Freelancer
1 tahun lalu · 65 view · 8 menit baca · Cerpen 73911_96298.jpg
Koleksi Pribadi

Mbah Maryadi

Malam itu, tepat setelah Maghrib, Mbah Maryadi berdiskusi santai dengan lima orang di ruang tamu. Lima cangkir kopi yang berdiri gagah di meja depan mereka sudah mulai tandas. Tapi asap rokok masih meluncur bebas dari mulut keruh mereka.

Malam itu, Mbah Maryadi sedang membentuk Tim Sukses untuk memenangkannya dalam Pileg tahun ini. Mbah Maryadi opitimis. Tahun ini, adalah tahun kemujurannya. Tim Sukses mengamininya sepenuh hati.

Perlu ditahui, sebenarnya Mbah Maryadi tidak setua panggilannya. Ia adalah sosok laki-laki kerempeng dengan tinggi badan yang biasa saja. Usianya kisaran 45 tahun. Wajah Mbah Maryadi juga tidak terlihat tampan. Tapi kekayaan yang dimiliki Mbah Maryadi sangat kharismatik. Kekayaan Mbah Maryadi adalah arum manis yang memancing koloni semut untuk mengerubutinya. Mbah Maryadi selalu mengumbar senyum. Ia bangga dengan ‘kedigdayannya’; dielu-elukan. Dihormati habis-habisan.

“Jadi, bagaimana selanjutnya?” tanyanya pada Karjo, Korlap wilayah timur.

“Kita butuh dana awal, Mbah!” jawab Karjo tegas.

“Berapa?”

“Kita akan mem-backup beberapa Lurah dan Kiyai Kampung, Mbah. Jadi, kita butuh dana lumayan banyak,” urai Karjo penuh harap.

“Tidak masalah!” seru Mbah Karyadi enteng.

Mendengar jawaban Mbah Maryadi, Karjo mengulum senyum. Hatinya mendadak berpelangi. Baginya, itu adalah kemenangan bersejarah. Sementara empat orang di sebelahnya masih sibuk menunggu giliran diinterogasi.

“Bagaimana dengan sampeyan?” Mbah Maryadi bertanya pada Sodiq; Korlap wilayah barat. Ia juga menawarkan diri sebagai negosiator dengan KPPS. Tapi tidak banyak yang tahu apa sebenarnya tujuan bernegosiasi dengan KPPS. Mbah Maryadi juga tidak tahu; dan bahkan tidak ingin tahu. Ia hanya memikirkan tentang jas mahal yang akan dikenakan nanti saat pelantikan. Angan-angan Mbah Maryadi sungguh sangat mulia.

“Di wilayah kami ada beberapa pesantren, Mbah. Di sana juga ada beberapa komunitas musik. Mereka sangat potensial untuk mendulang suara. Dari informasi yang masuk, ada juga perkumpulan tani yang siap mendukung,” papar Sodiq hati-hati. Tapi Mbah Maryadi mendengarkan dengan angin-anginan. Ia tidak tampak serius. Sodiq seperti radio susah sinyal; bikin geli jika disimak. Tapi Sodiq tak peduli. Di kelapanya hanya ada rupiah yang siap digenggam.

“Totalnya?” tanya Mbah Maryadi cepat.

“Kita alokasikan 100 juta, Mbah!” jawab Sodiq mantab.

“Harus lunas?”

“Itu lebih baik, Mbah!”

“Baiklah. Itu bisa diatur!” seru Mbah Maryadi enteng lagi.

Sama seperti Karjo. Mendengar jawaban Mbah Maryadi, Sodiq segera mengulum senyum kemenangan. Hati kecilnya riang gembira. Sebab, tidak lama lagi ia akan menaiki motor baru. Dan malam itu, pikiran Sodiq sudah di atas jok motor.

“Kalau sampeyan?” Mbah Maryadi beralih pada Joni; pemuda kuliahan yang sedang kehabisan biaya untuk menyusun skripsi. Joni adalah Korlap wilayah utara. Ia juga mengajukan diri sebagai Jubir sekaligus Jurkam untuk pemenangan Mbah Maryadi.

“Saya sudah mendapatkan tim yang bisa dipercaya, Mbah. Semuanya juga anak kampus. Mereka sangat potensial. Kami siap berjuang mati-matian. Program pertama kami adalah bakti sosial di lima desa. Kami pastikan lima desa tersebut menyumbang suara mutlak untuk Mbah Maryadi.” Bangga, Joni menguraikan misinya. Beberapa kali ia tampak membetulkan kerah baju yang ternyata baik-baik saja. Orang bilang, kelakuan seperti itu adalah simbol belum matangnya jiwa. Rasa pongah masih mencengkram kuat jiwanya.

“Sudah ada gambaran untuk alokasi dana?” tanya Mbah Maryadi tanpa basa-basi.

“Sudah, Mbah,” jawab Joni cepat.

“Berapa?”

“Kami ‘hanya’ butuh 50 juta, Mbah. Tapi kemungkinan akan ada kebutuhan tidak terduga,” jawab Joni tenang. Mbah Maryadi manggut-manggut. Isi otaknya serupa kalkulator yang menampilkan banyak angka.

“Sampeyan atur saja yang baik!”

“Siap, Mbah!”

Wajah Joni menampakkan terang. Hatinya bergemuruh senang. Sebentar lagi skripsinya akan gemuk. Ia kembali mengatur posisi duduknya, sedangkan Mbah Maryadi beralih ke kang Aji, Korlap wilayah selatan.

“Kalau Kang Aji?” tanyanya pelan. Mbah Maryadi kenal betul siapa Kang Aji. Konon katanya, Kang Aji adalah paranormal yang bisa memerintahkan bangsa Jin untuk memberikan suaranya kepada Mbah Maryadi. Hebat sekali Kang Aji, puji Mbah Maryadi.

“Saya sudah ada orang kepercayaan, Mbah. Ia yang akan turun lapangan. Karena saya harus berdiskusi dengan mereka,” jawab Kang Aji sambil tangannya menunjuk ke atas. Mbah Maryadi hanya bisa membungkus dagunya yang tak berjenggot. Ia juga paham tentang siapa yang dimaksud ‘mereka’ oleh Kang Aji.

“Sudah ada gambaran tentang besaran dana?”

“Orang kepercayaan saya butuh 200 juta. Tapi kalau saya tidak butuh apa-apa, Mbah. Saya hanya butuh keheningan untuk berdoa,” jawab Kang Aji diplomatis.

“Saya akan menyediakan dengan segera!”

“Iya, Mbah. Kalau bisa, besok sudah bisa diambil”

“Malam ini pun bisa!”

Mendengar kesanggupan Mbah Maryadi, Kang Aji tidak berekspresi seperti tiga orang sebelumnya. Wajahnya datar-datar saja. Tidak ada senyum atapun gambaran kepuasan. Kang Aji lebih memilih menampilkan wajah seramnya. Katanya, itu sudah menjadi hukum bagi paranormal yang wajib ditaati. Susah-senang, wajah harus tetap terlihat seram. Melanggar hukum itu, kapasitas keparanormalannya patut dipertanyakan.

Wajah kaya Mbah Maryadi beralih pada orang terakhir. Ia adalah Kang Samuji. Orang kelima ini tidak ditugaskan untuk lapangan, tapi ia dibai’at; diangkat sebagai penasihat pribadi Mbah Maryadi. Wajah Kang Samuji selalu tampak tenang. Garis wajahnya yang tidak pernah tegang membuatnya semakin bercahaya di hadapan Mbah Maryadi dan Tim Sukses yang lainnya; termasuk Kang Aji. Menanggapi kharisma Kang Samuji, Kang Aji selalu beralibi bahwa ia dan Kang Samuji berada di jalur yang beda tetapi dengan tujuan yang sama. Jadi, mereka hanya sebatas saling menghormati. Tidak ada yang lebih tinggi di antara keduanya.

“Ada masukan untuk saya, Kang?” tanya Mbah Maryadi pada Kang Samuji.

“Sebaiknya Mbah Maryadi sedikit berhemat. Kebutuhan logistik kita sangat banyak. Waktu pemilihan juga masih agak jauh,” jawab Kang Samuji tenang. Mbah Maryadi hanya mengulum senyum. Keempat orang di sebelahnya mengerutkan kening.

“Saya harus bagaimana, Kang?”

“Buat perencanaan yang bagus, Mbah. Seimbangkan neraca keuangan,” urai Kang Samuji serius. Mbah Maryadi yang tidak sempat mengenyam bangku kuliah hanya bisa mengerjapkan dua matanya.

“Baiklah. Nanti biar diurus asisten pribadi saya,” kata Mbah Maryadi menyelamatkan diri.

“Iya, Mbah!” kata Kang Samuji memaklumi.

Setelah terjadi kesepakatan dengan Kang Samuji, Mbah Maryadi memanggil pembatu rumahnya supaya mempersiapkan makan malam untuk kelima Tim Suksesnya. Sementara Mbah Maryadi masuk ke kamar pribadinya. Di dalam kamar, ia akan menyiapkan semua dana yang telah ditentukan tadi.

Suasana menghening. Di antara kelima Tim Sukses tersebut tidak ada diskusi lanjutan. Tiap kepala memikirkan apa yang ada di dalamnya masing-masing. Sampai hidangan makan siap, mereka tetap tidak mengadakan diskusi.

“Silahkan Bapak-bapak!” kata Mbok Juruh mempersilahkan. Lima kepala di depannya mengangguk bersamaan. Mbok Juruh kemudian meninggalkan mereka. Suara benturan sendok dan piring mengantarkan kepergiannya.

“Kapan mulai kerja?” tanya kang Aji pada Sodiq di sela-sela makan. Tiga kepala yang lain bergegas mengepungnya.

“Besok!” jawab Sodiq tanpa melihat. Setelah itu, suasana hening lagi. Menikmati menu makan malam ternyata lebih seru ketimbang membicarakan agenda kerja. Perut itu nomor satu. Dan akan menjadi nomor satu.

Makan malam telah usai, dan Mbah Maryadi sudah duduk di depan mereka lagi. Di gamitan tangannya ada tas kotak berwarna merah menyala. Serempak, manusia-manusia di depannya menatap lekat-lekat.

“Bagaimana makanannya?” tanya Mbah Maryadi basa-basi.

“Mantab!” jawab Sodiq mewakili.

“Ini ada uang tunai sesuai dengan anggaran tadi. Kurangannya bisa besok. Saya berharap ini bisa digunakan semestinya,” jelas Mbah Maryadi sambil membuka tas kotak merahnya. Lagi, manusia-manusia di depannya menatap lekat-lekat. Kali ini mereka juga terperangah, tak terkecuali dengan Kang Aji.

Setelah isi tas itu terperangkap oleh manusia-manusia di depannya, Mbah Maryadi segera membaginya. Tiap Tim Sukses mendapat jatah sesuai yang dianggarkan. Ada yang lunas malam itu dan ada yang lunas besok. Sebagai bonus Mbah Maryadi memberi mereka tambahan lima ratus ribu perkepala yang nantinya akan masuk kantong pribadi. Pembagian uang malam itu berlangsung sangat cepat. Mbah Maryadi menutup acara itu dengan mengatakan jika pertemuan berikutnya diadakan pada H-1 waktu pemilihan. Semua kepala mengangguk. Kemudian pergi meninggalkan Mbah Maryadi.

***

“Dik. Uang Mas habis,” keluh Mbah Maryadi pada istrinya.

“Tidak tersisa?” tanya istrinya cepat. Ia segera berbaring di sebelah Mbah Maryadi yang lebih dulu menidurkan tubuh lelahnya.

“Semua sawah sudah Mas jual. Kita sekarang hanya punya rumah ini,” tutur Mbah Maryadi dengan suara yang sangat berat. Bu Romlah, istri Mbah Maryadi, hanya bisa menatapnya tajam.

“Sudahlah, Mas. Jangan terlalu dipikirkan. Jika semua itu sudah habis, nanti kita cari lagi. Sudah malam, sudah saatnya kita tidur,” tukasnya.

Mbah Maryadi segera mengatubkan dua matanya dan disusul oleh istrinya. Malam itu, Mbah Maryadi tidur dengan bekal pikiran yang berat. Meski malam itu sangat bercahaya karena bulannya, tapi malam di hati dan pikiran Mbah Maryadi sangatlah pekat. Menakutkan.

***

H-1 siang mereka berkumpul lagi di rumah Mbah Maryadi. Agenda siang itu adalah pelaporan hasil kerja Tim Sukses.

“Bagaimana kondisinya?” tanya Mbah Maryadi pada Sodiq.

“Bagus, Mbah. Hanya ada sedikit kendala?”

“Kendala apa?”

“Di wilayah saya ada Caleg yang main kotor, Mbah!” jawab Sodiq yakin.

“Lalu bagaimana?”

“Sudah ada tim yang menangani. Mereka kotor, kita juga harus kotor, Mbah!”

“Hm, ya … ya …!” kata Mbah Maryadi sambil membungkus dagu.

Melihat kondisi Mbah Maryadi yang tampak mengamini strateginya, Sodiq pasang senyum kemenangan. Mbah Maryadi beralih pada Joni.

“Sampeyan bagaimana?”

“Beres, Mbah!”

“Kalau sampeyan?”

“Lancar, Mbah!” jawab Karjo.

“Sampeyan?”

“Terkendali, Mbah!” jawab Kang Aji masih tanpa ekspresi. Mendengar laporan dari Tim Suksesnya, Mbah Maryadi menghela napas lega. Dan, sekarang saatnya mereka makan siang. Seperti biasa, Mbok Juruh segera mempersiapkan menunya. Mbah Maryadi masuk kamar pribadinya.

“Silahkan!” kata Mbok Juruh sambil meninggalkan mereka.

“Terima kasih,” jawab Karjo mewakili.

Acara makan siang berlangsung sangat singkat. Para Tim Sukses sudah tidak kerasan lagi di rumah Mbah Maryadi. Setelah Mbah Maryadi membagikan amplop berisi uang, para Tim Sukses segera berpamitan pulang kecuali Kang Samuji. Ia memilih tinggal sebentar di rumah Mbah Maryadi. Niat Kang Samuji ditangkap dengan baik oleh Mbah Maryadi. Perbincangan hangat dimulai.

“Bagaimana, Kang?” tanya Mbah Maryadi.

“Kita yakin saja. Untuk para saksi sudah ada pembagian?”

“Sudah, Kang. Kang Karjo yang mengurus.”

“Syukurlah.” Mbah Maryadi melepas napas lega.

***

“Mulai kapan Mbah Maryadi seperti itu, Bu?” tanya Kang Samuji pada Bu Romlah.

“Dua hari yang lalu. Sejak pengumuman resmi keluar.”

“Apa yang terjadi?”

“Semua aset Bapak lenyap. Rumah ini jadi jaminan utang.”

“Bu Romlah harus kuat. Anggap ini ujian dari Tuhan,” kata Kang Samuji menenangkan.

“Iya, Kang!”

“Mereka sudah ke sini?”

“Belum.” Bu Romlah menggeleng.

“Mari, Bu. Kita bawa Mbah Maryadi berobat.”

“Terima kasih, Kang!” kata Bu Romlah dengan dua mata berkaca-kaca.

Siang itu Kang Samuji dan Bu Romlah membawa Mbah Maryadi ke pusat rehabilitasi sakit jiwa. Mereka berdua yang harus melakukannya, karena Karjo sedang sibuk mendaftarkan dirinya beserta keluarganya untuk Umroh. Sodiq sibuk bertransaksi sepeda motor barunya. Joni sibuk mencari Joki untuk skripsinya. Dan, kang Aji sibuk memantau para tukang bangunan yang sedang bekerja di padepokannya. Para Tim Sukses yang dulu mengelu-elukan Mbah Maryadi sekarang sibuk menikmati jerih payahnya.

Sang arum manis kini tertunduk lesu. Wajah keruhnya tidak bisa lagi melihat dunia. Meski begitu, Kang Samuji tak berhenti berharap, semoga sang arum manis kembali dikerubuti semut lagi. Semoga! Sekali lagi semoga! Desahnya berkali-kali dalam hati.

Artikel Terkait