Akhir-akhir ini hujan selalu turun lebih awal, mendahului orang-orang beriman yang setiap saat senantiasa bangun sebelum mentari sempat menyapa bumi, hanya untuk shalat subuh. Menyembah Tuhannya berdasarkan keyakinan masing-masing. 

Hal itu sudah menjadi keyakinan kebanyakan orang, terutama di Indonesia. Sayangnya perilaku tersebut tidak berlaku sama terhadap semua orang, atas kondisi lingkungan dan dukungan dari struktur sosial. 

Beberapa memilih bersembunyi, memilih jadi atheis mesti hanya dalam hatinya sendiri.

Jauh di pelupuk mata, pada sebuah pulau kecil yang hanya dihuni oleh kurang lebih 250 ribu penduduk, dengan kondisi sosial ekonomi politik dan budaya yang beragam. Di tengah-tengahnya terdapat tragedi penuh misteri. Dalam sebuah rumah susun yang apik. 

Tinggal seorang perempuan cantik dengan tinggi kurang lebih 180 Cm, rambut kemerahan, bergelombang layaknya keturunan Belanda, tapi hidungnya yang mancung mengingatkan kita pada kompilasi Belanda dengan Thailand. 

Perempuan itu jelas bukan muslimah taat. Ia jarang memakai hijab. Bahkan nyaris tidak pernah.

Perempuan dengan imajinasi yang sedikit kacau, tentang manusia, alam dan bahkan Tuhan. Baginya, hidup ini rangkaian dari satu siklus berkesinambungan, kalau pun Tuhan ada. 

Maka kerusakan lingkungan dan penindasa manusia pasti tidak terjadi. Sebab manusia akan takut pada Tuhannya, sementara kebanyakan orang mengaku ber-Tuhan.

Terlepas dari itu. Satu-satunya yang sangat penting bagi perempuan tersebut adalah mawar, sebab rutinitasnya setiap minggu bersentuhan langsung, memangkas bunga mawar lalu mengamatinya baik-baik, dengan pertanyaan yang tak pernah selesai.

Setiap Jumat pagi, ia turun dari tangga rumahnya yang berlantai dua. Ia selalu teringat sebuah botol bening berukuran kecil di sudut ruang tamu, tempat segala penat selesai tanpa keputusan, tempat keheningan bersemedi, tempat segala gundah-gulana bersemayam jadi bisu.

Setangkai mawar dibawanya turun. Bunga yang semestinya diselipkan pada telinganya, justru ia menyimpan untuk orang-orang di sekelilingnya yang datang tanpa tujuan. 

Menurutnya setiap tamu yang datang, paling tidak, butuh dua hal: pertama, nilai estetika alami, selebihnya adalah bau dari mawar itu yang mewakili aroma tubuhnya.

Hitam pekat, namun tetap menawan, berduri. Sesekali ia membayangkan. Bagaimana mungkin mawar itu tumbuh di tempat gersang, dalam teras rumahnya di lantai atas. 

Sementara ia sangat yakin bunga semacam itu, langka dan bahkan mustahil ada, apalagi tumbuh di rumahnya yang penuh tanya, pun sunyi. 

Tapi ia tak banyak bertanya lebih mendalam pada benaknya, kepasrahan selalu ia pilih sebagai jalan tengah atas dilemanya. 

Tapi perihal bunga itu, ia tak mungkin membohongi pikiran dan nuraninya, kalau mawar hitam hanya ada di sebuah kampung terpencil di Turkey, bunga seperti itu hanya ada di Desa Hafelti, pikirnya. 

Ia serusaha melupakan, beralih ke pekerjaannya yang mulai membosankan. Lagi pula ayahnya yang tegas dan arogan sudah menikah lagi dengan perempuan keturunan bangsawan di luar sana. Ibunya meninggal sejak ia masih kecil. 

Sejak itu, ia mulai merasa asing, tak jarang ia menyadari kesibukannya, seperti pembantu tanpa gaji. Hal itulah membuatnya membisu, tak berani bertanya apa-apa, selain bertanya pada dirinya sendiri: "masih layakkah aku hidup?".

Seperti biasa, Ia menaruh bunga itu, atas keyakinannya. Mawar selalu menyimpulkan pertikaian batin dalam rumahnya, sebab itu. Setiap pekan ia menenangkan suasana, lewat cara yang romantis. 

Lama-lama, ia mulai suka bunga. Walau tindakannya tetap saja membosankan. Kini bukan hanya sekedar suka, tapi bahkan ia mulai meyakini kekuatan magic dari sebuah aroma dan nilai keindahan.

Bahwa sinopsis dari ketampanan laki-laki dan kecantikan perempuan terpaut pada alam ini, sehingga mencintai bunga adalah mencintai bagian manusia. 

Itulah kenapa ia berpikir untuk tetap menaruh bunga. Tapi ia juga risih, saat industri fashion mulai menjajaki kepala sebayanya. Sementara ia ingin agar segalanya berjalan sesuai kehendak kausalitas semesta.

Ia jadi teringat Gloria Swanson, perempuan tercantik dunia dimasanya, bila Gloria mampu memenangkan penghargaan Internasional hanya karena memerankan separuh dari 80 otot wajahnya sebagai presentasi hati dan logikanya, kenapa ia tidak bisa? Pikirnya. 

Tak berhenti perenungannya pada pemeran film bisu terbaik itu. Ia lanjut membayangkan Simon De Beauvoir. Tapi ia ingin menikah, sementara dikabarkan Simon hanya setia pada Sartre tanpa pernikahan. 

Namun, kisah mereka juga bahagia. Apakah pernikahan hanya jebakan semata untuk memuaskan nafsu yang dimanfaatkan oleh negara? Ia mulai bingung dalam simulasi di kepalanya sendiri.

Akhirnya ia memutuskan untuk tetap setia pada kebiasaannya, memetik bunga, membersihkan rumah dan meladeni tamu-tamu yang datang. 

Walau sangat memikat, ia pun licik saat membayangkan hal-hal tak terduga. Anggaplah bedebah itu adalah perempuan jalang yang menolak disebut manusia.

Semenjak ayah bersama ibu tirinya jarang pulang. Hanya tamu-tamu terhormat diladeninya, ia merasa semakin kehilangan akal sehat dan hanya bergerak layaknya mesin.

Sebagai seorang anak, dirinya harus berbakti. Bunuh diri bisa saja, tapi mungkin tak memberikan solusi, hidup semakin membuatnya tersiksa. Ia membujuk pikirannya untuk terus tabah dan berharap suatu saat nanti bisa menikah, paling tidak menjadi mawar merah lalu bahagi sebagai sepasang keindahan.