Menjelang tanggal kelahiran adikku 12 oktober 2002 aku flashback tepat saat dia lahir long road to heaven, Film ini menceritakan tentang bom bali 1 yang memupuskan nilai toleransi dan hilangnya kesabaran serta penyalahgunaan otak dalam mengambil keputusan. Tragedi tragis tersebut mengrengkuh 202 korban mati 209 luka, dengan ini pula kekacauan serta prasangka was-was akan keamanan bali diragukan.

Bila ditelaah dari kasusnya semua pelaku pengeboman bersumber dari agama islam, yang telah terstigma sebagai teroris diberbagai belahan dunia. Dan malam itu terjadi di Indonesia, negara dengan jumlah populasi umat islam sebanyak 76 persen dari jumlah total populasi manusia di Indonesia.   

Agama merupakan tatanan sistem buatan tuhan yang berlaku untuk seluruh umat didunia, dengan tujuan untuk menciptakan keseimbangan dalam kehidupan dan pencapaian baik diakhirat, meskipun keberadaannya belum diketahui tetapi umatnya percaya.

Semua agama pasti menuntun umatnya untuk berbuat kebaikan, pasti termasuk juga islam di Indonesia. Populasi yang menang banyak dibanding agama lain sehingga wajar disebut mayoritas. Terlampau banyaknya sulit pasti islam Indonesia menyatukan pendapatnya dan dari situlah tumbuh islam minoritas, tak sama pada umumnya mereka pasti memiliki tujuan khusus.

Termasuk amrozi dan pengikutnya yang bertanggung jawab atas peristiwa tragis bom bali 2002. Atas nama “Pejuang Suci” mereka mengesampingkan hak manusia untuk hidup, dengan tega mereka meledakan bom di dua lokasi ramai Paddy’s Pub dan Sari Club dan ledakan terakhir di dekat kantor konsulat Amerika Serikat.

Saya teringat pasca sidang terdakwa dia berkata “wahai kaum muslim jihad sampai mati hancurkan kaum kafir dan juga munafik allahuakbar allahuakbar”. Tekad kuat jihad yang menggebu seakan dengan seperti itu mereka memperoleh jalan pintas yang lurus langsung menuju surga.

Dalam undang undang dasar 1945 pasal 28A berbunyi “Setiap orang berhak untuk hidup serta berhak mempertahankan hidup dan kehidupannya”, dalam kajian tersebut bahwa hak untuk hidup adalah keyakinan bahwa manusia memiliki hak untuk hidup dan tidak seharusnya dibunuh oleh manusia lainnya tanpa adanya dasar hukum yang jelas.

Tapi apa yang dilakukan amrozi cs itu? Mereka membombardir, membunuh orang-orang, memutus cinta orang dengan keluarganya, memutus silaturahmi, juga menghianati makna kemanusiaan. Apa yang dilakukan atas nama jihad itu benar seperti itu? Apa jihad harus dilakukan dengan penindasan kemanusiaan? Bagaimana pula berjihadi jaman sekarang ini?.

Sesuatu yang menyangkut kelakuan manusia yang sesuai dengan norma dan menghormati martabat manusia lainnya disebut kemanusiaanan, menurut koenjaraningrat. Hubungan manusia dengan manusia lainnya dalam lingkup sosial termasuk dengan alam dan hubungan manusia dengan tuhannya adalah kemanusiaan (Nurgiyanto,2010:323). 

Kesimpulannya kemanusiaan adalah hubungan manusia dengan lingkup sosial yang didalamnya memuat kelakuan manusia yang sesuai norma, hubungan dengan alam, memanusiakan manusia dan hubungan manusia dengan tuhan.

Jihad tidak seharusnya mengangkat senjata dan berperagn, membantu sesama juga boleh dibilang jihad seperti arti surat at taubah ayat 20 “orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad dijalan Allah, dengan harta dan jiwa mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah. Merek  a itulah orang-orang yang memperoleh kemenangan”. 

Dari ayat tersebut dapat diambil makna jihad tidak seharusnya berperang membunuh umat agama lain tetapi bisa juga menyisihkan harta untuk disumbangkan atau mungkin berdakwah. Seperti pendapat KH Achmad satori, "Jihad damai itu bentuknya banyak. Jihad di bidang pendidikan, di bidang ekonomi, di bidang politik dan lain-lain. Jihad untuk perbaikan masyarakat dengan dakwah itu adalah jihad damai," kata Achmad Satori di Jakarta, Selasa (7/6).

Ketika akan melaksanakan jihad ilmu harus menjadi landasan kokoh, kaidah-kaidah berjihad harus ditegakkan. Kaidah berjihad ada diantaranya

Jihad harus dilandasai oleh dua hal yang merupakan syarat diterimanya amal ibadah, yaitu ikhlas dan mutaba’ah  

  • Jihad haruslah diiringi dengan ilmu dan pemahaman agama yang baik

Jihad hendaknya dilakukan dengan penuh rahmat/kasih sayang dan lemah lembut karena jihad tidaklah disyariatkan untuk menyiksa jiwa atau menyakiti orang lain.

  • Jihad haruslah dipenuhi dengan keadilan dan jauh dari kedzoliman.
  • Haruslah bersama imam kaum muslimin atau dengan seizinnya baik pemimpin/imam tersebut orang yang baik ataupun fasik.
  • Jihad haruslah dapat mewujudkan kemaslahatan dan tidak mengakibatkan kemadhorotan yang lebih besar.
  • Kaidah tersebut harus dipenuhi dan ditekankan setiap poinnya, terutama poin ketiga dan poin keenam dimana ditegaskan berjihad tidak disyariatkan menyiksa jiwa atau menyakiti orang sesuai dengan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Artinya : Tidaklah kelemah lembutan ada pada sesuatu, melainkan dia akan memperindahnya, dan tidaklah kekerasan ada pada sesuatu melainkan dia akan merusaknya” [Hadits Riwayat Muslim]. Hadist tersebut menerangkan segala suatu kelemah lembutan akan memperindah sedangkan kekerasa akan merusak.
  • Poin keenam adalah tujuan dan pertimbangan dari perencanaan jihad apakah jihad yang akan dilakukan akan mewujudkan kemaslahatan dan tidak mengakibatkan kemadhrotan, jihad yang menimbulkan kemadhrotan pastinya akan menambah masalah dan menyimpang dari kaidah jihad maka jihad tersebut dapat dibilang tidak berhasil.

Kemanusiaan dan jihad dapat disatukan sertsa dapat dikolaborasikan tanpa mengurangi makna dari salah satunya, seorang muslim yang berniat untuk berjihad dapat memahami kaidah berjihad dan memahami juga makna kemanusiaan didapat perpaduan yang harmonis antara tercapainya jihad dan keuntungan kemanusiaan.

Contohnya seorang pedagang cina penganut agama islam, dia menyisihkan keuntungannya untuk membeli buku dan mainan edukatif lalu disumbangkan kepada korban panti asuhan agar penghuni panti asuhan semakin terasah otaknya dan dapat hidup mandiri kelak besar nanti. Dapat juga dengan kita menolong orang-orang yang tertindas, dan juga mengentaskan kemiskinan juga dapat disebut jihad. Jika kita memiliki ilmu agama yang baik dan sudah layak disebarluaskan maka dapat kita berdakwah keliling Indonesia, seperti itu dapat disebut berjihad.

Keberadaan islam di Indonesia ini adalah agama mayoritas dengan jumlah populasi 76 persen dari total populasi manusia di Indonesia, diantara populasi mayoritas tersebut terdapat juga islam minoritas yang jumlahnya tidak diketahui dengan pasti, meraka melancarkan tujuannya dengan dalil berjihad dijalan Allah tetapi menimbulkan masalah yang lebih besar, justu yang demikian tidak sesuai kaidah berjihad. 

Berjihad tidaklah tentang kekerasan, berperang, dan memusnahkan orang kafir. Berjihad juga dapat dilakukan dengan cara-cara halus dan tidak menimbulkan masalah yang selanjutnya, yang dilakukan atas dasar agama dan kemanusiaan.

Tidak seperti Amrozi dan teman-temannya yang berjihad dengan cara melakukan kejahatan kemanusiaan, sebaiknya berjihad harus sejajar dengan kemanusiaan dengan kita tolong menolong, kasih sayang, menghormati sesama lain, dan menuntut ilmu. 

Jika kita memiliki ilmu agama islam yang pantas berjihad dapat dilakukan dengan kita menyebarluaskan adama islam lewat lisan, dengan tutur kata yang baik maka islam dapat disebarluaskan dan dapat diterima tanpa adanya kekerasan.