Ketika ada acara maulid di desa, Ibu termasuk orang yang paling bahagia. Beserta jama’ah dibaiyyah ibu-ibu rutinan malam kamis, beliau membuat acara maulid semeriah mungkin.

Selama satu tahun, Ibu sengaja mengumpulkan uang koin. Uang koin ditabung dalam wadah toples dan sebagian yang lain dimuat ke dalam plastik lalu dibakar setiap tepinya hingga membentuk rentengan panjang.

Nantinya, uang itu disebar ke penjuru musholla saat prosesi mahalul qiyam berlangsung. Biasanya, para jama’ah yang terdiri dari ibu-ibu, mbah-mbah, dan anak-anak saling berebut uang koin itu.e

Mereka tertawa dan larut dalam gegap gempita acara maulid. Sementara Ibu, tidak dapat menyembunyikan raut wajah bahagia sambil berdiri memegang mikrofon dan kitab barzanji.

Momen maulid di desa selalu Ibu ceritakan kepadaku, ketika aku kebetulan pulang kampung atau via telepon. Ibu akan bercerita kejadian yang menurut beliau lucu.

Bagaimana para ibu-ibu yang sudah tua dan ibu-ibu yang masih muda berebut koin dengan anak-anak. Dari suara dan wajah Ibu, menggambarkan betapa indah dan meriahnya suasana acara maulid di desa.

Acara maulid adalah puncak dari acara dibaiyyah rutinan malam kamis ibu-ibu. Setiap minggunya, acara dibaiyyah digelar rutin bergiliran antara rumah satu ke rumah yang lainnya. 

Ibu biasanya bertugas memimpin do’a atau terkadang juga membaca maqro' diba’. Bahkan, di hp nokia miliknya banyak rekaman suara Ibu membaca sholawat dari lirik ya robbi sholli, ya rasullah salam ‘alaika hingga ya nabi salam ‘alaika. Kemerduan suara Ibu telah terlatih sedari muda lewat belajar tilawah.

Bagi Ibu, acara maulid adalah acara terfavoritnya. Hanya Ketika bulan ramadan saja, jama’ah dibaiyyah ibu-ibu berhenti sementara.

Ibu mempunyai banyak kitab barzanji di rumah. Kecintaan akan maulid yang hampir digelar setiap minggu terkadang tidak cukup. 

Ibu dan para jama’ah lain mempunyai rutinan bulanan keliling antar desa. Bukan lain tujuannya hanyalah menggelar acara maulid sesering mungkin. 

Walaupun jarak antar desa yang ditempuh memakan waktu hingga dua jam ke pelosok hutan di desa-desa transmigrasi tapi tidak pernah ada kata lelah dan bosan terucap dari bibir Ibu.

Ibu juga bercerita, selepas pengajian, mobil pickup yang dinaikinya mogok. Jama'ah dibaiyyah ibu-ibu turun bersama-sama mendorong mobil hingga baju putih yang Ibu kenakan kotor kecipratan lumpur dan tanah liat.

Ibu menceritakannya  sambil tertawa renyah. Ibu mempunyai mimpi, membeli mobil pickup hanya untuk keliling pengajian dibaiyyah antar desa. Supaya jama’ah yang lain tidak menyewa lagi jika ingin berpergian bersama-sama.

Mimpi itu selalu Ibu tunda, mengingat masih banyak biaya yang menjadi tanggungan Ibu, biaya pendidikanku dan adik-adikku.

Menurut Ibu, berkumpul dalam acara dibaiyyah adalah salah satu cara Ibu untuk mendapatkan ketenangan dan hiburan. Ibu dapat berbincang dengan sesama ibu-ibu yang lain. 

Acara maulid seakan menjelma menjadi bagian dari ruh Ibu. Kecintaan akan acara keagamaan di desa, Ibu dapatkan dari kedua orang tuanya yang berprofesi sebagai guru ngaji langgar dan pedagang kain.

Ibu telah diajarkan perihal agama dari kedua orang tuanya. Pernah, aku dites oleh Ibu tentang kosa kata bahasa arab. Padahal, setahuku Ibu tidak selesai sekolahnya. Dengan tersenyum, Ibu berkata, Ibu hafal kosa kata bahasa arab.

Kecintaan akan maulid nabi telah Ibu bawa hingga wafat. Tahun 2021 menjadi tahun tanpa cerita Ibu yang begitu antusias tentang acara maulid di desa.

Tentang koin yang telah dikumpulkannya, tentang anak-anak dan ibu-ibu yang saling berebut. Tentang pengajian ke desa lain yang selalu menyimpan cerita baru setiap bulannya. 

Semua cerita itu tidak akan ku dengar lagi dari suaranya. Hanya ingatan dan rekaman suara yang terngiang di telinga. Seolah Ibu masih ada.

Tepat empat puluh hari sebelum Ibu meninggal dunia, Ibu mengunjungiku. Tidak ada tanda-tanda akan kepergiannya. Hanya saja, tatapan Ibu menjadi kosong sesekali. 

Ketika ku bercerita tentang mimpi masa depan, Ibu hanya mengangguk pelan. Namun setelah itu, Ibu kembali seperti sedia kala, Ibu yang ceria ketika bertemu anak, menantu, dan cucunya.

Ibu masih sempat cerita tentang rutinan dibaiyyah di desa. Meskipun terkadang cerita ibu berulang-ulang. Bagiku, tidak tampak sama sekali tanda perpisahan itu.

Seminggu sebelum meninggal, Ibu sempat telepon, kangen dengan menantu dan cucunya. Ibu juga bercerita ada pembeli yang mengeluh kehilangan penciuman. 

Tetapi, kondisi Ibu baik-baik saja. Aku menyarankan agar menutup toko. Ibu bersikeras untuk tetap membuka toko. Kalau ditutup tokonya, nanti orang-orang mau belanja dimana? dalihnya.

Tidak lama berselang, Bapak sakit. Ibu yang merawat Bapak. Hanya menghitung hari ibu juga sakit. Batuk dan sesak napas. Pada saat itu, Ibu dan Bapak meminum obat herbal tradisional dan berobat ke bidan desa. 

Kata bidan desa Ibu hanyalah terkena gejala malaria. Sedangkan Bapak disebabkan kecapekan sebab aktifitas di ladang.

Saat itu, aku hanya bisa menghibur Ibu lewat telepon, meskipun kondisi Ibu semakin memburuk setiap harinya. Ku janjikan aku akan pulang bersama istri dan anak jika Ibu dan Bapak sembuh.

Namun takdir berkata lain, kondisi Ibu semakin memburuk. Ibu dibawa ke rumah sakit oleh adik dan tetanggaku. Sesampainya di rumah sakit Ibu di swab antigen dan hasilnya positif. 

Setelah dinyatakan positif, kondisi Ibu justru membaik. Ibu mulai mau makan dan berjalan. Ibu pun meminta untuk dirawat di rumah saja.

Tetapi, menjelang malam nafas Ibu sudah mulai tidak stabil. Selepas maghrib, Ibu dibawa ke rumah sakit kembali. Dua belas jam kemudian Ibu wafat.

Sementara aku sedang perjalanan pulang. Sepanjang jalan hanya do’a yang bisa ku panjatkan. Memori masa kecil hadir kembali dalam cuplikan-cuplikan pendek dan panjang. 

Ingatan wajah ibu silih berganti hingga perjalanan 13 jam di darat seperti tidak terasa. Entah jalan berliku-liku, menanjak dan menurun sudah tidak mampu membuat perutku mual. Sepanjang jalan hanya yang terucap “Ibu, ya Allah Ibuku”.  

Pukul 1 malam aku tiba. Ibu masih di rawat di UGD tidak boleh masuk mengunjunginya. Seluruh keluargaku di isolasi mandiri. 

Ibu sendiri di rumah sakit. Aku berniat langsung ke rumah sakit. Tapi percuma saja nanti tidak bisa masuk. Kuputuskan pulang ke rumah. Melihat kondisi Bapak.

Bapak seperti sudah tidak ada semangat, aku mencium tangan bapak, hawa hangat akibat panas demam langsung terasa. Aku melihat Bapak yang semula gagah kini lemas duduk di ruang tamu tidak bisa tidur.

Aku diminta tidur oleh Bapak agar besok pagi bisa langsung ke rumah sakit. Jam 2 malam pun ku tertidur. Pukul 4 subuh adikku laki-laki terbangun.  Memberitahuku baru saja dihubungi pihak rumah sakit. 

Tanpa pikir Panjang aku bergegas ke rumah sakit. Dan berita duka itu akhirnya menghampiriku. Ketakutan kehilangan Ibu yang dari kecil aku alami kini benar-benar terjadi.

Semoga Ibu selalu dalam kasih sayang dan samudra ampunan Allah.