Pengusaha
2 tahun lalu · 1010 view · 3 menit baca · Politik fatwa_mbah_maimoen_rembang_soal_geger_ahok_copy.jpg
Foto: muslimedianews.com

Mbah Moen Dukung Ahok

Silaturrahim Nasional Alim Ulama Nusantara

Pada acara Silaturrahim Nasional Alim Ulama Nusantara kemarin, yang diadakan PBNU di Pondok Pesantren Al-Anwar, Sarang, Rembang, KH. Maimoen Zubair atau yang biasa dipanggil Mbah Moen memberikan pernyataannya tentang Ahok. Baginya, Memilih Ahok itu tidak jadi persoalan dan sah-sah saja.

Di sela-sela acara tersebut, Mbah Moen dalam sambutannya memberikan sedikit komentarnya mengenai kondisi politik yang sedang hangat saat ini, yakni Pilkada Jakarta. Pilkada yang menghadirkan pertarungan antara Ahok-Djarot dengan Anies-Sandi memang menjadi perbincangan perpolitakan tanah air.

Hal ini tidak lain disebabkan karena bumbu-bumbu politik, seperti isu SARA yang mengiringi Pilkada Jakarta. Bahkan, masyarakat Indonesia khususnya Jakarta saat ini terancam terpecah-belah dan rawan konflik horizontal, karena adanya perbedaan politik.

Isu SARA yang dimainkan saat ini, masih tetap sama yakni kaum muslimin tidak diperbolehkan memilih pemimpin non-muslim dalam hal ini adalah Ahok. Bahkan, ada beberapa oknum yang sengaja memasang spanduk besar di masjid dan musala yang melarang disalatinya jenazah pemilih dan pendukung Ahok, dan Hindun binti Raisman adalah korban pertama dari realisasi spanduk tersebut.

Jelas, Ahok dalam hal ini telah didiskreditkan dan mengancam persatuan dan keharmonisan warga Jakarta yang selama ini sudah terjalin hangat. Hanya gara-gara perbedaan politik, agama digunakan untuk mengintimidasi sikap politik warga yang jelas-jelas dilindungi oleh undang-undang kita.

Mbah Moen Ahoker?

Sebagai kiai tertua dan paling dihormati di tubuh NU, Mbah Moen sering kali diminta pendapatnya tentang persoalan umat khususnya yang menyangkut dengan Nahdlatul Ulama, baik di tingkat nasional maupun internal NU. Selain sejalan dengan prinsip NU, pendapatnya dianggap mampu mewakili semua umat, tanpa terkecuali termasuk selain kaum nahdliyin.

Sambutan Mbah Moen yang banyak orang menganggap dirinya adalah Ahoker dijawab dengan enteng oleh Mbah Moen sendiri. Bahkan, warga dan ulama yang hadir dibuat terkekeh-kekeh oleh sambutan Mbah Moen ketika menyebut nama Ahok.

Menurutnya, ada tiga hal yang mengapa banyak orang menganggapnya sebagai Ahoker. Pertama, Mbah Moen selalu konsisten dengan membawa nilai-nila NU yang mengecam penggunaan isu SARA dalam politik, terutama dalam Pilkada Jakarta.

Pernyataan Mbah Moen ini sejalan dengan prinsip NU yang selalu mengawal Pancasila dan NKRI. Karena, Pancasila sendiri dengan jelas mengakui ketuhanan setiap warga negaranya. Entah itu Islam, Kristen, Hindu, Budha, Katholik, dan Konghucu.

Oleh sebab itu, Mbah Moen menghimbau kepada seluruh umat Islam di seluruh Indonesia untuk  senantiasa menjaga kedamaian dan kerukunan antar umat. Umat Islam harus menjadi pelopor dan menjaga perdamaian dan kerukunan. Maka, tidak boleh umat Islam menjadi pembuat perpecahan dan pengobar permusuhan.

Kedua, negara makmur atau tidak bukan tergantung kepada pemimpin negaranya muslim atau bukan. Mbah Moen mencotohkan negara Sudan Utara yang terancam sebagai negara gagal yang saat ini dipimpin oleh pemimpin Muslim. Sebaliknya, di Sudan Selatan yang negara makmur dan tercukupi kebutuhannya, namun pemimpinnya adalah seorang Kristen.

Hal yang dicontohkan Mbah Moen, mematahkan anggapan bahwasanya pemimpin selain Muslim akan membawa kesengsaraan untuk rakyatnya. Selain itu, kita juga diajak berfikir oleh Mbah Moen bahwasanya negara atau wilayah itu maju hanya dicapai dengan kerja keras dan kerja nyata bukan faktor agama. Justru, retorika kosong dan tidak berbuat nyata, serta perilaku korup dari para pejabatnya adalah penyebab utama suatu wilayah tidak maju.

Ketiga, karena seringnya menceritakan bahwa Islamnya orang sarang itu bukan dari Wali Demak melainkan dari Belitung dan Bangka. Menurutnya, cerita ini berawal dari pasukan Kubilai Khan yang menguasai Kerajaan Cina. Kemudian, Kubilai Khan menyuruh prajuritnya untuk ekspedisi ke Jawa.

Namun, para prajuritnya dikalahkan oleh Kerajaan Majapahit ketika itu. Hal ini membuat para pasukan Kubilai Khan lari dan menyebar ke mana-mana, termasuk ke Belitung dan Bangka hingga menetap di sana. Karena sebagian prajuritnya ada yang Muslim, di antara mereka ada yang berdakwah hingga ke Rembang.

"Cerita ini saya dengar dari abah saya. Abah saya dari kakek saya. Kakek saya dari buyut saya. Buyut saya itu dulu mengajinya di Belitung, napak tilas ke pendakwah asal Belitung. Makanya di Kecamatan Sarang ada desa Belitung," pungkasnya menegaskan bahwa orang  Belitung punya jasa besar bagi dakwah Islam di Nusantara.

Mbah Moen ingin menegaskan kembali bahwa kerukunan, persatuan, dan kedamaian adalah hal utama mengapa kita hidup di Indonesia. Keberagaman yang dimiliki Indonesia adalah sebuah anugerah yang diberikan Tuhan untuk bangsa Indonesia yang harus kita rawat dan kita jaga.

Dan memilih Ahok sebagai Gubernur Jakarta bukanlah hal yang salah dan sah-sah saja. Toh, Ahok sudah memberikan banyak perubahan yang positif, baik untuk umat Islam atau non-Islam dengan kerja keras dan kerja nyata hanya dengan tiga tahun kepemimpinannya.