Gerry Van Klinken membuka bukunya yang berjudul The Making of Middle Indonesia dengan pertanyaan; apa yang mengikat Indonesia menjadi satu? Pertanyaan ini pernah tiba-tiba menjadi sedemikian mendesak ketika demonstran-demonstran yang meluas di tengah-tengah krisis ekonomi memaksa Presiden Soeharto yang otoriter mengundurkan diri pada bulan Mei 1998. 

Kata 'disintergrasi tiba-tiba mencuat dalam berbagai pembicaraan kalangan beriringan dengan makin kuatnya gerakan-gerakan separatis aktif di Papua, Aceh, dan Timor-Timur.

Banyak yang berpikir, kala itu, bahwa masyarakat sudah sedemikian terpecah belah; sehingga tanpa seorang pemimpin yang kuat di puncak, Indonesia akan terpecah-pecah seperti jazirah Balkan, jatuh ke dalam fundamentalisme agama, atau terjerumus ke dalam kekacauan ekonomi.

Seorang wartawan asing pernah menulis tentang kekhawatiran tokoh-tokoh penting Jakarta akan arah dari bangsa ini. Akankah nasib bangsa ini akan seperti Uni Soviet atau lebih seperti Arab Saudi.

Saat itu semua kemungkinan buruk tentang akhir dari bangsa ini menjadi tema yang paling sering dibicarakan dalam segala macam kelas perbincangan. Mulai dari tokoh politik kecil, hingga tokoh-tokoh politik Internasional.

Beberapa orang yang telah lebih berpengalaman lama tentang negeri ini berbicara dengan lebih optimis mengenai kekuatan nasionalisme, bahasa yang satu, dan mengenai toleransi dan pluralisme yang selalu merupakan ciri khas penduduk Asia Tenggara ini. Namun di antara kelompok optimis dan pesimis, terdapat kelompok yang merasa bahwa Indonesia, entah bagaimana, akan mampu terus melangkah.

Dalam rentan dekade terakhir, Indonesia mengalami guncangan yang cukup keras. Kelompok-kelompok ektremis mulai memperlihatkan kekuatannya dalam bentuk demonstrasi-demonstrasi. Pemerintah terlihat mulai kehilangan kendali atas kapal yang tengah dinakhodainya. 

Memang tidak sedahsyat (atau memang belum sampai pada waktunya) pada tahun 1998 silam. Tetapi kenyataannya, Indonesia, diakui atau tidak, mulai membangun kembali dinding-dinding yang menjadi sekat antara satu kelompok masyarakat dengan kelompok masyarakat yang lain.

Mungkin kita memang sudah seharusnya pesimis tentang keadaan Indonesia hari ini, dengan melihat kenyataan dan sejarah bangsa ini yang selalu dipenuhi konflik dan isu 'disintegrasi'. Atau justru seharusnya kita tetap optimis dengan kekuatan nasionalisme yang tengah mempertahankan keberadaannya dalam wacana kebangsaan. 

Entah, bangsa ini, seperti yang selalu dikatakan Clifford Geertz, sangat sulit untuk dibaca anatominya sebagai bangsa.

Kiai Maimun Zubair mungkin salah satu tokoh yang bisa merepresentasikan kelompok yang selalu optimis dengan Indonesia. Bahwa kekuatan nasionalisme bangsa ini tidak boleh diremehkan. Perasaan sensitif kita sebagai bangsa yang selama ini menjaga kita tetap bisa menyanyikan lagu Indonesia Raya, meski konflik politik, ekonomi, dan sosial tengah berkecamuk.

Sulit menerka dari mana rasa optimisme Kiai Maimun Zubair itu berasal. Semua tafsiran tentang kecintaan beliau terhadap negeri ini, baik dari orang-orang terdekat maupun orang-orang yang merasa punya kedekatan dengan beliau, selalu tidak cukup untuk menjelaskan kedalaman hati Kiai Maimun Zubair mencintai Indonesia.

Dalam satu kesempatan, ketika menyanyikan lagu Indonesia Raya, saya secara langsung menjadi saksi betapa usia sepuh beliau bukan apa-apa jika dibandingkan cintanya kepada Indonesia. Dengan berpangku pada tongkat kayu, beliau berdiri, melawan sendiri usianya yang tak lagi muda.

Pertanyaan Klinken di awal tulisan ini mungkin memang tidak akan pernah menemukan jawabannya secara argumentatif. Tetapi bagi sebagian orang (atau mungkin hanya saya), sosok Kiai Maimun adalah jawabannya. 

Kesediaan beliau berdiri untuk menyanyikan lagu Indonesia Raya dalam keadaannya yang renta adalah jawaban nyata bagi mata orang yang menyaksikannya. Bahwa ketika ada yang ragu tentang masa depan Indonesia sebagai bangsa, ketika perasaan mulai kehilangan keyakinannya terhadap kekuatan Pancasila, sosok Kiai Maimun merupakan jawaban yang tepat.

Kiai Maimun telah wafat pada hari Selasa di Makkah al-Mukarromah. Beliau dimakamkan di pemakaman Ma'la. 

Aneh memang, sosok yang sangat mencintai negerinya ini menutup usia, dan beristirahat di tempat yang jauh dari Indonesia. Tapi justru keanehan itu yang membuat kita perlahan mengerti, bahwa sejauh apa pun beliau dari Indonesia, negeri ini tetap mencintainya.

Kepergian beliau tentu menyisakan banyak tangis karena kehilangan sosok (satu-satunya) yang tidak pernah metus harapannya kepada negeri Ini. Tetapi cinta, optimisme, serta segudang rasa yang tak terjelaskan juga akan sesalu terjaga dalam doa-doa kepada beliau (meski entah apakah kita pantas mendoakan beliau)

Kepergian beliau adalah kepergian yang paling sempurna. Mengajarkan kepada siapa pun tentang tidak tuntasnya beliau mencintai negeri ini. Satu-satunya yang mesti kita tangisi mungkin hanyalah kenyataan bajwa kita akan menikmati cinta ini tanpa beliau lagi.

Besok (tulisan ini disusun tanggal 12 September 2019) akan genap 40 hari beliau pergi. Tetapi ada kekuatan yang sepertinya diwariskan kepada setiap orang yang pernah mengenalnya. Perasaan yang selalu dan akan terus hidup, bahkan ketika beliau sudah tiada. Perasaan yang tak pernah terjelaskan, tentang keyakinan bahwa Indonesia, entah bagaimana, akan selalu mampu bertahan dan baik-baik saja.

Sugeng tindak, Yai..