Nasib maskapai utama kebanggaan tanah air, Garuda Indonesia, kini berada di ujung jarum. Kementerian BUMN melalui Rapat Kerja Menteri BUMN dengan komisi IV DPR beberapa waktu lalu, menegaskan bahwa secara teknis Garuda Indonesia telah bangkrut. 

Pernyataan itu disampaikan langsung oleh Wakil Menteri BUMN, Kartika Wirjoatmodjo.

Sejak lama sudah, maskapai ini merangkak terseok-seok semenjak pandemi COVID-19 merangsek dan tak kunjung usai hingga saat ini. 

Ibarat manusia yang mencoba bertahan hidup hari demi hari di tengah ketidakpastian ekonomi, Garuda terpaksa harus terus berutang hingga kini jumlahnya membengkak menjadi 9 miliar US Dollar atau setara Rp128 triliun.

Penderitaan Garuda menanggung utang demikian besar bahkan mengalahkan rekor utang tertinggi yang pernah dipegang oleh perusahaan Asuransi Jiwasraya, yaitu berkisar 2,8 miliar US Dollar. 

Menurut Wamen BUMN, langkah yang bisa diambil untuk menyelamatkan Garuda agar tetap mengudara adalah keputusan dari kreditor.

Apabila kreditor tidak melakukan haircut untuk menjaga keseimbangan ekuitas negatif, maka upaya restrukturisasi akan gagal dan Garuda berpotensi landing selamanya tanpa pernah take off kembali.

Tentunya, pemerintah tidak tinggal diam melihat nasib Garuda kian terpuruk, ditambah kondisi ekonomi juga masih terus bertahan dari ketidakstabilan. 

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati bahkan telah menyiapkan dana cadangan pembiayaan investasi sebesar Rp21,5 triliun di tahun 2022 mendatang, di mana Rp7,5 triliun dari dana itu akan digunakan untuk memberikan napas bantuan kepada Garuda.

Maskapai Besar yang Terpaksa Berutang Tiap Bulan 

Tentu bagi masyarakat awam, bangkrutnya Garuda menimbulkan tanda tanya besar. Maskapai ini adalah maskapai terbesar di Indonesia dan bahkan namanya harum hingga mancanegara. 

Berkali-kali Garuda juga masuk dalam daftar maskapai terbaik di seluruh dunia. Pelayanan yang baik hingga minimnya angka kecelakaan atau kerusakan pesawat menjadi nilai plus lainnya.

Tetapi apakah benar di balik polesan terbaik yang disuguhkan Garuda kepada masyarakat, manajemen di dalamnya sebenarnya carut marut?

Sudah sejak lama, potensi bangkrutnya maskapai ini sudah mencuat ke permukaan. Indikasi adanya korupsi sempat menjadi bahan pembicaraan dari waktu ke waktu. 

Puncaknya, ketika wabah COVID-19 dimulai, kepakan sayap Garuda semakin merendah. Dimulai dari banting harga tiket, hingga terus mengurangi rute penerbangan.

Lalu apa sebenarnya penyebab perusahaan  besar ini menukik tak terkendali hingga utangnya bertambah Rp1,5-2 triliun di tiap  bulannya?

Pertengahan tahun ini, Menteri BUMN Erick Thohir pernah mengungkapkan mahalnya harga sewa pesawat membuat Garuda Indonesia tekor. Diketahui bahwa Garuda menyewa pesawat dari 36 perusahaan sebagai imbas dari korupsi yang dilakukan manajemen Garuda dulu.

Korupsi menjadi akar atau biang masalah yang membuat maskapai kebanggaan negeri ini harus berada di dalam kondisi sekarat. Kendati korupsi yang terjadi dipastikan sudah berlalu sejak lama, tetapi dampak masifnya justru kian terasa di tahun-tahun belakangan, di tengah kondisi ekonomi Indonesia yang menurun akibat pandemi.

Sementara itu, skema yang pernah dibuat untuk mempertahankan kondisi sang maskapai adalah mengubah rute menjadi fokus ke rute domestik saja, yang pasarnya mencapai 78 persen. 

Pasalnya menurut Erick Thohir, mengutip dari idxchannel Juni 2021 lalu, pasar penerbangan internasional rupanya tidak memberikan keuntungan bagi keuangan Garuda, yakni berkisar 22 persen saja.

Hingga saat ini, negara melalui Kementerian BUMN terus melakukan negosiasi dengan pihak lessor, bank, Himbara, dan Pertamina untuk bisa meyakinkan para kreditor mengurangi pemberian utang demi memperpanjang umur Garuda.

Sudah Perlukah Ucapkan Sayonara?

Semenjak kabar bangkrutnya Garuda meluas, banyak pihak—tak terkecuali masyarakat, pesimis bahwa nyawa maskapai ini akan terselamatkan. Tidak pernah ada yang menduga kalau usia Garuda tidak akan panjang. 

Padahal sejak awal berdirinya, Garuda Indonesia, sesuai namanya, representasi dari burung mitologi kerajaan Nusantara yang gagah nan perkasa.

Nama Garuda Indonesia sendiri digunakan pada 21 Desember 1949 dan merupakan ide dari Presiden Soekarno. Sebelum menjadi pesawat komersil, Garuda tak lain adalah pesawat untuk kepentingan militer milik Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI) yang bernama Indonesia Airways.

Kemudian pada tahun 1950, Garuda bertumbuh menjadi perusahaan penerbangan dan terus tumbuh besar dan membanggakan hingga saat ini, sebelum dinyatakan technically bankrupt.

Take off pertama Garuda ke langit mancanegara dimulai pada tahun 1956, yaitu dengan membawa rombongan jemaah haji Indonesia ke Arab Saudi. Garuda menjadi pesawat pertama yang menjadi moda transportasi peralihan jemaah haji, yang tadinya menggunakan kapal berpindah haluan menggunakan pesawat.

Semenjak melepaskan diri dari AURI dan menjadi pesawat komersil, Garuda menjadi milik negara dan berada di bawah naungan Kementerian BUMN. Garuda Indonesia pun telah mengoperasikan 210 armada yang terdiri atas 142 pesawat untuk Garuda dan 68 pesawat untuk Citilink.

Pada masa-masa kejayaannya, salah satunya di tahun 2015, Garuda meraup keuntungan sekitar Rp1,075 triliun dan naik di tahun 2016 menjadi Rp124,5 triliun. 

Sayang, di tahun berikutnya, tepatnya di 2017 Garuda mulai terlihat oleng dan mengalami kerugian sedikit demi sedikit. Padahal, Garuda sudah melebarkan sayap dan memiliki anak perusahaan bernama Citilink.

Dengan kondisinya yang sudah bangkrut secara teknis, haruskah kita ucapkan sayonara kepada Garuda yang tengah terbang rendah di kepulauan Nusantara? (z)