Mahasiswa
2 bulan lalu · 30 view · 4 min baca menit baca · Politik 76805_50196.jpg

May Day dan Hal-hal yang Terlupakan

Hari Buruh Internasional atau May Day tidak lantas lahir tanpa dasar dan tanpa ruang makna. 

Tercetusnya istilah "May Day" bermula sejak abad ke-19 saat para buruh pabrik mengalami kondisi kerja yang amat buruk; antara jam kerja dan upah tidak sesuai. Dengan kodisi yang sedemikian, terjadilah protes besar-besaran dari kalanga buruh. 

Tercatat pada tahun 1886, sebanyak 300 ribu buruh dari 13 ribu menuntuk haknya sebagai pekerja dan manusia. Tindakan yang dilakukan sangat sederhana, yakni 'mogok kerja'. Meski sederhana, efek yang dilahirkan justru bikin macet produksi yang melahirkan berbagai macam kebutuhan manusia.

Aksi mogok kerja yang dilakukan para buruh kurang lebih berlangsung sampai 4 hari. Awalnya aksi tersebut berjalan dengan tertib dan damai. Namun, pada tanggal 3 Mei 1886, terjadi bentrok dengan aparat sehingga menewaskan 4 korban jiwa. 

Pasca itu, keadaan semakin gawat dan betul-betul darurat saat bom tiba-tiba meledak di tengah-tengah barisan masyarakat dan aparat. Ledakan bom tersebut setidaknya menewaskan 7 aparat dan 8 rakyat sipil.


Dari cerita di atas, kita semua, khususnya mahasiswa, paling tidak mengambil pelajaran terlebih dahulu dari sejarah May Day sebelum turun ke jalan, teriak-teriak di balik macetnya jalan. Kita semua dapat menyimpulkan bahwa tercetusnya istilah "May Day" yang kemudian diperingati hingga saat ini, ada ratusan ribu jiwa terancam kesejahteraannya, kemerdekaan, kesehatannya demi pekerjaan.

Peringatan May Day saat ini seolah telah menjadi rutinitas. Pasti setiap 1 Mei, baik kalangan buruh maupun mahasiswa menggelar aksi demonstrasi. Meskipun terkadang aksi tersebut hanya terkabar, bentrok, menyisakan vandal, pembakaran, dan seterusnya.

Penulis sendiri termasuk orang yang sering kali terlibat dalam peringatan May Day. Namun, apa yang terjadi pasca demomstrasi yang tersiar bukan isi protes atau tutuntan, melainkan bentrok, kerusuhan, kemacetan, dan seterusnya. Alhasil, saat ini peringatan May Day seolah-olah hanya menimbulkan petaka.

Oleh karenanya, untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, ada baiknya kita semua yang masih memiliki empati kepada buruh dari berbagai lapisan tidak melupakan hal di bawah ini sebelum turun ke jalan dan melakukan protes sana-sini.

Kemanusiaan

Kekuatan massa (people power) untuk memprotes kebijakan memang dibutuhkan dalam negara demokrasi. Namun, kekuatan massa jangan sampai mengenyampingkan sisi kemanusiaan. Massa aksi adalah manusia, pun aparat juga manusia.

Untuk menjaga kedua belah pihak yang sering berbenturan ketika demonstrasi berlangsung, ada kalanya kita semua (massa aksi maupun aparat) mengembalikan sisi kemanusiaannya pada diri masing-masing. Cukuplah penindasan dan sikap represif itu terjadi zaman bapaknya Mbak Titiek, eh, Orde Baru. Cukup seorang buruh Arloji di Jawa Timur, Marsinah, sebagai saksi bisu kekerasan aparat terhadap massa aksi.

Tak hanya kekejaman aparat dalam menangani demonstrasi, masing-masing dari massa aksi pun harus memanusiakan diri sendiri sebelum teriak keadilan dan kesejahteraan. Demonstrasi bagian dari fasilitas demokrasi yang dijamin konstitusi, mari kita nikmati bersama tanpa korban jiwa maupun psikis dari keduanya.

Jangan Buang Sampah Sembarangan


Setiap kegiatan, apa pun bentuknya, pasti meninggalkan jejak, sekalipun berbentuk sampah. Keberadaan sampah usai peringatan May Day sangat menyedihkan dan tidak masuk akal.

Ratusan orang yang berkumpul dalam satu titik, dengan kebiasaan berbeda-beda, mestinya sadar bahwa kegiatan yang sedang diikuti adalah menuntut keadilan buruh, bukan buang sampah berjamaah. Hal ini dapat kita saksikan bersama pasca aksi May Day di depan Gedung Sate, Bandung.

Mestinya kita semua, khususnya yang terlibat dalam aksi May Day, menyadari bahwa sampah yang dibuang sembarangan ada kewajiban buruh lain yang harus dituntaskan. 

Coba kita pikir kembali. Kita menyuarakan hak-hak buruh. Tetapi, dengan adanya sampah yang dibuang sembarangan, secara tidak langsung kita telah memberikan pekerjaan kepada buruh pembersih jalan di hari libur. Padahal para buruh yang bekerja pada instansi pemerintah bagian kebersihan jalan juga libur pada 1 Mei.

Maka dari itu, aksi tersebut telah melahirkan kecacatan logika para demonstran, yang tidak memperhatikan jalannya aksi May Day sampai pada hal yang paling kecil.

Buruh Tani

Mayoritas tuntutan yang ada pada aksi May Day kali ini (2019) rata-rata berisi soal buruh pabrik, tenaga pendidik, dan aneka ragam pekerjaan lain yang berhubungan. Kita semua hampir lupa bahwa ada ketegori buruh di negeri ini yang tidak pernah mengenal hari libur dan jam kerja sekalipun.

Ya, kelompok yang masuk dalam ketagori ini adalah Buruh Tani. Mereka (Buruh Tani) tidak pernah mempersoalkan jam kerja, bahkan tidak terikat dengan UMR di negeri ini. Meski demikian, bukan berarti mereka tidak punya persoalan, justru persoalan mereka lebih dari sebatas jam kerja dan upah kerja. Tetapi kita semua lupa.

Persoalan yang sering kali terjadi pada petani kita adalah adanya mafia pasar yang tidak pernah kita lirik sebelumnya. Padahal peran mereka sangat menentukan terhadap harga-harga pasar, khususnya pasar kebutuhan pokok. 


Mafia dengan seenaknya sendiri bermain harga tanpa negosiasi, tanpa peraturan. Bahkan kebijakan pemerintah pun bisa dibeli oleh makhluk bernama Mafia ini.

Maka dari itu, jika diperbolehkan saya ingin mengusulkan bahwa untuk May Day tahun depan jangan lupakan Buruh Tani. Dan, yang paling penting, jangan lupakan ketiga hal di atas supaya aksi May Day yang digelar sesuai dengan harapan dan tujuannya.

Artikel Terkait