anti minoritas dll. Ntah nanti apa lagi.  Mau sampai kapan jadi dua kubu melulu? Ga capek pisah-pisah? Ga capek bersitegang? Mending sayang-sayangan. Ups...

Melihat keadaan dua kubu-kubuaan seperti ini, saya jadi semakin setuju dengan upaya revolusi mental yang digaung-gaungkan Pak Jokowi/JK. Kita memang butuh revolusi mental. Setidaknya butuh revolusi mental agar kita-kita bisa menjelma jadi supporter yang sportif. Alias boleh beda pendapat, boleh beda idola, boleh beda klub bola, asal tak saling benci, tak saling caci maki dan gontok-gontokkan. Tak mudah diprovokasi lalu bakar-bakar stadion. Nah lho?

Faktanya lagi,  Pramoedya sudah berpuluh tahun menggemakan tentang revolusi mental. Jauh sebelum Jokowi-JK, tepatnya sejak dia menuliskan tetralogi tersebut pada seputaran tahun 1970-an. Dengan begitu akhirnya mau tak mau kita menyingkirkan fakta bahwa pak Jokowi-JK mengusung revolusi mental karena bobroknya pribadi individu bangsa Indonesia di zaman sekarang saja. Tapi bisa jadi karena keyakinan bahwa harta paling berharga sebuah negeri bukan pada kekayaan alamnya, tapi pada kualitas manusianya.

Coba saja lihat Jepang yang kecil dan juga Singapura. Mereka tak butuh lahan luas atau kekayaan alam berlimpah. Tapi akhirnya bisa jadi negara yang berlangkah-langkah lebih maju dari negara yang alamnya lebih kaya.

Revolusi mental setidaknya juga yang membawa bangsa pada perbaikan. Serupa Filipina yang berhasil lepas dari jajahan Spanyol setelah banyak generasi muda mereka yang berpendidikan dan sadar untuk memperjuangkan kemerdekaan.

Begitu juga dengan Revolusi Perancis dan Kemerdekaan Indonesia, yang juga ditopang dari tingkat kesadaraan manusianya yang sudah mulai banyak yang berpendidikan.

Nah, kita? Apakah benar kita saat ini tak membutuhkan revolusi mental?

Padahal kita, sedikit baca berita hoax saja langsung tersulut. Sedikit lihat pro dan kontra kita langsung pilih kubu. Lalu saling caci maki, saling benci. Sibuk sendiri dengan kebencian. Membumi saja dengan pro dan kontra, lalu pecah belah.

Padahal dulu kita susah payah untuk bisa bersatu. Padahal negara lain sudah sibuk dengan perkembangan dan kemajuan teknologi. Bahkan ada yang mau safari ke angkasa. Nah kita tetap sibuk saja berantem antar sesama.

Jika saja Mbah Pram masih hidup, mungkin saja dia akan merasa sama mirisnya saat melihat masa penjajahan. Kalau dulu Mbah Pram Bilang, hayo mau berapa lama dijajah? Sekarang Mbah Pram mungkin bilang, hayo mau berapa lama terpecah belah? Bisa jadi Mbah Pram bakal tulis novel tetralogi bumi manusia jilid II. Dengan Minke yang gerah pada bangsa yang saling ribut dan saling caci maki. Hayo... mau berapa lama?